China Sayangkan New START Berakhir, Desak AS Dialog Lagi dengan Rusia

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

China menyayangkan berakhirnya Perjanjian New START antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia, serta mendesak Washington segera melanjutkan dialog dengan Moskow soal stabilitas strategis. Pernyataan itu disampaikan Kamis (5/2), sehari setelah perjanjian pengurangan senjata nuklir tersebut resmi berakhir.

Perjanjian New START berakhir pada Rabu (4/2) malam, menandai berakhirnya lebih dari setengah abad pembatasan senjata nuklir strategis antara AS dan Rusia. Berakhirnya perjanjian ini memicu kekhawatiran soal masa depan pengendalian senjata nuklir global.

“China menyayangkan berakhirnya Perjanjian New START, karena perjanjian ini sangat penting untuk menjaga stabilitas strategis global,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, seperti dikutip dari Reuters.

Menurut Lin, komunitas internasional secara luas menilai berakhirnya perjanjian tersebut berpotensi berdampak negatif terhadap sistem pengendalian senjata nuklir internasional dan tatanan nuklir global.

Sebelumnya, Rusia menyatakan tetap terbuka untuk pembicaraan keamanan dan bahkan mengusulkan agar kedua pihak tetap menghormati batas-batas utama dalam perjanjian tersebut. Namun Moskow juga menegaskan akan menanggapi secara tegas setiap ancaman baru.

Menanggapi hal itu, China mendorong AS untuk merespons secara konstruktif.

“China menyerukan AS agar merespons secara positif, menangani pengaturan lanjutan perjanjian ini secara bertanggung jawab, dan sesegera mungkin melanjutkan dialog stabilitas strategis dengan Rusia,” ujar Lin.

Dalam pernyataannya yang dilaporkan Reuters, China juga kembali menegaskan sikapnya terkait senjata nuklir.

“China secara konsisten menganut strategi nuklir defensif, mematuhi kebijakan tidak menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu, serta berkomitmen tanpa syarat untuk tidak menggunakan atau mengancam penggunaan senjata nuklir terhadap negara non-nuklir dan zona bebas senjata nuklir,” kata Lin.

Lin menambahkan, kekuatan nuklir China jauh lebih kecil dibanding AS dan Rusia, serta menegaskan Beijing tidak akan bergabung dalam perundingan pengurangan senjata nuklir bilateral antara kedua negara tersebut.

Sementara itu, Gedung Putih menyatakan Presiden Donald Trump akan memutuskan langkah lanjutan terkait pengendalian senjata nuklir dan akan menyampaikan sikapnya sesuai dengan waktu yang ia tentukan sendiri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kedepankan ESG, PAM JAYA Targetkan Jarignan Pipa Capai 100% di 2029
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
5 Berita Terpopuler: Sudah Ada Gambaran Alih Status PPPK Paruh Waktu ke Full Time, tetapi Bikin Tekanan Batin
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Prof Chryshnanda: Reformasi Sesuatu yang Biasa, Itu Upaya Perbaikan di Polri
• 21 jam laludetik.com
thumb
Menpar Widiyanti Bantah Bali Sepi Wisatawan: Capai 12,2 Juta Kunjungan
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Besok Pandji Pragiwaksono Diperiksa soal Mens Rea, Ini yang Didalami Polisi
• 10 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.