Danantara Bangun Pabrik Baja di Cilegon, Angin Segar bagi KRAS

katadata.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Badan Pengelolaan Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara berencana membangun pabrik di industri baja nasional. Langkah itu sebagai bagian dari upaya restrukturisasi dan penyehatan bisnis emiten baja pelat merah, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS).

Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria mengatakan, Danantara akan menyalurkan investasinya ke pabrik hilirisasi baja nasional yang akan dibangun di Cilegon, Banten.

Dony menjelaskan, Danantara saat ini tengah menggarap 21 proyek hilirisasi yang seluruhnya dilakukan secara mandiri untuk mendorong percepatan pembangunan dan industrialisasi nasional.

“Salah satunya industrialisasi baja di Cilegon ini. Krakatau Steel ini memang kami sedang lakukan penyehatan. Sekarang kondisi keuangannya sudah mulai sehat, sudah kami rapikan. Bisnis modelnya sudah kami rapikan. Kami mulai main lagi di upstream (sektor hulu),” kata Dony kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (4/1).

Ia menuturkan, pada tahap awal Danantara akan melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking pembangunan pabrik slab. Selama ini, kebutuhan slab industri baja nasional masih dipenuhi melalui impor. Dengan pembangunan pabrik tersebut, Indonesia diharapkan dapat memiliki fasilitas produksi slab sendiri.

Setelah pengembangan di sisi hulu berjalan, Danantara akan melanjutkan investasi ke sisi hilir (downstream) industri baja. Menurut Dony, keterlibatan Danantara dalam industri hilirisasi baja sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan basis pertumbuhan ekonomi nasional ke depan bertumpu pada sektor industri.

“Negara maju itu basisnya industri. Karena itu Danantara fokus kepada pengembangan industri,” ujarnya.

KRAS Keluhkan Dominasi Baja Murah dari Cina

Dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XI DPR Rabu (4/1) kemarin, Direktur Utama KRAS Akbar Djohan menyampaikan keluhannya terhadap dominasi produk baja murah asal Cina yang kian menguasai pasar Indonesia. Kondisi itu membuat produk baja dalam negeri, termasuk yang diproduksi Krakatau Steel, semakin sulit bersaing dalam setahun terakhir.

Akbar menuturkan, gempuran baja impor dari Cina bahkan telah mengakibatkan dua perusahaan baja nasional menghentikan operasionalnya. Tahun lalu, perusahaan patungan Krakatau Steel dengan Osaka Steel asal Jepang resmi menutup pabriknya. Selain itu, pabrik produk baja panjang (long product) milik anak usaha Mittal Steel Group, PT Ispat Indo di Surabaya, Jawa Timur, juga gulung tikar.

“Kita melihat Cina bukan lagi hanya mengekspor barang, tetapi sudah melakukan relokasi pabrik ke Indonesia yang berlangsung sekitar 10 hingga 12 tahun terakhir,” kata Akbar dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, kemarin.

Dari sisi internal, Akbar menyampaikan KRAS terus melakukan transformasi operasional untuk mengembalikan volume produksi ke level optimal. Upaya tersebut meliputi efisiensi biaya tetap, penutupan lini bisnis yang mencatatkan kinerja negatif serta fokus pada segmen dengan margin tinggi.

Akbar menyampaikan, berbagai langkah efisiensi, penggabungan core business baja, inovasi di anak usaha, serta transformasi budaya perusahaan menjadi fondasi pemulihan kinerja KRAS. 

Namun, ia menyoroti rendahnya tingkat utilisasi kapasitas industri baja nasional yang rata-rata masih di bawah 60%. Kondisi ini tak lepas dari derasnya masuk produk baja murah asal Cina. padahal, kata Akbar, produsen baja nasional seharusnya dapat memperoleh keuntungan seiring ramainya proyek strategis nasional yang akan dibangun tahun ini, seperti proyek 3 juta rumah, dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dan PSN lainnya.

Sementara itu, sebelumnya KRAS mengumumkan mendapatkan pinjaman senilai Rp 4,93 triliun dari PT Danantara Asset Management, Dana tersebut digunakan perseroan untuk mendukung proses restrukturisasi sebagai bagian dari upaya penyehatan keuangan perseroan.

Manajemen menyatakan penyertaan pinjaman tersebut akan memperkuat likuiditas perseroan sehingga kegiatan operasional dapat berjalan lebih optimal.

Kondisi tersebut diharapkan berdampak pada penurunan biaya produksi sekaligus peningkatan daya saing produk KRAS.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Golkar: Ambang Batas Parlemen Instrumen Menuju Sistem Multipartai Sederhana
• 22 jam laludetik.com
thumb
Kemenkes Minta Jangan Lagi Ributkan BPJS PBI: RS Harus Tetap Layani Pasien
• 6 menit lalusuara.com
thumb
Stadion Untia Masuk Tahap Lelang, Appi Belajar Tata Kelola JIS
• 23 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Mencoba Changan Deepal S07 Rute Garut–Jakarta, Apa Istimewanya?
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Poco F8 Series Debut di RI, Andalkan Chipset Elite dan Teknologi VisionBoost
• 20 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.