Bisnis.com, BALIKPAPAN — Neraca perdagangan Provinsi Kalimantan Timur mencatatkan surplus US$1,70 miliar pada Desember 2025, meskipun impor mengalami lonjakan US$603,73 juta atau naik 37,98%.
Kepala BPS Provinsi Kalimantan Timur, Mas'ud Rifai, menyatakan neraca perdagangan sektor nonmigas tercatat surplus sebesar US$1,96 miliar.
"Sebaliknya sektor migas tercatat defisit sebesar US$262,55 juta," ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip pada Kamis (5/2/2026).
Kendati demikian, tren yang patut dicermati adalah defisit berkelanjutan pada sektor migas yang mencapai US$262,55 juta pada Desember 2025.
Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Desember 2025, sektor migas bahkan membukukan defisit US$1,85 miliar, sementara sektor nonmigas mampu mencetak surplus US$17,92 miliar.
Mas'ud menambahkan bahwa lonjakan impor Desember 2025 dipicu oleh melonjaknya kebutuhan migas sebesar 50,61% dibandingkan November 2025.
Baca Juga
- Daya Beli Kaltim Terseok-seok di Tengah Kontraksi Lapangan Kerja
- Pariwisata Kaltim 2025 Melesat, Wisman Naik 113%
Impor minyak mentah menjadi kontributor utama dengan kenaikan fantastis 106,98%, mencapai US$400,71 juta. Hasil minyak juga naik 45,23% menjadi US$104,13 juta.
Di sisi lain, impor nonmigas justru mengalami kontraksi 12,66% menjadi US$76,27 juta. Penurunan ini terutama disebabkan oleh anjloknya impor mesin dan peralatan mekanis sebesar US$19,17 juta (45,05%) serta kapal dan struktur terapung yang turun US$12,08 juta (58,05%).
Berdasarkan negara asal, China tetap menjadi pemasok terbesar dengan nilai US$362,12 juta atau 32,04% dari total impor nonmigas periode Januari—Desember 2025.
Jerman berada di posisi kedua dengan US$99,20 juta (8,78%), disusul Amerika Serikat US$91,83 juta (8,12%).
Pada bulan Desember 2025 saja, impor dari China melonjak drastis US$16,47 juta (360,39%). Vietnam dan Filipina juga mencatatkan kenaikan signifikan masing-masing US$7,73 juta dan US$4,03 juta.
Sementara itu, kawasan Asean berkontribusi US$160,85 juta (14,23%), dan Uni Eropa menyumbang US$299,54 juta (26,50%) terhadap total impor nonmigas Kaltim sepanjang 2025.
Dari sisi penggunaan barang, impor Kaltim didominasi oleh bahan baku/penolong dengan nilai US$578,77 juta atau naik 47,37% dibanding November 2025. Kelompok ini menguasai 92,06% dari total impor periode Januari—Desember 2025.
Sebaliknya, impor barang konsumsi dan barang modal justru tergerus masing-masing 40,82% dan 44,39% pada Desember 2025.
Barang modal hanya berkontribusi 7,79% sepanjang tahun lalu, sementara barang konsumsi sangat minim dengan porsi 0,15%.
Lebih jauh, Mas'ud menyebutkan pelabuhan Balikpapan mencatatkan nilai impor terbesar, yaitu US$559,36 juta pada Desember 2025, atau melonjak 56,62% dari bulan sebelumnya. Kontribusinya mencapai 78,97% terhadap total impor Kaltim sepanjang 2025.
Pelabuhan Sepinggan dan Kariangau menyusul dengan nilai masing-masing US$18,38 juta dan US$15,74 juta. Kendati demikian, Pelabuhan Kariangau justru mengalami penurunan 6,64% dibandingkan November 2025.
Yang menjadi penyelamat neraca perdagangan adalah kinerja ekspor yang tetap superior. Nilai ekspor Desember 2025 mencapai US$2,30 miliar, naik 36,77% dari bulan sebelumnya. Ekspor nonmigas tumbuh 30,86%, sementara migas melesat 109,78%.
Komoditas lemak dan minyak hewani/nabati menjadi bintang dengan lonjakan US$293,54 juta (246,24%). Bahan bakar mineral juga naik US$175,37 juta, sedangkan pupuk meningkat US$37,36 juta.
Secara kumulatif Januari—Desember 2025, neraca perdagangan Kaltim surplus US$16,06 miliar. Adapun, Mas'ud menuturkan angka ini didukung oleh surplus nonmigas yang sangat besar, mampu menutupi defisit migas yang terus membengkak.





