Ahli BRIN: Proyek Giant Sea Wall Membebani Tanah, Berpotensi Tenggelamkan Pesisir Jawa

idxchannel.com
8 jam lalu
Cover Berita

Ahli BRIN mengungkapkan kekhawatiranya terhadap ancaman tenggelamnya kawasan Pantura akibat proyek Giant Sea Wall.

Ahli BRIN: Proyek Giant Sea Wall Membebani Tanah, Berpotensi Tenggelamkan Pesisir Jawa. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Prof. Dr. Ir. Eddy Hermawan mengungkapkan kekhawatiranya terhadap ancaman tenggelamnya kawasan pesisir (coastal area) Pulau Jawa, khususnya wilayah Pantai Utara Jawa atau Pantura.

Ia mengatakan pembangunan dinding laut raksasa (giant sea wall) yang dicanangkan pemerintah pusat dinilai terlalu membebani tanah. Menurut dia, ada pendekatan alami yang lebih realistis terkait ancaman tenggelamnya kawasan pesisir.

Baca Juga:
Pramono Sebut Pembangunan Giant Sea Wall Dilanjutkan 2026

"Saya akan fokus kepada bagaimana menyelamatkan saudara-saudara kita yang ada di sekitar coastal area, pantai, jangan gunakan giant wall. Karena itu beratnya minta ampun. Dia akan menenggelamkan,” kata Eddy, Rabu (4/2/2026).

Dia pun menyebut konsep utama membenahi pesisir Jawa seharusnya dengan cara mengembalikan fungsi alam melalui sistem main loop dan pemecah gelombang alami.

Baca Juga:
Proyek Giant Sea Wall Jadi Sorotan Dunia, Swasembada Pangan Dikebut Tahun Ini

Seperti menggunakan hutan mangrove sebagai penyangga (buffer) di mana energi besar dari laut tidak langsung menghantam daratan, melainkan diredam secara bertahap melalui sistem vegetasi yang berlapis.

"Jadi gimana? Back to natural. Gimana caranya? Bikin main loop dengan lipat-lipat-lipat. Jadi bagaimana ini si gelombang yang begitu besar kita pecahkan itu, supaya habis. Jadi kita pasang mangrove, sebagai buffer itu ya,” ucap dia.

Baca Juga:
Proyek Giant Sea Wall Ditargetkan Groundbreaking September 2026

Selain itu, faktor keselamatan penduduk menjadi prioritas melalui langkah relokasi yang terukur. Ia mengusulkan, agar penduduk yang tinggal terlalu dekat dengan bibir pantai akan dipindahkan ke area yang lebih tinggi dan berjarak setidaknya 500 meter dari pantai, guna meminimalkan resiko terjangan tsunami atau rob.

"Kita pindahkan penduduk itu 500 meter, jangan dekat pantai. Ketika mereka dipindahkan, naikkan tinggi mereka. Tempat tinggalnya itu. Sudah jauh dari pantai, kita naikkan,” ungkap Eddy.

Eddy menilai, pendekatan alami ini lebih masuk akal mengingat tidak ada teknologi yang mampu menghentikan mencairnya es di kutub secara instan. Pembangunan yang terlalu masif, seperti deretan hotel di wilayah Semarang, justru memperparah kondisi karena penyedotan air tanah yang berlebihan dan penurunan muka tanah (subsidence) yang sudah mencapai titik mengkhawatirkan.

"Teknologi mana yang bisa mencegah supaya es di kutub tidak mencair? Enggak bisa. Artinya, back to natural. Itu teknologi tidak buang gede, lebih natural, lebih realistis. Karena bayangkan ya, dari mulai Pantura itu hotel-hotel dominan terutama di Semarang. Daya untuk menyedot dan subsidensinya itu sudah no limit,” kata dia.

Maka dari itu, sinergi antara pemecah gelombang alami, pemindahan penduduk ke lokasi yang lebih tinggi, dan penghentian eksploitasi lahan di pesisir merupakan kunci keamanan jangka panjang. 

Hal ini dinilai lebih efektif dan efisien dibandingkan membangun struktur beton yang justru menambah beban bagi tanah pesisir yang kian rapuh.

"Pindahkan mereka, bikin yang lebih tinggi, insyaallah aman. Itu teknologi tidak buang gede, lebih natural, lebih realistis,” kata Eddy.

(Febrina Ratna Iskana)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kasus Anak SD di NTT, Mensos Dorong Penguatan Pendampingan Sosial
• 16 jam laludisway.id
thumb
BPTD Sultra dan KSOP Kendari perketat aturan STID truk kontainer
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Efek Pengumuman MSCI Merembet ke Pasar Obligasi, Lelang SUN Sepi Peminat
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Suasana Kantor Pajak Banjarmasin Usai OTT KPK
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Jakarta Hujan Deras Siang Ini, Jalan DI Pandjaitan Banjir 50 Cm
• 19 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.