Mengurangi Konsumsi Makanan Ultraolahan Membantu Penyintas Kanker Lebih Sehat

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Makanan ultraolahan pada umumnya rendah kandungan nutrisi dan metode pengolahannya kerap menambahkan zat aditif, perisa buatan, pengawet, pengemulsi, dan kadar gula tambahan serta lemak tidak sehat tinggi, yang tidak dapat diserap baik oleh tubuh. Studi epidemiologi jangka panjang menunjukkan terdapat kaitan antara mengurangi konsumsi makanan ultraolahan dan kehidupan lebih sehat serta lebih lama para penyintas kanker.

Laporan studi tersebut dimuat di jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention, Rabu (4/2/2026). Marialaura Bonaccio dari Unit Penelitian Epidemiologi dan Pencegahan di IRCCS Neuromed di Pozzilli, Italia, menjadi penulis pertama laporan ini.

Dengan meningkatnya konsumsi makanan ultraolahan di banyak negara, Bonaccio dan tim berupaya untuk lebih memahami apakah mengurangi konsumsi makanan ultraolahan dapat membantu para penyintas kanker hidup lebih lama dan lebih sehat.

Semakin tinggi konsumsi makanan ultraolahan, tingkat kematian dini populasi juga meningkat.

”Apa yang dimakan orang setelah diagnosis kanker dapat memengaruhi kelangsungan hidup, tetapi sebagian besar penelitian pada populasi ini hanya berfokus pada nutrisi, bukan pada bagaimana makanan tersebut diolah,” kata Bonaccio.

Menurut dia, zat-zat yang dipakai industri dalam pengolahan makanan dapat mengganggu proses metabolisme, merusak mikrobiota usus, dan memicu peradangan. Akibatnya, makanan tersebut dapat memiliki efek yang berbahaya bagi tubuh.

Studi dilakukan Bonaccio dan rekan-rekannya dengan mengikuti 24.325 individu berusia 35 tahun ke atas yang tinggal di wilayah Molise, Italia Selatan, dari Maret 2005 hingga Desember 2022.

Dalam kohor ini, mereka mengidentifikasi 802 penyintas kanker pada awal penelitian (476 wanita dan 326 pria) yang telah memberikan informasi lengkap tentang diet mereka melalui kuesioner frekuensi makanan European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC). Penilaian makanan dilakukan berdasarkan klasifikasi NOVA.

Baca JugaPuncak Gunung Es Kesehatan Masyarakat Desa

Sistem klasifikasi NOVA mambagi makanan ke dalam empat kelompok berdasarkan tingkat dan tujuan pengolahan. Sistem ini memungkinkan kita mengetahui apakah suatu makanan termasuk makanan ultraolahan atau bukan.

Berdasarkan klasifikasi ini, NOVA 1 merupakan pangan yang tidak atau minim proses. Contohnya, buah segar, sayur, beras, ikan, dan telur. NOVA 2 merupakan bahan kuliner hasil proses, seperti gula, garam, minyak, dan mentega. NOVA 3 merupakan pangan olahan, seperti ikan asin, keju, dan roti tradisional. Adapun NOVA 4 merupakan pangan ultraolahan, seperti minuman berpemanis, mi instan, sosis, jajanan kemasan, serta pangan cepat saji.

Kaitan dengan kelangsungan hidup

Selama masa tindak lanjut studi rata-rata 14,6 tahun, terdapat total 281 kematian di antara 802 penyintas kanker.

Individu yang berada di sepertiga teratas dalam konsumsi makanan ultraolahan berdasarkan rasio berat memiliki tingkat kematian 48 persen lebih tinggi dari semua penyebab dan tingkat kematian 59 persen lebih tinggi dari kanker dibandingkan dengan mereka yang berada di sepertiga terendah.

Rasio energi yang lebih tinggi dari makanan ultraolahan menunjukkan hasil serupa untuk kematian akibat kanker, tetapi tidak untuk penyebab lainnya.

”Beberapa makanan mungkin memiliki berat yang besar, tetapi hanya menyumbang sedikit kalori, atau sebaliknya. Itulah sebabnya hasilnya dapat berbeda tergantung pada ukuran yang digunakan,” papar Bonaccio.

Meningkatkan kematian dini

Laporan studi terpisah di American Journal of Preventive Medicine, Senin (28/4/2025), oleh Eduardo Augusto Fernandes Nilson dari Oswaldo Cruz Foundation (Fiocruz), Brasil, juga menunjukkan, pangan ultraolahan memengaruhi kesehatan terutama karena tingginya kandungan natrium, lemak trans, dan gula.

Selain itu, penggunaan bahan-bahan buatan, termasuk pewarna, perisa dan pemanis buatan, pengemulsi, serta banyak aditif dalam pemrosesan juga memiliki dampak buruk bagi tubuh.

Penelitian Nilson di delapan negara ini juga menunjukkan, semakin tinggi konsumsi makanan ultraolahan, tingkat kematian dini populasi juga meningkat dengan angka tertinggi hingga 14 persen.

Studi yang menganalisis data dari survei diet representatif nasional dan data mortalitas dari delapan negara, yaitu Australia, Brasil, Kanada, Chile, Kolombia, Meksiko, Inggris, dan Amerika Serikat, ini menunjukkan bahwa kematian dini akibat konsumsi makanan ultraolahan meningkat signifikan dalam total asupan energi individu.

”Penilaian kematian akibat semua penyebab yang terkait dengan konsumsi pangan ultraolahan memungkinkan estimasi menyeluruh tentang dampak pemrosesan makanan industri terhadap kesehatan,” kata Nilson.

Menurut Nilson, konsumsi pangan ultraolahan yang tinggi telah dikaitkan dengan 32 penyakit yang berbeda, termasuk penyakit kardiovaskular, obesitas, diabetes, beberapa jenis kanker, dan depresi. Untuk pertama kalinya, penelitian ini memperkirakan beban asupan pangan ultraolahan pada kematian dini dari semua penyebab di berbagai negara.

Baca JugaMakanan Ultra-olahan Meningkatkan Risiko Penyakit Kronis, Bahkan dalam Jumlah Kecil

”Sangat mengkhawatirkan bahwa sementara di negara-negara berpenghasilan tinggi konsumsi ultraolahan sudah tinggi, tetapi relatif stabil selama lebih dari satu dekade; di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah konsumsinya terus meningkat,” kata Nilson.

Oleh karena itu, kebijakan pengurangan konsumsi pangan ultraolahan sangat dibutuhkan secara global dengan mempromosikan pola makan tradisional berdasarkan makanan segar lokal dan makanan yang diproses secara minimal.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Meski Sudah Bercerai, Acha Septriasa Tetap Pilih Tinggal di Sydney Demi Lingkungan Sang Anak
• 5 jam lalugrid.id
thumb
Tinjau Lokasi Jembatan Kaccia di Barombong, Wali Kota Makassar Munafri Pastikan Pembangunan Dimulai Maret 2026
• 3 jam laluterkini.id
thumb
2 Komika Pembuka Mens Rea Diperiksa Polisi soal Materi Acara
• 18 jam lalukompas.com
thumb
Niat Bersihkan Rumah Kosong, Warga Sleman Temukan Kerangka Manusia di Lantai Dua
• 8 jam lalusuara.com
thumb
Prabowo Jelaskan Keanggotaan Board of Peace RI, Tak Wajib Bayar US$1 M
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.