Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian meminta agar Kemendikdasmen berkoordinasi dengan aparat penegak hukum. Menurutnya, radikalisme kini menyasar anak.
Pernyataan ini ia sampaikan buntut temuan pelaku ledakan molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kubu Raya, Kalimantan Barat, tergabung dalam komunitas digital yang sama dengan kasus bom di SMAN 72 Jakarta, yakni True Crime Community (TCC).
“Ya, tentu pertama kami prihatin ini, prihatin mendengar informasi seperti ini. Kami melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, meminta agar ada koordinasi dengan aparat penegak hukum,” ucap Lalu di DPR, Kamis (5/2).
“Karena kalau sudah mulai satu, dua, tiga, dan seterusnya, itu tentu akan menjadi persoalan serius,” tambahnya.
Lalu menilai, persoalan ini sudah menjadi genting. Ia mengingatkan bahwa penyebaran radikalisme kini sudah berpindah dari menyasar orang dewasa menjadi ke anak-anak.
“Apalagi target, kalau saya lihat sekarang ada pengalihan target ini, yang tadinya menggunakan orang biasa-biasa, orang dewasa, yang artinya di luar usia sekolah, sekarang targetnya menyasar anak-anak sekolah,” ucap Lalu.
“Nah, ini yang menjadi kekhawatiran bagi dunia pendidikan kita,” tambahnya.
Lalu menyebut akan ada pembahasan khusus terkait persoalan ini bersama Kemendikdasmen. Pembahasan itu akan dilakukan dalam rapat di DPR yang direncanakan digelar pekan depan.
“Kami di Komisi X insyaallah minggu depan akan bertemu dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah untuk membahas ini, melakukan pencegahan,” ucap Lalu.
“Dan tentu kami juga meminta tidak hanya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, orang tua, guru, kemudian seluruh stakeholder pendidikan yang ada di daerah, tidak hanya di pusat, ikut serta-merta bekerja bersama-sama menuntaskan masalah ini,” lanjutnya.
Politis PKB ini pun meminta agar seluruh pihak juga duduk bareng untuk menuntaskan persoalan kekerasan di sekolah.
“Sekolah, komite sekolah, orang tua, ini perlu diajak berdiskusi dan perlu forum sendiri. Tidak hanya bertemu ketika membahas sumbangan, tidak hanya bertemu ketika membahas acara, tetapi bertemu dalam rangka mencegah kekerasan-kekerasan,” ucap Lalu.
“Tidak hanya kekerasan verbal, kekerasan fisik, dan kekerasan seksual saja, ternyata hari ini ada yang lebih dahsyat dari itu, yaitu radikalisme sudah merambah ke sekolah-sekolah. Ini tidak boleh terjadi,” tambahnya.
Ia menilai, kini sekolah harus diberikan pengetahuan soal penyebaran radikalisme.
“Sekolah perlu diberikan pemahaman terkait dengan radikalisme, terkait dengan hal-hal yang sekiranya membuat anak-anak kita, siswa-siswi kita terpapar oleh radikalisme. Nah, itu perlu dari sekarang supaya tidak terulang terus,” tandasnya.
Diketahui, bom molotov di Kalbar tersebut dilakukan oleh siswa kelas IX sekolah tersebut. Sementara pelaku ledakan bom di SMAN 72 Jakarta ialah siswa di SMA itu.
Adanya komunitas True Crime Community ini sebetulnya sudah dipantau oleh Densus 88 sejak akhir tahun lalu. Mereka telah mewaspadai potensi paparan komunitas ini kepada anak-anak remaja.
Dilansir dari situs resmi Humas Polri, True Crime Community adalah komunitas yang tumbuh tanpa tokoh atau organisasi resmi, lalu memanfaatkan ruang digital yang transnasional dan sensasional.
Komunitas ini merupakan komunitas atau kelompok penggemar yang memiliki minat khusus terhadap kisah-kisah kriminal nyata, mulai dari kasus pembunuhan, hilangnya seseorang, penipuan, kriminal psikologis, hingga investigasi yang belum terpecahkan (cold cases).
Komunitas ini biasanya berkumpul di berbagai platform media sosial seperti YouTube, TikTok, podcast, Reddit, hingga Twitter/X.
BNPT mengumpulkan sejumlah data, dan mendapati bahwa komunitas ini bisa memicu remaja melakukan sesuatu yang ekstrem. Contohnya kasus ledakan SMAN 72 Jakarta, yang meniru perilaku tertentu demi merasa hebat.



