MerahPutih.com - Ketua DPR RI Puan Maharani buka suara terkait kasus meninggalnya seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga bunuh diri karena orang tuanya tidak mampu membelikan buku tulis dan pena seharga Rp 10.000.
Puan menilai peristiwa tragis itu menjadi duka mendalam sekaligus peringatan serius bagi negara. Menurut dia, ketidakmampuan orang tua memenuhi kebutuhan dasar pendidikan anak merupakan teguran bagi negara.
“Kasus kematian anak di Kabupaten Ngada tersebut tentunya merupakan duka yang cukup memilukan dan harus menjadi pembelajaran,” kata Puan dalam keterangan tertulis, Kamis (5/2).
Baca juga:
Kemiskinan Akar Masalah Siswa SD NTT Bunuh Diri, 1 dari 9 Anak di RI Hidup Miskin
Jangan Cuma Sebatas Biaya Sekolah GratisKetua DPR menekankan program pendidikan tidak cukup hanya menggratiskan biaya sekolah, tetapi juga harus menjamin terpenuhinya kebutuhan penunjang pendidikan.
“Program-program pendidikan terutama beasiswa dan bantuan pendidikan harus bisa mengatasi persoalan ini,” kata Puan.
Dia juga mendorong sekolah agar lebih aktif memetakan latar belakang sosial ekonomi peserta didik. Dengan pemetaan tersebut, sekolah diharapkan mampu memastikan setiap anak memperoleh kebutuhan pendidikan yang layak.
“Sekolah harus bisa memetakan latar belakang anak didiknya, dan memastikan setiap kebutuhan pendidikan dapat diberikan,” lanjutnya.
Baca juga:
Polda NTT Kirim Konselor Dampingi Keluarga Siswa SD yang Bunuh Diri di Ngada
Momentum Evaluasi Sistem Pendidikan NasionalPuan berharap peristiwa ini menjadi titik balik bagi pemerintah dalam mengevaluasi sistem pendidikan nasional agar lebih ramah anak dan memperhatikan kesehatan mental siswa secara menyeluruh.
“Jangan sampai ada nyawa generasi muda Indonesia yang hilang lagi hanya karena tidak mampu membeli buku dan pulpen,” tutup plitikus PDIP itu.
Seperti diketahui, YBR (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, meninggal dunia akibat gantung diri. Dia diduga kecewa karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen.
Korban YBR diketahui berasal dari keluarga kurang mampu dan tinggal bersama neneknya di pondok kecil yang tidak layak huni. (Pon)




