Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi) menyatakan masih bersikap wait and see terhadap dinamika penerapan tarif resiprokal yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump terhadap Indonesia sebesar 19%.
Wakil Ketua Umum II Asephi Baby Jurmawati Djuri menyatakan bahwa ketidakpastian Tarif Trump berdampak besar terhadap pelaku usaha kriya, baik dari sisi permintaan maupun penawaran.
“Besar [dampak tarif Trump], terutama yang sudah punya order ya. Jadi mereka menunggu juga, wait and see. Supplier mereka juga wait and see,” kata Baby saat ditemui Bisnis di sela-sela acara Inacraft 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Dia menjelaskan, situasi tersebut banyak berdampak terhadap pengusaha dan eksportir kerajinan kayu hingga dekorasi rumah.
Menurutnya, produsen kerajinan dalam negeri memilih menunda transaksi mengingat keadaan yang belum pasti, sehingga menyebabkan pergerakan pasar ke Negeri Paman Sam menjadi stagnan.
Sembari menantikan kondisi geopolitik tersebut mereda, Baby menyebut para pelaku usaha kriya membidik perluasan pasar di luar AS.
Baca Juga
- Ekspor Mebel dan Kerajinan RI Berisiko Tersengat Tarif Trump 25%
- Inacraft 2026 Bidik Transaksi Rp102,5 Miliar & Kontrak Dagang US$1,5 Juta
- Pemerintah Targetkan Pembahasan Tarif Trump Rampung Pertengahan Februari
Menurutnya, anggota Asephi saat ini banyak menargetkan pasar baru di kawasan Eropa, Afrika, hingga Timur Tengah dan Asia Pasifik yang dinilai memiliki prospek bagus.
Ketika ditanya perihal harapan asosiasi terhadap upaya pemerintah yang melakukan negosiasi ulang dengan AS, Baby mengaku tak berharap banyak. Menurutnya, pelaku usah kriya akan melanjutkan upaya perluasan pasar di luar AS.
“Minimal sama [tarif 19%], tetapi itu impossible ya. Kami tahun lalu sempat rakor mengundang Kementerian Perdagangan terkait tarif itu, cuma sekarang kan kondisinya ternyata lebih parah begitu, ya. Akhirnya teman-teman itu cenderung mencari pasar baru,” ujar Baby.
Berdasarkan catatan Bisnis, Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian mengungkap terdapat sejumlah komoditas andalan ekspor dari Indonesia ke AS yang berhasil dinegosiasikan dengan optimal dengan pihak United States Trade Representative (USTR).
Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan bahwa negosiasi dengan AS terkait dengan tarif impor itu sudah tuntas dan tinggal ditutup dengan pertemuan antara kedua pimpinan negara, yakni Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump.
Pada Sabtu (24/1/2026), dia menyebut hasil negosiasi tarif antara RI dan AS membuahkan hasil, salah satunya terkait sejumlah komoditas andalan ekspor RI ke AS.
"Nanti akan ada sedikit surprise beberapa komoditas yang ekspornya tinggi sekali ke Amerika, kami berhasil menegosiasikan sangat optimal dan menjadi pendorong ekonomi kita di quarter 1 di tahun 2026," terangnya pada acara Peringatan 2 Dekade Asosiasi Perusahaan Jalur Prioritas (APJP) di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (29/1/2026).




