Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena ledakan Matahari terjadi pada awal Februari. Pusat tata surya itu tercatat melepaskan empat ledakan dalam waktu singkat. Lalu apa dampaknya untuk Bumi?
Mungkin bagi sebagian orang, tidak ada dampak apapun kejadian tersebut. Mengingat jaraknya juga sangat jauh dari Bumi.
Namun jika berbicara soal dampak, salah satunya adalah kemungkinan peningkatan peristiwa partikel berenergi tinggi. Selain itu juga bisa muncul pelepasan massa koronal atau CME.
- Alert! 2 Ledakan Dahsyat Guncang Iran, Khamenei Teriak Perang Regional
- Api Perang Saudara Berkobar, Serangan Drone Guncang Bandara Penting
Vice menuliskan CME dapat menyebabkan badai geomagnetik saat mengarah ke Bumi. Salah satu pertandanya adalah munculnya aurora di wilayah kutub Bumi.
Selain itu dapat mengganggu satelit, sinyal GPS, komunikasi radio. Paling ekstrem adalah mengganggu sistem power yang berada di darat.
Empat ledakan Matahari terjadi sejak tanggal 1 Februari lalu dan berlangsung dalam waktu 20 jam saja.
Salah satu yang paling menonjol adalah X8.1. Matahari melepaskan suar tersebut pada 23:37 UTC tanggal 2 Februari 2026 (6:37 WIB pada 3 Februari 2026).
Pusat Prediksi Cuaca Angkasa Amerika Serikat (AS), NOAA menyebut suar itu sebagai yang terkuat yang pernah tercatat serta sejak Oktober 2024 lalu.
Keempat ledakan itu berasal dari lokasi bintik Matahari yang sama, yakni RGN 4366. Lokasi itu menghadap Bumi secara langsung saat kejadian.
(fab/fab)


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F02%2F04%2F61a8512de17d2f2bf9501027f1db3368-cropped_image.jpg)

