Keluhan keterbatasan alat kesehatan dan dokter spesialis di Simeulue, Aceh, mencuat dalam peringatan World Cancer Day 2026 di South Quarter Dome, Jakarta Selatan, Rabu (4/2). Melalui konferensi online, dokter di RSUD Simeulue menyampaikan sulitnya layanan diagnostik kanker akibat minimnya fasilitas, alat kesehatan, serta kendala transportasi laut yang hanya beroperasi dua kali seminggu.
"Kita mohon bantuan dan support juga untuk alkes-alkes kami di rumah sakit ini, Pak di daerah kepulauan dan tenaga spesialis. Kami di daerah kepulauan, transportasi kami juga sulit, Pak menjangkau daratan. Jadi di sini kami hanya bisa ke daerah Aceh dan itu dengan batas dua kali dalam seminggu," ujarnya pada Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Dokter tersebut menyebut jumlah pasien kanker cukup banyak, namun pemeriksaan Patologi Anatomi tidak dapat dilakukan di daerah. Sampel pemeriksaan bahkan harus dibawa sendiri ke luar daerah, yang semakin menyulitkan proses diagnosis.
“Sebenarnya untuk pasien kanker kita di sini lumayan banyak angkanya, tetapi untuk diagnostik seperti Patologi Anatomi tidak bisa kita lakukan. Sehingga kita ke Banda Aceh. Yang artinya ketika dilakukan di pulau, pasien harus membawa blok paraffin-nya sendiri di sana. Mungkin itu salah satu hal yang bisa dibantu,” sambung dia.
Kata MenkesMerespons hal itu, Budi memastikan seluruh 514 kabupaten dan kota di Indonesia, termasuk rumah sakit di Simeulue, Aceh, akan mendapatkan alat kesehatan untuk diagnostik dan terapi kanker mulai tahun ini.
“Jadi mungkin mulai tahun ini, seluruh 514 kabupaten kota, termasuk rumah sakit di Simeulue, akan mendapatkan alat-alat kesehatan untuk diagnostik dan teraputik kanker,” kata dia.
Ia menjelaskan, alat yang akan dibagikan mencakup sarana skrining, deteksi dini, hingga tata laksana kanker. Salah satunya adalah mamografi.
“Itu seluruh rumah sakit di kabupaten kota, (masing-masing) satu ya, akan dapat mamografi,” tutur Budi.
Selain itu, rumah sakit daerah juga akan dilengkapi dengan X-ray untuk pemeriksaan paru, serta CT scan dosis rendah (low dose CT scan) guna mendeteksi dini kanker paru.
“Akan dapat apa lagi? Akan dapat laboratorium Patologi Anatomi yang standarnya immunohistochemistry ya. Jadi akan dapat tuh semuanya agar bisa biopsi, cek kankernya apa,” lanjut Budi.
Untuk mendukung tindakan medis lanjutan, Kementerian Kesehatan juga akan membagikan alat laparoskopi agar operasi kanker dapat dilakukan di daerah dengan waktu pemulihan yang lebih cepat. Layanan kemoterapi pun akan didistribusikan ke seluruh kabupaten dan kota.
Program pemerataan layanan kanker ini ditargetkan rampung pada 2027. Dengan tersedianya fasilitas tersebut, Budi berharap pasien tidak perlu lagi dirujuk ke rumah sakit di kota besar.
“Sekarang enggak usah dirujuk lagi. Kalau bisa tidak usah di-refer. Kita bisa treat di lokasi yang bersangkutan, diselesaikan di masing-masing kabupaten kota,” kata dia.
Namun demikian, Budi mengakui tantangan terbesar saat ini adalah keterbatasan jumlah dokter spesialis, terutama spesialis Patologi Anatomi yang jumlahnya masih sangat sedikit di Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah tengah menyiapkan sistem pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit.
“Yang saya masih sangat kurang adalah dokternya ya. Tadi dibilang Patologi Anatomi dibutuhkan, spesialis Patologi Anatomi di Indonesia very few ya, sangat sedikit,” ucapnya.
“Jadi sekarang ini kita membikin sistem pendidikan spesialis yang berbasis rumah sakit. Sistem ini akan kita bikin dengan memprioritaskan dokter-dokter umum dari daerah-daerah yang tidak punya dokter spesialis tersebut,” imbuh Budi.
Melalui skema tersebut, dokter umum dari daerah dapat menempuh pendidikan spesialis tanpa biaya kuliah, sehingga diharapkan mampu mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di daerah, khususnya wilayah timur Indonesia.
“Sehingga terjadi akselerasi bagi putra-putri asli daerah, tidak harus bayar uang kuliah sepeser pun untuk bisa menjadi dokter spesialis. Dengan demikian nanti bisa melayani masyarakatnya. Kalau enggak, kasihan. Masyarakat kita meninggal karena tidak ada dokter spesialisnya. Terutama di daerah-daerah Timur,” pungkas Budi.





