Virus Nipah: Mengapa Perlu Waspada?

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan bahwa hingga 1 Februari 2026 belum ada kasus virus Nipah yang terkonfirmasi pada manusia di Indonesia. Meski demikian, kewaspadaan perlu ditingkatkan mengingat Indonesia termasuk wilayah berisiko berdasarkan kedekatan geografis dengan negara-negara yang pernah mengalami wabah, seperti India dan Bangladesh.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menjelaskan bahwa hasil penelitian di Indonesia menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada kelelawar buah (Pteropus sp.), yang merupakan tempat hidup (reservoir) alami virus ini. Penelitian yang dipublikasikan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada 2025, mengonfirmasi deteksi virus Nipah pada kelelawar Pteropus hypomelanus di Jawa Tengah, menandakan potensi sumber penularan memang ada di Indonesia.

Spektrum Gejala yang Perlu Dikenali

Menurut CDC, gejala virus Nipah biasanya muncul dalam 4-14 hari setelah terpapar virus, meski dalam kasus langka dapat mencapai 45 hari. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa sebagian besar penderita mengalami demam sebagai gejala awal, diikuti dengan sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, dan kesulitan bernapas.

Dalam 3-14 hari masa sakit, pasien dapat mengalami gejala yang melibatkan otak seperti kebingungan atau disorientasi, dan sesak napas. Pada kasus berat, infeksi dapat berkembang menjadi ensefalitis atau peradangan otak. CDC mencatat tingkat kematian berkisar antara 40-75 persen, dengan beberapa penyintas dapat mengalami gejala jangka panjang seperti kejang persisten serta perubahan kepribadian.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan

Manifestasi klinis tidak khas dan menyerupai berbagai infeksi lain, itulah yang menyebabkan tantangan dalam diagnosis infeksi virus Nipah. Meskipun demikian, deteksi dini sangat krusial untuk meningkatkan peluang keberlangsungan hidup, mencegah penularan, dan mengendalikan wabah. Tenaga kesehatan harus mempertimbangkan kemungkinan infeksi virus Nipah pada pasien dengan gejala relevan yang memiliki riwayat perjalanan ke daerah endemis seperti India atau Bangladesh dalam 14 hari terakhir.

Pada fase awal infeksi, diagnosis dapat ditegakkan melalui pemeriksaan real-time polymerase chain reaction (RT-PCR) terhadap sampel usap tenggorokan dan hidung, cairan serebrospinal, urine, atau darah. Sementara itu, diagnosis infeksi pada fase lanjut maupun setelah masa pemulihan, dapat menggunakan pemeriksaan serologis menggunakan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Kemenkes menyiapkan reagen PCR untuk deteksi dini dan menunjuk laboratorium rujukan nasional untuk pemeriksaan sampel suspek infeksi virus Nipah.

Pencegahan Penyakit yang Efektif

WHO menekankan pentingnya edukasi masyarakat terkait faktor risiko dan langkah-langkah pencegahan. Upaya pencegahan utama adalah mengurangi akses kelelawar terhadap sumber makanan manusia. Buah-buahan harus dicuci dan dikupas secara menyeluruh, dan buah dengan tanda gigitan kelelawar harus dibuang. Selain kelelawar, hewan ternak seperti babi dan kuda juga dapat berperan sebagai pembawa (inang) perantara virus Nipah.

CDC merekomendasikan untuk menghindari kontak dengan kelelawar atau hewan sakit, tidak menyentuh apa pun yang mungkin tercemar oleh hewan yang terinfeksi, dan rutin mencuci tangan dengan sabun. Bagi pelaku perjalanan dari India atau negara terjangkit, wajib melapor melalui aplikasi All Indonesia dan segera memeriksakan diri jika mengalami gejala dalam 14 hari setelah kepulangan. Di fasilitas kesehatan,

WHO menyarankan penerapan kewaspadaan standar termasuk penggunaan alat pelindung diri, isolasi pasien suspek atau terkonfirmasi di ruang terpisah, dan penerapan prosedur pencegahan infeksi yang ketat. Berbeda dengan COVID-19 yang kini memiliki vaksin dan berbagai pilihan terapi, virus Nipah hingga saat ini belum memiliki vaksin berlisensi maupun obat spesifik yang telah disetujui untuk pengobatan. Menurut WHO dan CDC, penanganan pasien Nipah masih bergantung sepenuhnya pada perawatan suportif intensif seperti pemberian cairan, bantuan pernapasan, dan penanganan komplikasi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KPK Tetapkan Mulyono Tersangka Pajak
• 3 jam lalujpnn.com
thumb
BEI Perketat Syarat dan Aturan IPO
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polisi Periksa 2 Komika Pembuka Acara Mens Rea, Ada Dany Beler dan Ben Dhanio
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
Photography Kit vivo - Oppo Bakal Hadir di iPhone
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Wamenlu: Komite Nasional Dewan Perdamaian Gaza Bakal Diisi Teknokrat Palestina
• 8 jam lalumatamata.com
Berhasil disimpan.