Grid.ID - Momen Tahun Baru Imlek selalu menjadi waktu yang paling dinanti untuk berkumpul bersama keluarga besar. Di balik kemeriahan angpao dan dekorasi serba merah, kuliner khas Imlek menjadi sorotan utama yang tak boleh dilewatkan.
Bukan sekadar pengenyang perut, setiap hidangan yang tersaji di meja makan memiliki filosofi dan harapan tersendiri untuk tahun yang akan datang.
Nah, salah satu primadona yang wajib hadir dalam jamuan makan malam Imlek adalah Siu Mie atau yang lebih populer disebut mi panjang umur. Tadisi menyantap mi ini ternyata sudah ada sejak zaman Dinasti Han, namun baru populer sebagai simbol umur panjang pada masa Dinasti Tang.
Lantas, apa sebenarnya rahasia di balik sajian legendaris ini dan bagaimana tata cara menyantapnya yang benar agar hoki tidak menjauh?
Filosofi Siu Mie: Simbol Harapan yang Tak Terputus
Sesuai dengan julukannya, sajian ini merepresentasikan harapan akan keberuntungan yang terus mengalir tanpa henti, persis seperti bentuk fisiknya yang memanjang. Masyarakat Tionghoa meyakini bahwa untaian mi yang panjang adalah manifestasi dari usia yang panjang pula.
Semakin panjang helaian mi yang kamu santap, dipercaya semakin besar pula keberuntungan dan kesehatan yang akan menaungi hidupmu.
Namun, ada pantangan besar dalam proses pengolahannya. Saat memasak, juru masak harus berhati-hati agar mi tidak terputus atau hancur. Konon, mi yang terputus secara tidak sengaja saat dimasak bisa menjadi pertanda nasib buruk atau kesialan yang mungkin menimpa.
Oleh karena itu, Siu Mie menjadi simbol sakral untuk memohon umur panjang, kebahagiaan yang abadi, dan limpahan rezeki di tahun yang baru.
Siu Mie umumnya menjadi menu pembuka atau sajian utama saat makan malam reuni (Reunion Dinner) menjelang pergantian tahun. Sebelum sumpit menyentuh mi, biasanya seluruh anggota keluarga akan memanjatkan doa, menggantungkan harapan agar tahun yang baru membawa nasib yang lebih mujur ketimbang tahun sebelumnya.
Tata Cara Makan Siu Mie
Baca Juga: Simak Rangkaian Perayaan Imlek 2026 di Jakarta, Ada Atraksi Barongsai!
Uniknya, ada aturan yang harus dipatuhi saat menyantap hidangan ini agar doanya manjur. Kamu dilarang keras memotong mi tersebut menggunakan gigi ataupun sendok.
Memutus mi saat sedang dimakan dianggap sebagai simbol memotong usia atau memperpendek umur sendiri. Tentu ini adalah hal yang sangat dihindari saat Imlek.
Teknik yang benar adalah dengan menyruput mi tersebut secara utuh dari ujung hingga pangkal tanpa terputus.
Di sinilah letak keseruannya. Menggunakan sumpit, kamu harus mengangkat mi tinggi-tinggi dan memakannya perlahan. Hal ini juga melatih kesabaran dan dipercaya sebagai bentuk penghormatan terhadap rezeki.
Secara tampilan, Siu Mie sejatinya mirip dengan mi goreng pada umumnya. Namun, yang membedakannya adalah tekstur mi yang sedikit lebih kenyal (agar tidak mudah putus) dan isiannya yang sangat komplit melambangkan kemakmuran.
Dalam satu piring Siu Mie, kamu akan menemukan perpaduan sayuran seperti sawi hijau dan kol yang melambangkan kesuburan bagi keluarga. Tak ketinggalan, aneka jamur serta hidangan laut seperti udang, cumi-cumi, dan kerang turut ditambahkan.
Seringkali, sajian ini juga dilengkapi dengan bakso, irisan daging ayam, sosis, hingga telur puyuh yang bentuk bulatnya melambangkan kesempurnaan dan kelahiran kembali.(*)
Artikel Asli



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5493504/original/092305200_1770256345-WhatsApp_Image_2026-02-04_at_17.40.20__1_.jpeg)