Kekayaan Instan, Influencer Crypto, dan Ilusi Sukses di Media Sosial

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial di Indonesia dipenuhi wajah-wajah baru yang mendadak kaya. Mereka menyebut diri sebagai investor, trader atau edukator crypto. Tidak sampai hitungan tahun, hanya dalam hitungan bulan, bahkan minggu, narasi hidup mereka berubah drastis.

Rumah mewah, mobil sport, jam tangan mahal, dan tangkapan layar saldo digital dipamerkan sebagai bukti keberhasilan. Tidak hanya itu, gaya hidup kelas atas kerap kali dipertontonkan bahkan nyaris setiap hari. Yang membuat publik tercengang, banyak dari mereka sebelumnya tidak dikenal sebagai pebisnis besar atau profesional mapan.

Dalam waktu singkat, status sosial mereka melonjak drastis. Ceritanya pun sederhana dan menggoda: siapa pun bisa sukses asal berani masuk lebih awal dan tidak ragu mengambil peluang.

Fenomena ini sering kali dibingkai sebagai kisah sukses generasi digital. Padahal, fenomena ini bukan sekadar soal investasi digital semata. Jika dibaca dengan kacamata ilmu komunikasi, yang tampak justru konstruksi realitas yang problematis. Media sosial tidak hanya menampilkan kekayaan, tetapi juga membentuk cara publik memaknai kesuksesan, kerja keras, dan risiko.

Cara mencapai kekayaan instan ditampilkan, diceritakan, dan disebarkan, membuat publik lebih sibuk mengagumi hasil akhir daripada memahami proses dan risikonya. Apa yang terjadi dapat dibaca sebagai praktik framing yang sistematis.

Crypto influencer tidak hanya membagikan pengalaman pribadi, tetapi juga membingkai realitas. Investasi diposisikan sebagai jalan pintas mobilitas sosial, risiko dibuat kabur, dan kerugian jarang muncul di layar. Yang tampil berulang adalah keberhasilan ekstrem. Publik akhirnya menangkap pesan bahwa kekayaan besar merupakan sesuatu yang wajar, cepat, dan dapat direplikasi.

Padahal, dalam logika ekonomi konvensional, membangun bisnis yang stabil membutuhkan proses panjang. Pengusaha harus mengelola arus kas, membangun kepercayaan, dan bertahan dari kegagalan. Realitas ini nyaris tidak terlihat dalam konten para sultan dadakan. Yang muncul adalah gambaran kerajaan bisnis instan. Usaha bermunculan di berbagai kota dengan tempo cepat, seolah tanpa beban perhitungan profitabilitas.

Perilaku belanja para figur ini juga menjadi sinyal penting. Uang dihamburkan untuk aset yang nilainya justru menyusut. Kendaraan mewah dibeli demi konten. Gaya hidup dipamerkan secara impulsif. Bagi pelaku usaha yang tumbuh dari bawah, pola ini terasa janggal. Keuntungan biasanya diputar kembali, bukan dibakar demi validasi sosial.

Saat ditanya sumber kekayaan, jawaban yang muncul sering kabur. Bisnis sampingan, trading algoritma, aset kripto, atau warisan keluarga menjadi narasi pelindung. Istilah teknis digunakan untuk menciptakan jarak. Audiens yang tidak paham akhirnya memilih diam.

Dalam komunikasi persuasif, ketidakjelasan semacam ini bukan kelemahan, melainkan strategi. Ketika nilai perusahaan diklaim mencapai miliaran rupiah dalam usia yang sangat muda, publik jarang diajak bertanya dari mana modal itu berasal. Pertanyaan kritis tenggelam oleh visual kemewahan.

Dalam praktik komunikasi, ini adalah framing yang efektif. Perhatian diarahkan pada hasil akhir, bukan pada sumber dan proses. Masalahnya, framing semacam ini bekerja sangat halus. Konten dibuat santai, personal, dan terasa jujur. Bahasa yang dipakai merupakan bahasa sehari-hari. Tidak ada jarak formal seperti yang biasa ditemui dalam komunikasi keuangan konvensional.

Di titik ini, influencer menjelma menjadi figur otoritas palsu. Kredibilitas mereka tidak dibangun dari kompetensi yang terverifikasi, tetapi dari performa visual dan pengakuan pengikut.

Dalam teori persuasi, kepercayaan pada sumber pesan sering kali lebih menentukan daripada isi pesan itu sendiri. Audiens melihat seseorang yang tampak sukses, merasa dekat dan berbicara dengan gaya “orang biasa”. Hubungan parasosial pun terbentuk.

Ketika figur ini menyarankan koin tertentu atau platform tertentu, pesan tersebut diterima sebagai rekomendasi personal, bukan promosi berbayar.

Di sinilah batas antara edukasi investasi dan promosi manipulatif menjadi kabur. Mereka memadukan narasi kekayaan instan dengan klaim edukasi investasi. Konten dikemas sebagai bagian dari berbagi pengalaman, bukan promosi. Padahal secara komunikasi, pesan tersebut mendorong tindakan finansial audiens. Risiko disederhanakan. Potensi kerugian jarang dibahas secara setara dibanding dengan cerita mendapatkan cuan-nya.

Banyak konten dari para influencer crypto mengeklaim diri sebagai literasi finansial. Namun, yang disampaikan sering kali potongan informasi yang menguntungkan promotor. Penjelasan teknis dipermudah secara berlebihan. Risiko disinggung sekilas hanya sebagai formalitas. Ajakan bertindak disisipkan secara emosional, bukan rasional. Audiens didorong untuk takut ketinggalan, bukan untuk memahami.

