Pantau - Edisi kedelapan Singapore Biennale 2025 (SB2025) resmi dibuka untuk publik dan akan berlangsung hingga 29 Maret 2026, menghadirkan lebih dari 100 karya dari sekitar 80 seniman di lima lokasi berbeda di Singapura.
Mengusung tema pure intention atau "niat murni", SB2025 mengajak pengunjung menjelajahi sisi lain Singapura melalui seni yang menarik, partisipatif, dan responsif terhadap lokasi.
Karya-karya yang ditampilkan mencerminkan ritual, sejarah, pengalaman hidup, aspirasi masyarakat, serta ritme dan identitas kota Singapura yang terus berkembang.
Eksplorasi Seni di Berbagai Zona KotaDi Singapore Art Museum (Tanjong Pagar Distripark), pengunjung dapat menyaksikan karya Paul Chan berupa figur nilon berwarna cerah yang menggambarkan pergeseran pandangan tentang tubuh, kesenangan, dan relasi manusia dengan alam.
Seniman Álvaro Urbano menyajikan instalasi tanaman baja antikarat dalam bentuk teater alam yang mengajak refleksi tentang sejarah pertanian dan diplomasi anggrek.
Sementara kolektif RRD (Red de Reproducción y Distribución) mengeksplorasi keterhubungan budaya kuliner antara Singapura dan Meksiko.
Di kawasan Orchard, termasuk bekas lokasi Raffles Girls' School, pengunjung diajak menafsirkan ulang definisi "alam" melalui proyek dari Hothouse, penampilan figur “kucing keberuntungan” yang tersembunyi di antara tanaman, hingga karya Salad Dressing yang mengangkat tema seperti etika rewilding, peminggiran, dan ekologi spiritual.
Karya Responsif Lokasi dan Eksperimen MaterialDi Civic District, termasuk Fort Canning Park, kolektif lololol menampilkan instalasi cahaya di Lighthouse yang peka terhadap lokasi.
Disediakan juga sound walk berbasis GPS yang bisa diakses lewat kode QR, menuturkan narasi pertemuan seniman dengan mercusuar, penjaga, dan ahli kriptolinguistik.
Sementara itu, di sepanjang Rail Corridor dan Wessex Estate, Jesse Jones menampilkan instalasi laut menggunakan cangkang tiram yang mengeksplorasi gagasan hidrofeminisme dan ekofeminisme prasejarah.
Seniman Huang Po-Chih membawa kombucha berbahan tanaman dari kampung halamannya di Taiwan serta tanaman yang dulu dibudidayakan di Singapura. Kombucha tersebut juga tersedia untuk dijual di beberapa titik pameran.
Dukung Ekosistem Seni dan Budaya SingapuraSingapore Biennale 2025 diselenggarakan oleh Singapore Art Museum, dikomisikan oleh National Arts Council Singapura, dan didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Masyarakat, dan Pemuda Singapura.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui situs resmi SB2025 serta akun media sosial resmi di Facebook (@SingaporeBiennale) dan Instagram (@sgbiennale).

