EtIndonesia. Perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang direncanakan akan digelar hari Jumat, 6 Februari 2026, kembali mengalami perubahan signifikan setelah Teheran menolak sejumlah syarat yang diajukan oleh Washington, mengancam runtuhnya diskusi diplomatik yang penting bagi stabilitas kawasan.
Penolakan Syarat dari Teheran: Fokus Nuklir Jadi Titik Konflik
Perundingan awalnya direncanakan berlangsung di Oman, tetapi pembicaraan itu dibatalkan saat Iran bersikeras hanya ingin membahas isu program nuklirnya saja. Tehran menolak untuk memperluas agenda pembicaraan ke topik lain seperti program rudal balistik dan hubungan jaringan kelompok proksi di wilayah.
Sumber diplomatik menyatakan pihak AS meminta Teheran menerima pembicaraan yang mencakup:
- penghentian pengayaan uranium sepenuhnya,
- pembatasan program rudal balistik Iran,
- penghentian dukungan bagi kelompok militan proksi di kawasan.
Pejabat Iran menilai tuntutan tersebut sebagai prasyarat yang tidak dapat diterima, terutama terkait pembahasan isu non-nuklir. Teheran menegaskan pihaknya hanya akan membahas program nuklir dan menolak pembicaraan yang mencakup topik lain.
Kondisi Negosiasi & Sikap AS Setelah Pembatalan
Pejabat AS mengatakan kepada delegasi Iran bahwa mereka harus menyetujui semua tuntutan AS atau perundingan tidak akan berlangsung. Iran memilih “tidak ada apa-apa”, sehingga dialog diplomatik tersebut batal.
Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dan penasihat Gedung Putih Jared Kushner, semula dijadwalkan terbang menuju Qatar untuk mencari solusi alternatif, kemudian kembali ke Miami tanpa melakukan pertemuan di Oman.
Meskipun demikian, sejumlah pejabat AS menyatakan bahwa pintu diplomasi belum tertutup. Jika Iran bersedia kembali ke format semula — memperluas pembicaraan atau setidaknya merespons kerangka yang diajukan Washington — perundingan masih bisa digelar pekan ini atau pekan depan.
Desakan Negara Arab & Dunia Islam
Sejumlah negara Arab dan Islam, termasuk Qatar dan Turkiye, mendesak AS agar tidak membatalkan pertemuan di Oman sehingga proses diplomasi tetap berjalan. Tekanan ini mendorong negosiasi kembali dihidupkan dan memperluas upaya diplomatik di kawasan.
Sikap Pemimpin AS: Rubio Belum Yakin Kesepakatan Tercapai
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menyatakan dirinya belum yakin bahwa kesepakatan dapat dicapai, mengingat perbedaan tajam antara posisi kedua pihak. AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium, melumpuhkan program rudal balistik, serta menghentikan dukungan terhadap kelompok ekstremis, sekaligus memperbaiki hak asasi dalam negeri.
Rubio juga menegaskan bahwa Washington tidak akan menerima kesepakatan apa pun jika rudal Iran masih dianggap sebagai ancaman terhadap sekutu wilayah seperti Israel.
Ancaman Militer dan Ketidakpastian Diplomasi
Sumber intelijen menyatakan pejabat Israel memperingatkan jika diplomasi gagal, potensi serangan militer terhadap fasilitas militer atau infrastruktur Iran akan meningkat tajam — sebuah skenario yang dapat menimbulkan eskalasi cepat dalam konflik regional.
Ancaman Serius dari AS dan Situasi Regional
Selain dinamika diplomasi, ketegangan militer di kawasan juga meningkat, dipicu oleh pernyataan keras dari kalangan Washington.
Pernyataan Trump di Ruang Oval
Pada 3 Februari 2026, Presiden AS, Donald Trump mengejutkan publik internasional saat menyatakan dalam pertemuan di Ruang Oval bahwa AS mungkin harus melakukan operasi militer “pemenggalan kepala” ala Venezuela terhadap Iran — yang berarti menggulingkan kepemimpinan rezim di Teheran — diikuti dengan serangkaian serangan udara besar layaknya kampanye udara di Libya. Pernyataan itu mencakup ancaman menghancurkan unit Garda Revolusi Iran yang diperkirakan berjumlah puluhan ribu personel.
Pengerahan Kekuatan Militer AS
AS juga dilaporkan sedang mengerahkan tambahan kekuatan militer ke Timur Tengah. Salah satu kelompok kapal induk, USS George H. W. Bush, dilaporkan menuju kawasan Teluk Persia sebagai sinyal kesiapan militer AS terhadap berbagai kemungkinan eskalasi.
Respons Negara Arab: Yordania & Arab Saudi
Menanggapi kemungkinan operasi militer anti-Iran:
- Yordania (4 Februari 2026) menyatakan tegas bahwa wilayahnya tidak akan digunakan sebagai basis untuk melancarkan serangan terhadap Iran, meskipun AS memiliki pangkalan udara dengan ribuan personel di negaranya.
- Arab Saudi juga menegaskan sikap tidak memberikan izin bagi operasi militer dari wilayahnya, namun Riyadh menyatakan akan menanggapi jika serangan besar terjadi terhadap negara Teluk atau pangkalan AS yang berada di kawasan.
Kesimpulan: Diplomasi di Titik Genting
Perundingan nuklir AS–Iran yang seharusnya berlangsung Jumat ini berada dalam ketidakpastian besar. Ketegangan antara kebutuhan diplomasi dan tekanan militer memperlihatkan lingkungan geopolitik yang sangat rentan:
- Iran bersikeras hanya akan membahas isu nuklir, menolak pembicaraan tentang rudal balistik dan agresinya di kawasan.
- AS menuntut cakupan negosiasi yang lebih luas, sementara para pemimpin AS sendiri menyuarakan sikap keras terhadap rezim Teheran.
- Negara kawasan mendorong diplomasi tetap berjalan untuk mencegah konflik yang lebih besar.
Dengan berbagai tekanan diplomatik dan ancaman militer yang terus meningkat, perkembangan selanjutnya di Muscat dan Washington akan menjadi penentu kritis bagi masa depan hubungan AS–Iran dan stabilitas di Timur Tengah.




