Di jalanan yang ramai lalu-lalang kendaraan bermotor, setiap orang tampak memicingkan mata ke depan, fokus pada arah yang dituju.
Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah kontras terlihat di bahu jalan. Seorang bapak tua mengayuh sepedanya perlahan, sesekali menengok ke kanan dan kiri, khawatir bawaannya mengganggu pengguna jalan lain.
Meski begitu, di setiap kayuhan dan tolehan kepalanya, senyum hangat tak pernah lepas dari wajahnya. Ia adalah Samino (67), seorang penjual balon yang setiap hari berkeliling dengan sepedanya.
Saat pagi masih gelap, Samino mulai mengeluarkan sepeda dan berkelana mencari nafkah lewat balon-balon berwarna cerah yang dibawanya. Aktivitas itu dilakoninya saban hari, menyusuri sudut-sudut Jakarta yang akrab dengan kehidupan anak-anak.
"Saya muter-muter aja, di sini (Menteng Dalam), Kebon Jeruk, ke Pasar Rumput, ke Menteng sana, ke Matraman, ke sini lagi, terus Kayu Manis sampai Jatinegara, (dan) pulang," ucap Samino saat menjelaskan rute jualannya kepada kumparan di kawasan Menteng Dalam, Jakarta Pusat, Kamis (5/2).
Waktu pulangnya tak pernah pasti. Samino tak mengacu pada jam tertentu untuk berhenti berjualan. Satu-satunya penanda pulang adalah kondisi tubuhnya yang tak lagi kuat.
"Tinggal badannya aja. Kalau capek ya siang pulang, kalau nggak ya nyampe sehari, nyampe pulang ya malam," kata Samino.
Samino menjual balon-balon bawaannya seharga Rp 10 ribu per buah. Penghasilannya pun tak menentu. Dalam sehari, paling banyak ia bisa mengantongi Rp 40 ribu, itu pun setelah dipotong biaya makan sekitar Rp 20 ribu.
"Saya makannya kan lihat kondisinya. Misalkan dapat dikit ya makannya ngirit gitu," terang Samino.
Sambil tersenyum, Samino yang berasal dari Boyolali ini bercerita bahwa sebelumnya ia pernah berjualan bakso. Namun, karena sering mengalami kerugian akibat pelanggan yang tidak membayar serta praktik pemalakan, ia akhirnya beralih profesi menjadi penjual balon.
"Pernah dagang bakso juga waktu dulu. Ini dinakalin orang terus, banyak nakal orang Jakarta dulu. Saya pernah dagang bakso, ada orang pesan lima mangkok. Mangkoknya tinggal mangkok, orangnya ke mana boro-boro bayar," ucap Samino.
"Kadang pulang malam gitu kan bakso, jam 10, jam 11, udah dimintain bakso, duit. Preman-preman itu loh," tambahnya.
Namun, peralihan menjadi pedagang balon pun bukan tanpa kesulitan. Hampir setiap hari Samino harus menanggung kerugian karena balon-balon dagangannya rusak selama perjalanan.
"Sering rusak, setiap hari ada aja satu dua. Ini udah dua ini. Ini kayak gini kan udah bocor. (Akibat) kepanasan, nyangkut, kena seng gitu," ujar Samino.
Selain itu, ia juga pernah mengalami kejadian pahit ketika menerima uang palsu. Senyumnya mengembang, tetapi tersirat getir saat menceritakan pengalaman tersebut.
"Saya pernah di Jatinegara di dekat stasiun, orang beli balon di jalan. Satu. Duitnya palsu buat kembalian belanja. Saya lemes sama duitnya. Saya udah ngasih balon satu, udah duitnya kembaliin 90, duitnya palsu, aduh. Saya kan nggak paham duit yang mana asli. Yang 100 ribu lagian. Saya langsung lemes aja. Ngumpulin dua hari belum tentu dapet," tutur Samino.
Samino juga menuturkan duka lain yang pernah dialaminya, ketika uang hasil berutang dan ponsel miliknya raib diambil orang. Dalam peristiwa itu, ia bahkan sempat dituduh membawa narkoba.
"Duit dari hutangan mau buat bayar sekolah, 450 sama HP diminta orang semua. Pas saya duitnya mau kirimin malah diminta orang dulu pagi-pagi di daerah Cipinang sana. Orang bawa motor katanya (saya) mau operasi narkoba, narkoba apa, saya udah ngerokok aja nggak," kata Samino.
Dari segala tantangan yang dihadapinya, Samino hanya menyimpan satu harapan; kesehatannya tetap terjaga agar kakinya masih sanggup mengayuh sepeda setiap hari. Soal rezeki, ia pasrahkan sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa.
"Kalau udah tua gini ya harapan sehat aja lah, alhamdulillah bisa keliling gitu aja. Nomor satu kan sehat, masalah penghasilan ya Allah yang ngasih, gitu tiap harinya," pungkas Samino.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5320659/original/071794900_1755602814-WhatsApp_Image_2025-08-19_at_17.24.10__1_.jpeg)