FAJAR, SOLO – Nasib sial kembali menghampiri Persis Solo. Striker asing baru mereka asal Brasil, Clayton da Silveira da Silva, secara resmi dilarang bermain di Super League 2025/2026 oleh PSSI.
Kegagalan registrasi eks penggawa Timnas Brasil U-23 ini menjadi kesialan ketiga bagi Laskar Sambernyawa dalam urusan perekrutan pemain impor sepanjang musim ini. Kok bisa?
Clayton Silva, yang baru saja diperkenalkan ke publik Solo pada Sabtu (31/1/2026), harus menerima kenyataan pahit hanya empat hari setelah peresmiannya. Melalui surat resmi, PSSI menyatakan pemain berusia 30 tahun tersebut tidak memenuhi syarat administratif untuk merumput di kompetisi kasta tertinggi Indonesia.
Penyebab utamanya adalah klub terakhir yang dibela Clayton, yakni Diamond Harbour, hanya berkompetisi di kasta kedua Liga India (I-League). Berdasarkan regulasi ketat PSSI, pemain asing yang datang dari Liga India hanya diizinkan jika berasal dari kasta tertinggi (Indian Super League).
Pihak Persis Solo sebenarnya telah berupaya melakukan lobi dengan argumen bahwa Clayton terakhir kali aktif di Perak FC (Liga Super Malaysia), mengingat kompetisi di India sedang vakum akibat masalah sponsor. Namun, upaya tersebut kandas dan memaksa Persis menelan konsekuensi dari perekrutan berisiko ini.
Dalam keterangan resmi klub yang dirilis Rabu (4/2/2026) malam, Persis menyatakan bahwa pemain dengan nama lengkap Clayton da Silveira da Silva tidak akan melanjutkan karier bersama tim.
Hal itu terkait adanya Surat Pemberitahuan Terkait Pemain Asing dari PSSI pada Senin, 2 Februari 2025 dengan nomor surat 447 /UDN/275/II-2026 yang menyatakan ia tidak memenuhi syarat untuk tampil di BRI Super League 2025/26.
Hat-trick Kesialan di Bursa Transfer
Kasus Clayton Silva melengkapi rentetan “kegagalan” manajemen Persis Solo dalam mendatangkan pemain asing musim ini.
Kasus Fuad Sule: Di awal musim, Persis baru menyadari Fuad Sule membawa sanksi larangan bertanding global dari FIFA setelah sang pemain sempat dimainkan di laga perdana. Akibatnya, ia terpaksa absen dalam 9 pertandingan awal.
Misteri Mateo Kocijan: Berniat menambal lubang yang ditinggalkan Fuad Sule, Persis menjalin kesepakatan dengan Mateo Kocijan. Namun, mantan pemain Persib tersebut tidak pernah menampakkan batang hidungnya di Solo dan justru dilaporkan bergabung dengan klub Kroasia, NK Tehnicar 1974.
Administrasi Clayton Silva: Menjadi penutup rangkaian nasib sial di mana sang pemain sudah tiba dan diumumkan, namun terganjal aturan strata kompetisi asal.
Sebagai langkah penyelamatan, manajemen Persis Solo berencana membantu Clayton mendapatkan menit bermain di klub lain. Kabar yang beredar menyebutkan ia akan dipinjamkan ke tim kasta kedua, Garudayaksa FC, sebelum diproyeksikan kembali memperkuat Laskar Sambernyawa pada musim depan.
Rapor Merah Manajemen
Terulangnya kasus administratif menunjukkan adanya lubang besar dalam proses verifikasi pemain sebelum kontrak ditandatangani. Kasus strata liga dan sanksi FIFA seharusnya bisa dideteksi lebih awal melalui sistem Transfer Matching System (TMS).
Tiga kali melakukan kesalahan rekrutmen berarti Persis membuang anggaran untuk kontrak dan fasilitas pemain yang tidak bisa memberikan kontribusi instan di lapangan. Secara taktis, pelatih Peter de Roo atau penerusnya dipaksa bekerja dengan skuat timpang.
Rentetan insiden “kecolongan” ini berpotensi merusak citra Persis Solo di mata pemain asing berkualitas lainnya dan agen pemain internasional, yang mungkin akan lebih ragu untuk menjalin kerja sama di masa depan.
Persis Solo membutuhkan sosok Direktur Teknik yang sangat paham dengan regulasi terbaru PSSI dan FIFA untuk memastikan setiap pemain yang didatangkan sudah “bersih” secara hukum dan administratif sebelum diperkenalkan ke Bobotoh. (*)




