Bisnis.com, JAKARTA - Nilai pasar mata uang kripto mengalami penurunan tajam dalam sepekan terakhir seiring berlanjutnya aksi jual yang dipimpin oleh Bitcoin. Hampir setengah triliun dolar telah lenyap dari mata uang kripto dalam waktu kurang dari seminggu karena aksi jual besar-besaran atas stablecoin Bitcoin Cs semakin cepat.
Berdasarkan data CoinGecko, total kapitalisasi pasar kripto telah merosot sebesar US$467,6 miliar sejak 29 Januari atau dalam rupiah menguap Rp2.857 triliun. Tekanan jual ini mendorong harga Bitcoin turun ke level terendah sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump memenangkan pemilihan kembali pada awal November 2024, yang sebelumnya sempat memicu ekspektasi kebijakan pemerintah AS yang lebih ramah terhadap aset kripto.
Bitcoin sempat menyentuh level terendah 15 bulan di kisaran US$ 72.877 pada perdagangan di AS. Namun, pada Rabu malam waktu Indonesia, aset kripto terbesar tersebut kembali menguat dan diperdagangkan di sekitar US$ 74.800 pada Rabu, pukul 10.13 pagi waktu New York.
Sementara itu, pada perdagangan hari ini, Kamis, 5 Februari 2026, Bitcoin anjlok lebih dalam ke level US$72.323,04 per keping. Nilai ini setara dengan penurunan 0,43% dibandingkan penutupan atau melemah US$304,09 setiap kepingnya.
Meski didukung sikap Gedung Putih yang pro-kripto dan meningkatnya adopsi institusional, harga Bitcoin tercatat telah anjlok sekitar 40% sejak mencapai rekor tertinggi pada awal Oktober. Penurunan tersebut dipicu oleh rangkaian likuidasi besar pada 10 Oktober yang menghapus posisi token senilai sekitar US$19 miliar.
Kepala analis pasar FxPro Alex Kuptsikevich menilai pola pergerakan harga masih menunjukkan dominasi tekanan jual. “Meskipun terjadi sedikit pemulihan sejak awal hari Rabu, rangkaian titik tertinggi dan terendah lokal yang lebih rendah menunjukkan bahwa aksi jual saat harga naik masih dominan di pasar,” ujarnya dikutip dari Bloomberg.
Baca Juga
- Bareskrim Usut MINA, PADI Hingga PIPA, Begini Reaksi Bos Bursa Efek Indonesia (BEI)
- Profil Emiten MINA dan PADI yang Terseret Pengusutan Goreng Saham Bareskrim, Dominan Milik Hapsoro
- Investasi Emas Menurut Sandiaga Uno, Begini Petuah Crazy Rich Pemilik SRTG
Keraguan Bitcoin Sebagai Emas Digital
Tekanan di pasar kripto juga terjadi di tengah gejolak pasar global yang turut memengaruhi harga emas dan perak. Jika logam mulia kembali menemukan pembeli setelah sempat melemah, aset kripto justru gagal menarik minat sebagai instrumen lindung nilai. Bitcoin dan saham AS melemah seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang mendorong investor beralih ke aset aman.
Kondisi tersebut kembali memunculkan keraguan atas narasi Bitcoin sebagai 'emas digital'. Investor Michael Burry menilai Bitcoin belum menunjukkan fungsi sebagai aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan justru memperlihatkan karakter sebagai aset spekulatif.
Analis Deutsche Bank dalam laporannya menyebut pergerakan harga terbaru menandai berakhirnya fase spekulatif ekstrem di pasar kripto. Bank tersebut menilai aksi jual besar-besaran mencerminkan kombinasi sikap hawkish bank sentral AS, arus keluar dana institusional, menipisnya likuiditas, serta melambatnya momentum regulasi.
Dalam 24 jam terakhir, likuidasi posisi bullish dan bearish di pasar perpetual futures kripto tercatat melampaui US$700 juta. Secara kumulatif, nilai likuidasi sejak 29 Januari telah mencapai lebih dari US$6,67 miliar, berdasarkan data CoinGlass.
Sementara itu, arus dana pada ETF Bitcoin yang terdaftar di AS masih berfluktuasi. Setelah mencatat arus masuk bersih sekitar US$562 juta pada Senin, investor justru menarik dana sekitar US$272 juta pada Selasa.
CEO Galaxy Digital LP Michael Novogratz menilai perubahan sentimen investor turut berperan dalam tekanan pasar. Ia menyebut keyakinan untuk terus memegang Bitcoin dalam segala kondisi mulai melemah, yang kemudian memicu aksi jual di pasar.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5492453/original/041400600_1770175032-1000105845.jpg)

