Akselerasi Dekarbonisasi, Indonesia dan Jepang Bahas Proyek Strategis di AZEC-EGM ke-9

tvrinews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Ricardo Julio

TVRINews, Jakarta

Asia Zero Emission Community (AZEC) sebagai wadah kerja sama dekarbonisasi negara-negara Asia kembali memperkuat sinergi untuk mencapai target emisi nol bersih. Mengawali tahun 2026, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang melaksanakan Asia Zero Emission Community-Expert Group Meeting ke-9 (AZEC-EGM).

Pertemuan ini difokuskan untuk melanjutkan upaya mengurai hambatan di sisi teknis maupun bisnis atau debottlenecking pada berbagai proyek dalam kerangka AZEC. Pembahasan terbagi dalam dua sesi utama yang mencakup sektor ketenagalistrikan serta sektor bahan bakar berkelanjutan.

Pada sesi pertama, diskusi menyoroti ekspansi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla, PLTP Hululais, proyek transmisi listrik Jawa-Sumatera, dan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka. Proyek PLTSa Legok Nangka dengan nilai investasi USD400 juta diperkirakan mencapai kesepakatan pendanaan pada akhir 2026, sementara PLTP Hululais mulai menemui titik terang dalam perjanjian pinjaman dengan JICA.

Proyek transmisi listrik Jawa-Sumatera menjadi bahasan penting karena perannya yang strategis bagi ketahanan energi nasional. Proyek ini akan menghubungkan jaringan listrik Sumatera yang kaya potensi energi terbarukan ke Pulau Jawa yang memiliki permintaan energi tinggi dari sektor industri dan perumahan.

Sesi kedua pertemuan membahas inisiatif amonia hijau di Aceh serta proposal Indonesia mengenai template studi bersama untuk perjanjian jual beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA). Inisiatif template PPA geothermal ini bertujuan menciptakan standardisasi, meningkatkan kepastian usaha, serta mempercepat proses negosiasi antara pengembang dengan PT PLN (Persero).

Deputy Commissioner for International Affairs Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, Ueno Asako, menyampaikan harapannya agar enam proyek prioritas AZEC dapat menunjukkan progres signifikan sebelum berakhirnya tahun fiskal Jepang pada Maret 2026.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Kelompok Ahli Satgas AZEC sekaligus Ketua Delegasi Indonesia, Raden Pardede, menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat koordinasi lintas sektoral.

"Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah dan akan berkoordinasi lebih detail dengan Kementerian dan Lembaga terkait seperti Kementerian ESDM, PT PLN, dan pemerintah daerah setempat," ujar Raden Pardede dalam keterangannya dikutip pada Kamis, 5 Februari 2026.

Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan berbagai kementerian seperti Kemenko Perekonomian, ESDM, Luar Negeri, serta Kemenkeu melalui Atase Keuangan KBRI Tokyo. Hadir pula lembaga internasional JICA dan JBIC, serta perwakilan korporasi besar seperti PT PLN, PT Pupuk Indonesia, Itochu Corporation, Kansai Electric, Sumitomo Corporation, dan Toyo Engineering.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Mahfud MD Sebut 4 Masalah Struktural yang Dibahas Komisi Reformasi Polri
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Belum Puncak Musim Panen, Penyebab Harga Cabai Mahal
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Kemkomdigi Evaluasi Internal Keamanan Data Pelamar Usai Sorotan Publik Rekrutmen PJLP
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Bulog Pastikan Stabilitas Harga dan Stok Pangan Terjaga Jelang Ramadan 2026
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
Eks Menlu Marty: Kepentingan nasional landasan RI di BoP
• 9 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.