Ramalan Todd, Skandal Epstein, dan Barat yang Tengah Kalah

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Emmanuel Todd bukan cenayang. Pada akhir 1970-an—ketika Uni Soviet tampak tak tergoyahkan—ia justru menyimpulkan bahwa negara adidaya itu akan runtuh.

Dasarnya bukan spekulasi ideologis, apalagi bisikan mistis, melainkan indikator demografis dan sosial yang jarang dijadikan unit analisis: angka kematian bayi, stagnasi pendidikan, dan rapuhnya struktur keluarga. Todd dicemooh.

Namun, sejarah kemudian membuktikan bahwa keruntuhan Soviet memang bukan datang dari serangan luar, melainkan dari kelelahan internal yang lama diabaikan.

Latar inilah yang membuat karya mutakhirnya, La Défaite de l’Occident (Kekalahan Barat), layak dibaca sebagai peringatan. Todd kembali mengarahkan pisau analisisnya ke Barat itu sendiri.

Menariknya, buku ini hanya beredar dalam bahasa Prancis dan belum diterbitkan dalam bahasa Inggris. Dalam dunia intelektual yang dikendalikan bahasa Inggris, absennya terjemahan ini terasa sebagai bentuk pengucilan halus terhadap kritik yang terlalu telanjang.

Tesis Todd sederhana, tapi mengguncang: Barat sedang kalah. Bukan kalah perang, melainkan jatuh secara struktural dan moral. Basis produksi melemah, kohesi sosial rapuh, dan legitimasi etis terkikis.

Bagi Todd, peristiwa penting, seperti Perang Ukraina, bukan sebab utama, melainkan etalase yang menyingkap krisis itu. Saat sanksi ekonomi dijadikan senjata utama, tampaklah betapa Barat lebih bertumpu pada dominasi finansial ketimbang kapasitas produksi riil.

Lebih jauh, Amerika Serikat digambarkan sebagai masyarakat pasca-industri yang kehilangan relasi organik antara kerja, nilai, dan makna sosial. Pergeseran dari kapitalisme produktif ke kapitalisme finansial membuat akumulasi kekayaan bertumpu pada spekulasi aset, ekspansi utang, dan dominasi mata uang global, bukan pada produksi riil.

Proses deindustrialisasi yang meluas—terutama di wilayah Midwest dan ketergantungan pada sektor keuangan menunjukkan bagaimana kerja semakin terlepas dari fungsi integratifnya dalam masyarakat.

Dalam kondisi ini, kerja bukan lagi menjadi sumber stabilitas sosial dan legitimasi politik, sehingga demokrasi bertahan secara prosedural, tetapi rapuh secara material dan sosial. Polarisasi dan politik identitas bukan sekadar gejala budaya, melainkan juga tanda disintegrasi masyarakat.

Namun, titik paling rapuh Barat justru terletak pada klaim moralnya. Ia terus berbicara tentang demokrasi, hak asasi manusia, dan hukum internasional, tetapi menerapkannya secara selektif. Universalisme berubah menjadi bahasa kekuasaan. Dunia di luar Barat tidak sedang menolak nilai-nilai itu, tetapi menolak kemunafikan yang menyertainya.

Paling hangat, pembongkaran kembali berkas-berkas Jeffrey Epstein memperjelas paradoks ini. Skandal tersebut tidak bisa hanya dilihat sebagai kejahatan individual, tetapi juga sebagai potret jejaring elite politik, ekonomi, dan sosial yang lama dilindungi oleh sikap diam institusional.

Barat—yang agresif mengintervensi negara lain atas nama moralitas—justru tampak lumpuh membersihkan lingkaran kekuasaannya sendiri dari kejahatan paling mendasar terhadap martabat manusia. Supremasi hukum berhenti di pintu elite dan transparansi berubah menjadi manajemen informasi. Ini bukan anomali, melainkan gejala keruntuhan integritas moral.

Eropa, dalam situasi ini, tampil layaknya aktor yang kehilangan kedaulatan strategis. Ketergantungannya pada Amerika Serikat membuatnya mengorbankan rasionalitas ekonomi dan kepentingan sosial domestik. Ia mengikuti konflik yang justru merusak basis industrinya sendiri. Hal ini bukan persoalan salah kebijakan, melainkan krisis subjek politik.

Sebaliknya, banyak masyarakat Global South justru mempertahankan struktur sosial, solidaritas, dan orientasi jangka panjang yang relatif stabil. Maka, terlihatlah bahwa dunia tidak lagi bergerak menuju satu modernitas tunggal. Modernitas kini bersifat jamak.

Di sinilah Indonesia menjadi relevan. Pancasila lahir dari pengalaman dunia pascakolonial yang menolak universalisme Barat tanpa terjebak partikularisme sempit. Ia menautkan ketuhanan, kemanusiaan, demokrasi, dan keadilan sosial dalam satu kerangka etika politik. Ketika demokrasi Barat terjebak pada prosedur tanpa keadilan, Pancasila sejak awal menegaskan keduanya sebagai satu kesatuan.

Maka, éfaite de l’Occident sejatinya bukan undangan dari Todd untuk merayakan kejatuhan Barat. Ia adalah peringatan bahwa power yang kehilangan dasar moral akan ditinggalkan dan tak lagi diacuhkan.

Dunia kita hari ini tidak sedang mencari pusat kebenaran baru, tetapi sedang belajar hidup tanpa satu klaim moral yang memaksa. Dan mungkin, justru di situlah dunia yang makin gila ini akan menjadi sedikit lebih waras.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menpar Widiyanti Bantah Bali Sepi Wisatawan: Capai 12,2 Juta Kunjungan
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Persis Perkenalkan Sayap Kiri Asal Brasil Jefferson Carioca
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
OTT di Jakarta, KPK Dikabarkan Periksa Pejabat Bea Cukai
• 17 jam laluokezone.com
thumb
Dari Sertifikasi hingga Keberlanjutan, Ini Arah Baru Pasar Makanan Halal
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Menkeu Purbaya Optimis Perbaikan Fundamental Ekonomi Dipercepat
• 2 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.