Rontok di China, Perdagangan Emas Digital Tetap Cerah

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Investor ritel emas di China mendadak gelisah. Di kota Shenzhen, pusat perdagangan emas swasta China, runtuhnya sebuah platform perdagangan logam mulia daring memicu kepanikan luas. Puluhan ribu investor dilaporkan mengalami kerugian dengan nilai yang diperkirakan melampaui 10 miliar yuan atau sekitar 1,4 miliar dolar AS.

Platform JWR, beberapa bulan terakhir menjadi tujuan favorit investor ritel untuk memanfaatkan reli harga emas global, kolaps ketika lonjakan permintaan pencairan dana tak mampu dipenuhi pada akhir Januari 2026. Mengutip pemberitaan South China Morning Post, harga emas yang sempat melonjak tajam justru memicu gelombang penarikan dana secara serentak, menekan likuiditas perusahaan.

Puluhan ribu investor dilaporkan mengalami kerugian dengan nilai yang diperkirakan melampaui 10 miliar yuan atau sekitar 1,4 miliar dolar AS.

Ratusan investor mendatangi kantor JWR di distrik Luohu, Shenzhen, menuntut pengembalian dana mereka. Otoritas setempat pun membentuk satuan tugas untuk menyelidiki dugaan operasi bisnis yang tidak wajar.

Krisis serupa terulang pada platform lain, Ydd007, pada awal Februari 2026. Platform ini mengakui mengalami kekurangan dana signifikan setelah beberapa kali ramai aksi jual besar-besaran oleh investor. Rentetan peristiwa ini terjadi di tengah volatilitas harga emas global yang ekstrem dalam beberapa tahun terakhir.

Sepanjang 2025, harga emas dunia, menurut World Gold Council mencetak rekor penutupan perdagangan sebanyak 53 kali dengan imbal hasil tahunan maksimal mencapai 67 persen. Pada akhir Januari 2026, harga emas dunia kembali mencetak rekor menjadi lebih dari 5.500 dolar AS per troy ons.

Head of Asia Pacific (ex-China) sekaligus Global Head of Central Banks World Gold Council, Shaokai Fan, dalam paparannya di Jakarta, Rabu (4/2/2026), menjelaskan, tren permintaan emas di China selalu meningkat pada tiga bulan pertama tahun berjalan. Penjualan juga meningkat jelang musim perayaan Imlek yang terjadi di awal tahun, selain karena kebutuhan lain seperti pernikahan.

Insiden kolapsnya platform perdagangan emas digital di China tersebut, menurutnya Fan, menjadi pelajaran penting bagi perkembangan perdagangan emas fisik digital secara global.

Baca JugaCuan Besar, Warga Shanghai Ramai-ramai Jual Emas
Penjualan meningkat

Sejauh ini, kata Fan, minat terhadap emas fisik digital secara global sebenarnya terus meningkat seiring bertambahnya jumlah operator dan penyedia layanan.

Perdagangan emas melalui platform perdagangan digital memungkinkan masyarakat memiliki aset emas yang tidak langsung diikuti dengan penyerahan atau pengiriman emas. Mekanisme seperti cicilan emas atau menabung emas setara dengan “membeli” emas. Meski nasabah tidak memiliki emas secara fisik, penyedia platform atau pedagang emas digital harus memiliki emas dalam bentuk fisik.

“Saya merasa bahwa secara global, dengan semakin bertambahnya jumlah operator dan juga provider yang menyediakan emas digital, tren ini akan semakin mendorong supply dari emas digital. Ini menunjukkan bahwa memang banyak pembeli yang merasa tertarik juga dengan emas digital,” tuturnya.

Ia mencontohkan Indonesia, di mana Pegadaian dan bank bulion lain telah menawarkan layanan emas digital, seiring maraknya perusahaan teknologi dan bahkan penyedia stablecoin yang mulai merambah produk berbasis emas.

Namun, belajar dari kasus di China, hal krusial terkait kerangka regulasi dan keamanan menjadi penting untuk pencegahan.

