KUPANG, KOMPAS - Tragedi anak SD yang bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menyayat hati. PDI-Perjuangan menyebutnya sebagai bentuk kegagalan negara dalam menyelamatkan warganya yang masuk kategori miskin ekstrem.
"Ini adalah potret kegagalan negara dalam mewujudkan rasa adil dan kesejahteraan buat rakyat kecil. Kenapa demikian? Ada banyak mereka yang tidak terjaring dalam kebijakan bantuan sosial gara-gara alasan adminstrasi kependudukan," kata Yunus Takandewa, Ketua Fraksi PDI-Perjuangan di DPRD NTT.
Menurut Yunus, tragedi anak SD bunuh diri mengungkapkan tabir kegagalan negara mengurus kebutuhan dasar masyarakat kecil. Kegagalan itu terjadi di tengah berbagai program spektakuler pemerintah. Di era Presiden Prabowo Subianto, salah satu program spektakuler adalah makan bergizi gratis.
Ia pun mendorong perubahan haluan kebijakan bantuan sosial atau apapun namanya, melalui Kementerian Sosial dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Perubahan itu, kata dia, dalam hal kebijakan kependudukan. Keluarga dari anak korban bunuh diri itu, misalnya, ternyata belum sekali pun mendapatkan bantuan sosial pemerintah.
Ia pun berharap agar kejadian semacam itu jangan sampai terulang kembali. "Kami mendorong pemerintah agar hal-hal seperti ini dilihat sebagai prioritas utama. Jangan ketika sudah terjadi hal-hal seperti ini lalu tiba-tiba kita semua menjadi sinterklas dan menjadi pemadam kebakaran," katanya.
Sementara itu, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena murka menyikapi kasus ini. Ia marah dan menyebut hal itu sebagai kegagalan bersama. Kegagalan pemerintah, pranata sosial, masyarakat, hingga institusi keagamaan.
Hingga Kamis (5/2/2026), peristiwa memilukan ini masih menjadi perbincangan berbagai pihak. Beredar video yang menunjukkan kemarahan Melki, sapaan Melkiades.
Menurut dia, kejadian tersebut merupakan tamparan keras bagi nurani dan kemanusiaan. Ini juga pengingat bahwa masih terdapat celah serius dalam sistem perlindungan sosial yang harus segera dibenahi agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
"Jangan sampai hanya karena persoalan administrasi kependudukan, warga miskin kehilangan hak atas bantuan. Ini soal kemanusiaan. Data adalah pintu masuk semua layanan," ujar Melki.
Korban merupakan siswa kelas IV salah satu sekolah dasar di Kabupaten Ngada. MN, kepala sekolah korban menuturkan, korban termasuk anak yang periang. Sehari sebelum peristiwa naas itu, korban masih sempat ke sekolah.
"Masih main bola. Masih lari-lari dengan kawan," ujar MN.
Selama bersekolah di situ, korban tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok di tengah kebun. Jarak pondok ke sekolah lebih kurang 500 meter. Korban sering berjalan kaki melewati kebun warga.
MN tidak pernah menyangka anak sekecil itu mengakhiri hidupnya dengan cara tragis. Korban ditemukan tak bernyawa pada Kamis (29/1/2026) siang.
"Kenapa dia punya pikiran meninggal dengan cara seperti itu. Beban sebarat apa yang dia pikul? Dia ini kan anak kecil? Kami tidak mengerti dengan misteri hidup ini. Molo (selamat jalan), anak. Bahagia di surga," kata Maria yang dihubungi secara terpisah.
Sofia Ambarini, pendiri Indonesia Sehat Jiwa mengatakan, selalu ada kemungkinan seorang anak berusia 10 tahun melakukan aksi bunuh diri. Itu bisa terjadi jika anak itu mengalami tekanan atau rasa putus asa berulang kali atas sebuah kondisi. Misalnya hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Di sisi lain, Sofia mengingatkan para orangtua agar menangani secara tepat anak yang mengalami kondisi semacam itu. Jika permintaan anak tidak dapat dipenuhi, orangtua harus memberi jawaban yang membangkitkan harapan.
"Jangan bilang tidak punya uang dan ekonomi lagi susah. Ini nadanya jadi negatif. Ubahlah menjadi harapan. Bilang bahwa sedang usahakan untuk mendapatkan uang," kata Sofia.
Dosen filsafat pada Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, RD Leonardus Mali, berpendapat, kemiskinan ekstrem seringkali membunuh lebih awal imajinasi anak anak untuk bahagia dan bergembira dalam hidup. Anak-anak dari keluarga miskin ekstrem itu tidak tau tujuan hidup mereka.
"Dalam keadaan seperti ini, anak anak kecil yang cerdas, lebih mudah mengakses informasi yang tidak tersaring di media sosial. Mereka bisa saja meniru keputusan ini (bunuh diri) dari tayangan di media sosial," kata Leonardus.
Seperti diberitakan sebelumnya, korban meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya. Surat yang ditulis tangan itu ditemukan sekitar lokasi kejadian. Berikut bunyi surat korban dalam bahasa Ngada.
KERTAS TII MAMA RETI
MAMA GALO ZEE
MAMA MOLO JA’O
GALO MATA MAE RITA EE MAMA
MAMA JAO GALO MATA
MAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EE
MOLO MAMA
Artinya
SURAT BUAT MAMA RETI
MAMA SAYA PERGI DULU
MAMA RELAKAN SAYA PERGI (MENINGGAL)
JANGAN MENANGIS YA MAMA
MAMA SAYA PERGI (MENINGGAL)
TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA
SELAMAT TINGGAL MAMA




