Anak SD Bunuh Diri di NTT, PDI-P: Potret Kegagalan Negara

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

KUPANG, KOMPAS - Tragedi anak SD yang bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menyayat hati. PDI-Perjuangan menyebutnya sebagai bentuk kegagalan negara dalam menyelamatkan warganya yang masuk kategori miskin ekstrem.

"Ini adalah potret kegagalan negara dalam mewujudkan rasa adil dan kesejahteraan buat rakyat kecil. Kenapa demikian? Ada banyak mereka yang tidak terjaring dalam kebijakan bantuan sosial gara-gara alasan adminstrasi kependudukan," kata Yunus Takandewa, Ketua Fraksi PDI-Perjuangan di DPRD NTT.

Menurut Yunus, tragedi anak SD bunuh diri mengungkapkan tabir kegagalan negara mengurus kebutuhan dasar masyarakat kecil. Kegagalan itu terjadi di tengah berbagai program spektakuler pemerintah. Di era Presiden Prabowo Subianto, salah satu program spektakuler adalah makan bergizi gratis.

Ia pun mendorong perubahan haluan kebijakan bantuan sosial atau apapun namanya, melalui Kementerian Sosial dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Perubahan itu, kata dia, dalam hal kebijakan kependudukan. Keluarga dari anak korban bunuh diri itu, misalnya, ternyata belum sekali pun mendapatkan bantuan sosial pemerintah.

Ia pun berharap agar kejadian semacam itu jangan sampai terulang kembali. "Kami mendorong pemerintah agar hal-hal seperti ini dilihat sebagai prioritas utama. Jangan ketika sudah terjadi hal-hal seperti ini lalu tiba-tiba kita semua menjadi sinterklas dan menjadi pemadam kebakaran," katanya.

Gubernur NTT Marah 

Sementara itu, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena murka menyikapi kasus ini. Ia marah dan menyebut hal itu sebagai kegagalan bersama. Kegagalan pemerintah, pranata sosial, masyarakat, hingga institusi keagamaan.

Hingga Kamis (5/2/2026), peristiwa memilukan ini masih menjadi perbincangan berbagai pihak. Beredar video yang menunjukkan kemarahan Melki, sapaan Melkiades.

Menurut dia, kejadian tersebut merupakan tamparan keras bagi nurani dan kemanusiaan. Ini juga pengingat bahwa masih terdapat celah serius dalam sistem perlindungan sosial yang harus segera dibenahi agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.

"Jangan sampai hanya karena persoalan administrasi kependudukan, warga miskin kehilangan hak atas bantuan. Ini soal kemanusiaan. Data adalah pintu masuk semua layanan," ujar Melki.

Korban merupakan siswa kelas IV salah satu sekolah dasar di Kabupaten Ngada. MN, kepala sekolah korban menuturkan, korban termasuk anak yang periang. Sehari sebelum peristiwa naas itu, korban masih sempat ke sekolah.

"Masih main bola. Masih lari-lari dengan kawan," ujar MN.

Baca JugaMungkinkah Seorang Anak SD Mampu Bunuh Diri?
Baca JugaKasus Anak SD Bunuh Diri, Polisi Pastikan Tidak Ada Tanda-tanda Kekerasan 
Baca JugaAnak SD Bunuh Diri lantaran Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Tamparan bagi Negara

Selama bersekolah di situ, korban tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok di tengah kebun. Jarak pondok ke sekolah lebih kurang 500 meter. Korban sering berjalan kaki melewati kebun warga.

MN tidak pernah menyangka anak sekecil itu mengakhiri hidupnya dengan cara tragis. Korban ditemukan tak bernyawa pada Kamis (29/1/2026) siang.

"Kenapa dia punya pikiran meninggal dengan cara seperti itu. Beban sebarat apa yang dia pikul? Dia ini kan anak kecil? Kami tidak mengerti dengan misteri hidup ini. Molo (selamat jalan), anak. Bahagia di surga," kata Maria yang dihubungi secara terpisah.

Sofia Ambarini, pendiri Indonesia Sehat Jiwa mengatakan, selalu ada kemungkinan seorang anak berusia 10 tahun melakukan aksi bunuh diri. Itu bisa terjadi jika anak itu mengalami tekanan atau rasa putus asa berulang kali atas sebuah kondisi. Misalnya hidup dalam kemiskinan ekstrem.

Baca JugaKenapa Pelaku Bunuh Diri Meninggalkan Pesan yang Ditulis Tangan?
Baca JugaAnak SD di NTT Bunuh Diri, Ada Fenomena Lebih Gelap dari Sekadar Tidak Punya Uang
Baca JugaKasus Anak SD Bunuh Diri, Kapolda NTT Kirim Psikolog dan Konselor Dampingi Keluarga 

Di sisi lain, Sofia mengingatkan para orangtua agar menangani secara tepat anak yang mengalami kondisi semacam itu. Jika permintaan anak tidak dapat dipenuhi, orangtua harus memberi jawaban yang membangkitkan harapan.

"Jangan bilang tidak punya uang dan ekonomi lagi susah. Ini nadanya jadi negatif. Ubahlah menjadi harapan. Bilang bahwa sedang usahakan untuk mendapatkan uang," kata Sofia.

Dosen filsafat pada Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, RD Leonardus Mali, berpendapat, kemiskinan ekstrem seringkali membunuh lebih awal imajinasi anak anak untuk bahagia dan bergembira dalam hidup. Anak-anak dari keluarga miskin ekstrem itu tidak tau tujuan hidup mereka.  

"Dalam keadaan seperti ini, anak anak kecil yang cerdas, lebih mudah mengakses informasi yang tidak tersaring di media sosial. Mereka bisa saja meniru keputusan ini (bunuh diri) dari tayangan di media sosial," kata Leonardus.

Seperti diberitakan sebelumnya, korban meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya. Surat yang ditulis tangan itu ditemukan sekitar lokasi kejadian. Berikut bunyi surat korban dalam bahasa Ngada.

KERTAS TII MAMA RETI

MAMA GALO ZEE

MAMA MOLO JA’O

GALO MATA MAE RITA EE MAMA

MAMA JAO GALO MATA

MAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EE

MOLO MAMA

Artinya 

SURAT BUAT MAMA RETI

MAMA SAYA PERGI DULU

MAMA RELAKAN SAYA PERGI (MENINGGAL)

JANGAN MENANGIS YA MAMA

MAMA SAYA PERGI (MENINGGAL) 

TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA

SELAMAT TINGGAL MAMA


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kasus Anak Bunuh Diri di NTT, Eddy Soeparno: Harus Jadi yang Terakhir
• 3 jam laludetik.com
thumb
Virus Nipah: Mengapa Perlu Waspada?
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
KPK Pamerkan Barang Bukti Suap Rp 1 M ke Kepala Kantor Pajak Banjarmasin
• 1 jam laludetik.com
thumb
Indonesia Vs Jepang di Semifinal Piala Asia Futsal 2026, Perasaan Hector Souto Campur Aduk
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Kabar Baik, MBG Prabowo Bakal Menyasar ke Lansia
• 11 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.