Bisnis.com, JAKARTA — Penyaluran kredit kendaraan bermotor (KKB) bank umum masih lesu, bahkan turun makin dalam per Desember 2025, mencerminkan pelemahan permintaan konsumsi rumah tangga terhadap barang tahan lama.
Berdasarkan data Analisis Uang Beredar yang dirilis Bank Indonesia (BI), nilai penyaluran kredit kendaraan bermotor per Desember 2025 mencapai Rp134,6 triliun, atau turun -6,6% secara tahunan (year on year/YoY). Penurunan ini lebih dalam dibandingkan posisi November 2025 yang turun sebesar -4,8% YoY.
Di antara kredit konsumsi, kredit kendaraan bermotor bahkan menjadi satu-satunya segmen yang mengalami koreksi, kendati pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit multiguna mengalami perlambatan dibandingkan November 2025.
Otoritas moneter mencatat, penyaluran KPR oleh bank umum tumbuh 6,8% YoY mencapai Rp840,5 triliun, melambat dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang tumbuh 6,9% YoY. Kondisi serupa juga terjadi pada penyaluran kredit multiguna yang tumbuh 7,7% YoY per Desember 2025, melambat dibandingkan November 2025 yang tumbuh 8,8% YoY.
Sejalan dengan kondisi itu, total kredit konsumsi turut melambat pada Desember 2025. Tercatat, kredit konsumsi hanya mampu tumbuh 6,4% YoY, dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 7,2% YoY.
Permintaan Konsumsi MelemahKepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman mengatakan penurunan kredit kendaraan bermotor yang makin dalam pada Desember 2025 pada dasarnya mencerminkan pelemahan permintaan konsumsi rumah tangga terhadap barang tahan lama.
Baca Juga
- Laba BNI (BBNI) Diprediksi Pulih pada 2026, Ditopang Akselerasi Pertumbuhan Kredit
- Jualan Mobil Lesu, Toyota Global Soroti Pajak dan Kredit Macet di RI
- Penyaluran Kredit ke Sektor Manufaktur Terdongkrak Industri Besi dan Baja
“Kendaraan bermotor sangat bergantung pada ekspektasi pendapatan dan rasa aman ekonomi,” kata Rizal kepada Bisnis, Kamis (5/2/2026).
Ketika rumah tangga masih menghadapi tekanan biaya hidup dan ketidakpastian penghasilan, Rizal menyebut bahwa keputusan membeli kendaraan terutama dengan skema kredit cenderung ditunda, meskipun secara nominal tersedia berbagai promo pembiayaan.
Dari sisi industri otomotif, data penjualan menunjukkan bahwa perbaikan penjualan di akhir tahun lebih banyak bersifat musiman dan dipicu diskon dealer, bukan penguatan permintaan yang berkelanjutan. Secara tahunan, kinerja penjualan kendaraan sepanjang 2025 masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurutnya, fakta bahwa kredit kendaraan bermotor tetap terkontraksi di tengah lonjakan penjualan musiman mengindikasikan meningkatnya kehati-hatian konsumen dalam berutang, serta adanya pergeseran ke pembelian tunai atau ke pasar kendaraan bekas yang lebih terjangkau.
Sementara itu, dari sisi penawaran, lembaga pembiayaan juga masih bersikap defensif. Rizal menuturkan, perbankan dan multifinance cenderung lebih selektif menyalurkan kredit kendaraan bermotor karena risiko kredit konsumsi dinilai belum sepenuhnya menurun.
Selain itu, kualitas pendapatan debitur yang belum solid dan ketidakpastian ekonomi membuat transmisi pelonggaran moneter ke suku bunga kredit kendaraan tidak berjalan optimal. Akibatnya, kata dia, penurunan suku bunga acuan belum cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan kredit kendaraan bermotor secara signifikan.
“Dengan demikian, penurunan suku bunga dan stimulus otomotif memang berpotensi memberi dorongan, tetapi dampaknya akan terbatas jika tidak disertai pemulihan daya beli yang nyata,” ujarnya.
Rizal menilai, faktor kunci pembalikan tren kredit kendaraan bermotor tetap terletak pada perbaikan fundamental ekonomi rumah tangga, terutama pertumbuhan upah riil, kualitas lapangan kerja, dan kepercayaan konsumen.
“Tanpa penguatan faktor-faktor tersebut, kredit kendaraan bermotor berisiko hanya bergerak fluktuatif dan tetap tertekan dalam jangka menengah, meskipun didukung berbagai stimulus jangka pendek,” pungkasnya.



