VIVA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, harus "sangat khawatir," karena kedua pihak bersiap untuk negosiasi formal pertama mereka sejak AS membom program nuklir Teheran tahun lalu.
Ketegangan antara kedua negara telah meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir menyusul penindakan brutal oleh pasukan keamanan Iran terhadap para demonstran anti-pemerintah di seluruh negeri yang mendorong Trump untuk mengirim "armada" militer AS ke wilayah tersebut dan mengancam akan melancarkan serangan.
Militer Iran telah memperingatkan bahwa setiap serangan akan dibalas dengan respons segera dan tegas, termasuk serangan terhadap pasukan dan aset AS di wilayah tersebut.
"Saya akan mengatakan bahwa dia (pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei) harus sangat khawatir. Ya, dia seharusnya khawatir," kata Trump kepada NBC News dalam sebuah wawancara pada hari Rabu, 4 Februari 2026.
Trump, yang pertama kali mengancam serangan terhadap Iran selama penindakan terhadap demonstrasi jalanan bulan lalu, mengatakan tindakannya telah mendukung para demonstran, meskipun tidak sampai melakukan tindakan langsung.
Pembicaraan penting ini dijadwalkan berlangsung pada hari Jumat, di ibu kota Oman, Muscat, dan akan melibatkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan khusus Trump, Steve Witkoff, menurut kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan pemerintah Iran.
Namun, kedua pihak tampaknya memiliki agenda yang berbeda.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengkonfirmasi bahwa pemerintahan Trump ingin negosiasi difokuskan tidak hanya pada program nuklir Iran, tetapi juga "jangkauan rudal balistik mereka," "dukungan mereka terhadap organisasi teroris di seluruh wilayah," dan "perlakuan terhadap rakyat mereka sendiri."
Mengutip kementerian luar negeri Iran, Tasnim melaporkan bahwa negosiasi akan dibatasi pada program nuklir Iran dan pencabutan sanksi sebagai "tuntutan utama" negara tersebut.
Iran dan AS mengadakan beberapa putaran pembicaraan nuklir tidak langsung pada April dan Mei 2025 sebelum serangan mendadak Israel pada pertengahan Juni terhadap Iran menyebabkan pembatalan pembicaraan lebih lanjut.
Hal itu diikuti beberapa hari kemudian oleh serangan AS terhadap Iran, yang secara efektif mengakhiri proses tersebut.



