Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara soal pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 yang berada di 5,11 persen dengan pertumbuhan kuartal IV 2025 capai 5,39 persen. Meski positif, realisasi pertumbuhan ekonomi tahunan ini di bawah target APBN sebesar 5,2 persen.
Menurut Airlangga, capaian tersebut dinilai relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain dan tercatat sebagai pertumbuhan tertinggi dalam empat kuartal terakhir, seiring tren perbaikan ekonomi yang terus berlanjut secara kuartalan.
“Ini dibandingkan beberapa negara relatif situasinya baik dan kalau kita lihat kuartal per kuartal itu terus baik dan ini adalah tertinggi dari empat kuartal yang lalu,” kata Airlangga saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (5/2).
Airlangga mengakui bahwa pemerintah masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah, khususnya terkait penurunan penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh), serta melambatnya pertumbuhan kredit perbankan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut turut mencuat di tengah perbincangan mengenai kemungkinan anomali pada capaian pertumbuhan ekonomi 2025.
“Tentu itu harus menjadi PR bahwa peningkatan pajak itu yang harus menjadi PR, dan tentu kita sudah bahas dengan Menteri Keuangan bagaimana Coretax itu dioptimalkan. Karena kita tidak ingin penerimaan pajak single digit. Nah ini banyak langkah-langkah yang sedang dibahas dan sedang diperbaiki,” lanjut Airlangga.
Ia menjelaskan meskipun terdapat dinamika pada sisi penerimaan, total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tetap meningkat, sehingga pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Adapun perbedaan kinerja ekonomi 2025 dibandingkan 2024 juga terlihat dari ekspansi sektor industri pengolahan dan pertanian, yang tumbuh lebih kuat dan turut mendorong penyerapan tenaga kerja.
“Plus kita kan memberikan banyak keleluasaan seperti PPN, DTP, kemudian kita juga memberi gaji yang di bawah 10 juta ditanggung oleh pemerintah PPH nya. Jadi banyak kita memberikan stimulus jadi tentu itu yang membedakan dibandingkan tahun lalu,” ucap Airlangga.
Lebih lanjut, Airlangga menilai peran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat mendorong aktivitas ekonomi, khususnya melalui penguatan rantai pasok pangan. Program tersebut diperkirakan meningkatkan permintaan berbagai komoditas seperti daging, telur, dan bahan pangan lainnya, sehingga memberi efek berganda bagi sektor terkait. Kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga masih dipantau dan dihitung.
“Dan Q1 (2026) itu kan kira-kira akan spending ya sekitar Rp 80 triliun. Jadi harapannya itu bisa menjadi pendorong Perekonomian di kuartal pertama,” kata Airlangga.


