Chief Executive Officer (CEO) Nvidia, Jensen Huang menepis kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan menggantikan software dan berbagai alat digital yang ada saat ini.
Dikutip dari Reuters, Ia menyebut anggapan tersebut sebagai sesuatu yang tidak logis, ia menilai kekhawatiran bahwa akal imitasi akan membuat perusahaan software menjadi tidak relevan adalah keliru. AI menurutnya justru akan terus bergantung pada software yang sudah ada, bukan membangun ulang alat-alat dasar dari nol.
Baca Juga: Wamenkomdigi Nezar Patria Sebut AI Adalah Alat Bantu, Bukan Tempat Bergantung
“Ada anggapan bahwa alat-alat dalam industri software sedang mengalami kemunduran dan akan digantikan oleh AI. Itu adalah hal paling tidak logis di dunia, dan waktu akan membuktikannya,” kata Huang.
Ia menambahkan bahwa baik manusia maupun sistem akal imitasi akan selalu memilih menggunakan alat yang sudah ada dibandingkan menciptakan ulang alat tersebut.
“Jika kita manusia atau robot, termasuk kecerdasan buatan dan robotika umum, apakah kita akan menggunakan alat atau menciptakan ulang alat? Jawabannya jelas: menggunakan alat,” ujarnya.
Menurut Huang, hal tersebut menjelaskan mengapa terobosan terbaru dalam akal imtasi justru berfokus pada kemampuan tool use atau penggunaan alat. Alat-alat tersebut memang dirancang secara eksplisit untuk membantu manusia maupun sistem akal imitasi bekerja lebih efektif.
Sebelumnya Anthropic mengumumkan chatbot terbarunya, yang membuat pasar khawatir soal potensi disrupsi berbasis akal imitasi dalam sektor data, layanan profesional dan industri software.
Baca Juga: Perkuat Keamanan AI, F5 Hadirkan Perlindungan Runtime End-to-End Pertama di Industri
Pernyataan Huang muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar bahwa perkembangan akal imitasi generatif dapat menekan model bisnis perusahaan software tradisional. Kehawatiran itu sendiri menyebabkan aksi jual besar-besaran saham perusahaan software global pada pekan ini.