Media sosial turut memperparah situasi ini lewat algoritma. Platform tidak menilai kebenaran atau kualitas edukasi. Algoritma bekerja hanya berdasarkan keterlibatan. Konten pamer kekayaan dan konten yang memicu rasa kagum, iri, dan harapan menghasilkan keterlibatan tinggi, sehingga algoritma akan terus mendorong konten yang seperti ini ke lebih banyak pengguna.

Bagian cerita kegagalan akhirnya tenggelam dan hanya cerita sukses yang terus diputar ulang. Publik akhirnya hidup dalam ruang gema yang menormalisasi kesuksesan dan kekayaan instan sebagai sesuatu yang umum. Yang terlihat seolah menjadi standar, padahal hanya potongan realitas.

Pada beberapa video yang ramai dibicarakan itu juga menyinggung sisi yang lebih gelap. Dugaan pencucian uang melalui figur publik dan bisnis instan mencuat. Popularitas influencer dan artis berfungsi sebagai tabir asap. Uang dengan asal-usul bermasalah disalurkan ke usaha kuliner, fashion, kosmetik, atau proyek digital.

Secara visual terlihat sah. Hal itu pun secara sosial terlihat sukses. Kerja sama semacam ini menguntungkan banyak pihak dalam jangka pendek. Figur publik mendapat modal besar tanpa prosedur perbankan. Pemilik dana mendapat legitimasi sosial. Namun, struktur bisnisnya rapuh. Fokus bukan pada laba sehat, melainkan pada perputaran uang agar tampak legal.

Dalam konteks komunikasi massa, popularitas bekerja sebagai alat distraksi. Publik sibuk mengagumi gaya hidup. Media sibuk memberitakan sensasi. Asal-usul dana luput dari perhatian. Ketika bisnis dijalankan tanpa logika ekonomi yang wajar, kejanggalan justru tertutup oleh sorotan kamera.

Dalam konteks Indonesia, kondisi ini menemukan tanah yang subur. Tekanan ekonomi, ketimpangan sosial, dan mimpi naik kelas secara cepat membuat narasi cepat kaya terasa relevan. Literasi keuangan yang belum merata memperbesar kerentanan.

Ketika media sosial menghadirkan figur yang tampak berhasil tanpa jalur konvensional, pesan tersebut mudah dipercaya. Bukan karena publik bodoh, melainkan karena pesan itu dirancang sesuai dengan kebutuhan emosional audiens. Ilmu komunikasi membantu kita melihat bahwa masalah utamanya bukan pada teknologi semata, melainkan juga pada relasi kuasa dalam arus pesan digital.

Influencer memiliki kendali atas narasi. Platform memiliki kendali atas distribusi. Audiens berada di posisi paling lemah, menerima pesan yang sudah dipoles secara visual, emosional, dan algoritmik. Selain itu, hal ini juga berhubungan erat dengan bagaimana media sosial membentuk ilusi, bagaimana influencer memanfaatkan kepercayaan, dan bagaimana algoritma memperkuat pesan yang paling emosional.

Ketika investasi dipresentasikan sebagai hiburan dan gaya hidup, publik kehilangan alat kritisnya. Kekayaan berubah menjadi tontonan. Edukasi berubah menjadi promosi terselubung. Kepercayaan publik dimonetisasi.

Situasi ini menuntut refleksi etis yang serius. Influencer tidak bisa terus bersembunyi di balik klaim “hanya berbagi pengalaman”. Platform tidak bisa mencuci tangan dengan alasan netralitas algoritma. Publik juga perlu didorong untuk membaca pesan digital dengan kacamata kritis, bukan dengan harapan kosong.

Edukasi investasi seharusnya membekali publik dengan kemampuan bertanya, bukan mendorong mereka untuk hanya ikut-ikutan. Hal ini mempertegas fakta bahwa pesan yang menarik belum tentu jujur dan yang terlihat sukses belum tentu sehat. Makanya tidak heran, pada titik tertentu, narasi ini akhirnya mulai retak. Ketika aparat menelusuri ketidaksesuaian antara profil pendapatan dan gaya hidup, kilau popularitas tidak lagi cukup.

Dalam hukum Indonesia, ketidaktahuan bukan alasan untuk dapat dimaafkan. Menikmati aliran dana yang patut diduga berasal dari kejahatan sudah membawa konsekuensi pidana. Bagi publik, runtuhnya figur semacam ini sering datang sebagai kejutan. Padahal, tanda-tandanya telah lama hadir: bisnis yang ugal-ugalan, istilah teknis yang tidak pernah dijelaskan, dan pamer kekayaan yang berlebihan.

Selama media sosial terus memproduksi dan mengulang narasi kekayaan instan tanpa konteks, fenomena publik yang menjadi sasaran manipulasi akan terus berulang. Ilmu komunikasi mengingatkan satu hal penting: cara kita menceritakan realitas sering kali lebih berpengaruh daripada realitas itu sendiri.

Dan dalam ekonomi atensi hari ini, cerita tentang kekayaan instan selalu punya panggung paling besar. Padahal, kesuksesan sejati tidak lahir dari sensasi. Ia lahir dari proses yang bisa dijelaskan, dipertanggungjawabkan, dan tidak perlu disembunyikan di balik layar ponsel.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Perang Saudara di Myanmar Belum Usai, ASEAN Siap Jalin Hubungan dengan Pemimpin Baru
• 1 jam lalugenpi.co
thumb
Gibran Dukung Pandji Terus Berkarya, Minta Masukan Demi Pembangunan RI
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Purbaya soal Pertumbuhan Ekonomi 2025: Masih Lebih Rendah dari Janji Saya
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Pramono: MRT Kembangan-Balaraja Perkuat Transportasi Aglomerasi
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Harga Pangan 4 Februari 2026: Cabai Rawit Merah Melonjak Jelang Ramadan, Beras Masih Stabil
• 23 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.