FAJAR, NGADA – Ada fakta terbaru penyebab kematian YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain faktor ketidakmampuan membeli alat tulis, korban setiap hari ditagih kekurangan uang sekolah Rp720 ribu.
Meski menimba ilmu di sekolah negeri, YBS dibebankan biaya sebesar Rp1.220.000 per tahun yang sistem pembayarannya dilakukan dengan cara mencicil. Keluarga korban diketahui telah membayar Rp500 ribu untuk semester pertama. Namun, sisa tunggakan sebesar Rp720 ribu untuk semester kedua terus membayangi.
Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DPMDP3A Ngada, Veronika Milo, menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan biaya berjalan yang harus dilunasi secara bertahap.
“Itu hanya untuk kelas IV. Itu bukan dikatakan tunggakan, karena dia masih tahun berjalan. Di sekolah itu bayarnya cicil, tahap pertama semester satu sebesar Rp500 ribu dan itu sudah mereka lunasi. Jadi untuk semester II ini membayar yang sisanya ini (Rp720 ribu),” ungkap Veronika, Rabu (4/2/2026) malam.
Penagihan Setiap Hari
Berdasarkan hasil investigasi tim UPTD PPA saat menemui pihak sekolah pada Selasa (3/2), terungkap bahwa para siswa dikumpulkan setiap hari sebelum pulang sekolah. Dalam kesempatan tersebut, guru mengingatkan siswa agar menyampaikan kepada orang tua mereka untuk segera mencicil sisa pembayaran.
Veronika menekankan bahwa pihaknya telah melakukan kroscek mengenai kemungkinan adanya perlakuan keras atau ancaman pengusiran terhadap YBS jika tidak segera membayar.
“Jawaban pihak sekolah, itu bersifat informasi. Kumpulkan anak-anak jam pulang sekolah, setiap hari itu dilakukan. Kalau ada, disampaikan kepada orang tua kalau ada uang dicicil karena dia punya itu masih Rp720 ribu,” terang Veronika.
Meskipun sekolah mengklaim tindakan tersebut hanyalah pemberian informasi rutin tanpa disertai ancaman pengusiran, frekuensi penagihan yang dilakukan setiap hari. Hal ini diduga memberikan tekanan psikologis bagi anak berusia 10 tahun tersebut. Terlebih di tengah kondisi keluarganya yang sedang mengalami kesulitan ekonomi hebat.
Kronologi Tragedi
Tragedi ini bermula dari permintaan sederhana seorang anak yatim. Sehari sebelum ditemukan tak bernyawa di sebuah pohon cengkih, YBS sempat meminta sang ibu membelikan buku tulis dan pulpen. Namun, karena himpitan ekonomi yang sangat berat, permintaan tersebut tak mampu dikabulkan.
Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, mengatakan YBS sebagai anak yang rajin dan pendiam. Selama ini, YBS tinggal bersama neneknya yang sudah renta berusia 80 tahun dalam kondisi serba kekurangan.
“Menurut keterangan tetangga, dia anak yang baik dan rajin sekolah. Tidak ada tanda-tanda yang mencolok bahwa dia menyimpan beban berat,” ujar Bernardus.
Surat Wasiat Pilu
Kepolisian Polres Ngada yang menangani kasus ini menemukan bukti betapa dalamnya luka batin yang dipendam bocah berusia 10 tahun tersebut. Sebuah surat wasiat yang ditulis tangan menggunakan bahasa daerah setempat ditemukan di lokasi kejadian.
Isi pesan perpisahan YBS untuk ibunya tersebut sangat menyayat hati: “Mama saya pergi dulu, mama relakan saya pergi, jangan menangis ya mama. Mama saya pergi tidak perlu mama menangis dan mencari atau merindukan saya.” (*)





