Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mendorong peningkatan kepekaan dan kepedulian sosial menyusul tragedi meninggalnya YBS (10), siswa kelas IV SD, di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Ia menilai peristiwa tersebut harus menjadi alarm bagi seluruh elemen bangsa untuk lebih peduli terhadap kondisi sosial di lingkungan sekitar.
“Tidak kalah pentingnya juga ini juga alarm, warning buat kita untuk sekali lagi, mari kita menumbuhkan rasa kepedulian sosial di antara kita semua gitu,” kata Pras di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta Pusat, Kamis (5/2).
Menurutnya, kepedulian sosial dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk konkret, termasuk keterlibatan langsung masyarakat dalam membantu keluarga kurang mampu.
“Mungkin program kepedulian itu bisa diwujudkan dalam bentuk misalnya, orang tua angkat atau ada keluarga yang lebih mampu untuk memperhatikan keluarga yang kurang mampu dan seterusnya. Ini yang harus kita dorong,” ujarnya.
Pras menambahkan, dorongan kepedulian sosial ini sejalan dengan upaya Presiden Prabowo Subianto dalam menggugah kesadaran publik terhadap isu-isu sosial yang lebih luas.
“Kalau kemarin Bapak Presiden menggugah kita semua berkenaan dengan masalah kebersihan, kerapihan, keindahan. Kali ini mungkin kita harus mendorong kita semua untuk meningkatkan kepekaan, kepedulian sosial di antara negara kita ini,” kata Pras.
Terkait soal kemungkinan sanksi terhadap pihak desa atau lingkungan yang dinilai membiarkan kondisi sulit YBS hingga mengakhiri hidupnya, Pras menegaskan hingga kini belum ada langkah sanksi yang diambil pemerintah. Namun, ia menekankan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut.
“Sanksi belum, tetapi sebagaimana yang kemarin kami sampaikan bahwa terus terang saja kita sangat prihatin dengan adanya kejadian yang menimpa adik kita yang sudah barang tentu kita tidak menghendaki,” ujarnya.
Ia menegaskan, tragedi ini harus dijadikan pelajaran serius agar tidak terulang kembali di masa mendatang.
“Maka sebagai sebuah tanggung jawab kita sebagai pemerintah, sebagai bangsa, mari kita menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan pembelajaran yang sangat keras pada kita untuk ke depan memastikan hal-hal yang seperti ini tidak terjadi kembali,” kata Pras.
Pras juga menilai persoalan yang melatarbelakangi peristiwa tersebut tidak berdiri sendiri dan harus dilihat dari berbagai aspek, termasuk kondisi ekonomi dan pendidikan.
“Sekali lagi problem yang muncul tentu itu tidak berdiri tunggal ya, karena kita harus melihat dari berbagai perspektif. Misalnya tentu dari sisi ekonomi itu menjadi atensi kita, ya,” ujarnya.
Ia menyebut pemerintah terus berupaya mempercepat penanganan kemiskinan melalui berbagai intervensi dan program pemberdayaan masyarakat.
“Makanya kemudian di masa pemerintahan Pak Prabowo ini dibentuklah Kemenko Pemberdayaan Masyarakat karena kita juga ingin menghendaki bahwa ada satu tahapan untuk masyarakat kita yang selama ini menerima bantuan-bantuan sosial dari pemerintah, pada akhirnya kita ingin juga naik kelas,” kata Pras.
Selain ekonomi, Pras menekankan pentingnya pendidikan dan edukasi, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
“Di sisi yang lain juga sekali lagi masalah pendidikan juga sangat penting, edukasi juga sangat penting, baik di lingkungan keluarga, baik di lingkungan rumah, dan terutama di lingkungan pendidikan,” ujar Pras.
“Ini semua harus kita dorong, kita optimalkan untuk memastikan hal-hal seperti ini tidak terjadi,” sambungnya.
Sebelumnya, seorang siswa laki-laki kelas IV sekolah dasar berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/1) siang.
Peristiwa memilukan ini terjadi di sebuah pohon cengkeh tak jauh dari pondok sederhana tempat korban tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun, di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu.
Dalam proses olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga kuat ditulis YBS sebelum mengakhiri hidupnya. Surat tersebut ditujukan kepada sang ibu dan ditulis dalam bahasa daerah Ngada. Isinya berpamitan dan meminta sang ibu tidak menangis, disertai gambar kecil bergambar wajah menangis.