“Regulasi dan rangka yang sesuai harus disiapkan untuk mencegah kolapsnya platform emas digital. Salah satu langkahnya adalah memastikan bahwa produk digital tersebut benar-benar didukung emas fisik sesungguhnya, dengan proses yang transparan dan audit berkala,” ujarnya.

Di Indonesia, geliat perdagangan emas fisik digital menunjukkan tren yang positif. Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia, lembaga yang meregulasi perdagangan berjangka emas mencatat, volume perdagangan pasar fisik emas secara digital mencapai 58,65 juta gram sepanjang 2025.

Angka ini menunjukkan pertumbuhan 25,20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Transaksi pun melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi Rp 115,6 triliun.

Direktur ICDX, Nursalam, menyampaikan bahwa faktor kepraktisan dan digitalisasi menjadi pendorong utama. Melalui aplikasi ponsel, masyarakat dapat membeli emas tanpa harus datang ke gerai fisik. Selain itu, generasi muda, khususnya Gen Z yang telah memiliki penghasilan, mulai memanfaatkan emas digital sebagai instrumen investasi bertahap sesuai kemampuan.

“Melihat tren positif ini, harapan kami di 2026 volume transaksi bisa tumbuh sekitar 30 persen. Mekanisme perdagangan ini kami pastikan aman karena diawasi oleh Bappebti, didukung lembaga kliring, serta lembaga penyimpanan emas fisik,” ujar Nursalam dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Kerangka regulasi Indonesia sendiri telah diperkuat melalui Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Nomor 3 Tahun 2025 tentang Tata Cara Pelaksanaan Perdagangan Pasar Fisik Emas Secara Digital di Bursa Berjangka.

Dari sisi pelaku industri, Kadek Eva Suputra, Kepala Divisi Bisnis Bullion Pegadaian, mencatat lonjakan minat masyarakat terhadap emas, baik fisik maupun digital, di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Hingga akhir September 2025, omzet cicil emas Pegadaian tumbuh 182,3 persen secara tahunan, sementara Tabungan Emas melonjak 218 persen.

“Kesadaran perencanaan keuangan dan kemudahan akses teknologi membuat emas semakin diminati sebagai instrumen investasi yang relatif stabil dan mudah dicairkan,” ujarnya.

Pengamat Ekonomi dan Investasi sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Komunikasi Bisnis Universitas Islam Nusantara Bandung, Yoyok Prasetyo, menilai tren ini sebagai sinyal positif bagi pendalaman pasar investasi domestik.

“Makin meningkatnya minat masyarakat untuk investasi emas secara digital merupakan hal positif. Ini menjadi alternatif untuk memperkaya portofolio investasi masyarakat. Tantangannya adalah terus melakukan sosialisasi dan edukasi, terutama terkait keamanan transaksi,” kata Yoyok.

Kasus di China memang menjadi peringatan keras tentang risiko tata kelola dan likuiditas. Namun, peristiwa tersebut justru mempertegas bahwa masa depan emas fisik digital terletak pada fondasi yang transparan, teregulasi, dan didukung aset fisik nyata.

Dengan kerangka yang semakin matang, emas digital dinilai tetap memiliki prospek cerah sebagai jembatan antara tradisi investasi lama dan ekosistem keuangan digital yang terus berkembang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Polisi Inggris Selidiki Mantan Dubesnya di AS Diduga Bocorkan Rahasia Negara ke Epstein
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
BRIN Minta Pemprov DKI Jakarta Kaji Ulang Kebijakan Modifikasi Cuaca, Ini Alasannya
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
TikTok Shop by Tokopedia Bisa Jadi Ladang Cuan Ibu Rumah Tangga Jelang Ramadan 2026
• 18 jam lalugenpi.co
thumb
BPS Patok Garis Kemiskinan Rp3,05 Juta per Rumah Tangga
• 35 menit laluidxchannel.com
thumb
IHSG Sesi I Melemah Tipis 0,06 Persen ke Level 8.141
• 4 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.