EtIndonesia. Baru-baru ini, terungkap sebuah kasus pembunuhan brutal di daratan Tiongkok. Seorang pria berusia 20 tahun di Provinsi Sichuan membunuh dua orang yang kebetulan lewat tanpa alasan, dan kakek-neneknya membantu membakar mayat untuk menghilangkan bukti. Beberapa hari kemudian, pria tersebut kembali membunuh pacarnya yang berusia 17 tahun. Ia akhirnya dijatuhi hukuman mati.
Menurut sebuah putusan peninjauan hukuman mati yang dipublikasikan di situs China Judgments Online, pada 27 Mei 2020, seorang pria bermarga Wang (Wang Moujia, saat itu berusia 20 tahun) dari Kabupaten Gaoxian, Kota Yibin, Provinsi Sichuan, bertengkar dengan pacarnya bermarga Fan.
Fan kemudian meninggalkan Wang dan pulang ke rumahnya di Kunming, Yunnan. Wang menyimpan dendam dan berniat membalas dengan membunuh perempuan.
Pada 31 Mei 2020 malam, Wang membawa pisau belati dan kain ke sebuah persimpangan tiga jalan di tepi desa. Sekitar pukul 20.00, ia bertemu dua pekerja perempuan dari Pabrik Beton China Railway Third Bureau, Liu Moumou dan Li Moujia, yang sedang berjalan-jalan di jalan desa. Dengan dalih menunjukkan arah, Wang menipu keduanya masuk ke sebuah jalan kecil di dalam desa, lalu membunuh mereka. Setelah itu, ia menguburkan jasad kedua korban di kebun murbei di dalam desa.
Keesokan harinya, Wang memberi tahu neneknya, Li Mouyi, tentang pembunuhan dan penguburan tersebut. Li Mouyi kemudian memberitahu suaminya, Wang Mouyi. Kakek dan nenek Wang menggali kembali jasad Liu dan Li, memindahkannya ke kandang babi di rumah mereka, menyiramnya dengan bensin dan minyak goreng lalu membakarnya. Setelah itu, sebagian sisa-sisa jasad dibuang ke kolam ikan di depan rumah dan ke sungai.
Pada 10 Juni di tahun yang sama, Wang bertemu kembali dengan pacarnya, Fan. Karena perselisihan verbal, Wang berniat membunuh Fan. Sore keesokan harinya, keduanya bertemu di sebuah hotel dan kembali bertengkar. Wang mengikat kedua tangan Fan ke belakang dengan kain yang telah disiapkan sebelumnya, lalu mencekik leher Fan dengan kain lain sebelum melarikan diri dari lokasi. Fan meninggal dunia akibat mati lemas mekanis.
Pada 22 Juli 2021, Pengadilan Menengah Kota Yibin, Provinsi Sichuan, menjatuhkan hukuman mati kepada Wang Moujia atas kejahatan pembunuhan berencana.
Kakek dan nenek Wang juga dinyatakan oleh pengadilan telah melakukan tindak pidana, namun rincian tanggung jawab pidana dan hukuman spesifik yang harus mereka jalani tidak diungkapkan.
Kasus ini memicu perdebatan hangat di kalangan warganet. Beberapa komentar di antaranya:
“Akibat buruk dari kegagalan pendidikan keluarga terlihat jelas pada keluarga ini. Mengetahui cucunya membunuh orang, reaksi pertama bukan menyerahkan diri ke polisi, melainkan membantu membakar dan membuang mayat. Ini bukan kasih sayang, melainkan pembiaran.”
“Semua kejahatan besar bermula dari kesalahan kecil. Keluarga asal punya peran besar.”
“Setelah membunuh dua orang, mereka masih membantunya menyembunyikan kejahatan dan menghancurkan bukti. Ini menunjukkan betapa dimanjakannya Wang sejak kecil oleh keluarganya. Jika bukan karena penutupan fakta yang disengaja oleh kakek-neneknya, mungkin tidak akan ada korban ketiga. Wang sangat kejam, dan keluarganya memikul tanggung jawab yang tak bisa dilepaskan, terutama kakek dan neneknya, yang harus dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan menyembunyikan dan melindungi pelaku.”
Reporter: Li Li, laporan kompilasi / Editor Lin Qing





