Dunia pernah ada di suatu masa, bahwa hanya ada 2 penjuru untuk berpolitik; Amerika Serikat (AS) atau Uni Soviet selama nyaris 40 tahun lebih. Era yang disebut Perang Dingin itu ditandai dengan perlombaan senjata nuklir yang ekstrem antara AS dan Soviet.
Setidaknya, masing-masing negara itu punya belasan ribu hulu ledak nuklir yang siap tembak. Potensi kehancuran peradaban pun nampak di depan mata.
Maka untuk mengatur tingkat senjata pemusnah massal ini, tercetuslah ide meregulasi sampai mengurangi senjata nuklir. Ide pertama kali disampaikan oleh Presiden AS Ronald Reagan di awal 1980-an. Lalu, ia memulai serangkaian diskusi dengan Soviet.
Puncaknya pada pertemuan di Reykjavik, Islandia, pada 1987 antara Reagan dan Pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev. Dari pertemuan ini, lahirlah kesepakatan untuk mengurangi senjata nuklir strategis.
Lalu, secara resmi, Pakta Pengurangan Senjata Nuklir Strategis atau START 1, akhirnya disepakati dan diteken oleh Presiden George H.W. Bush dan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev pada 31 Juli 1991.
Pakta itu lalu berkelanjutan, setidaknya satu tahun sebelum masa perjanjian berakhir, maka para pihak akan menyusun suatu pakta baru yang menjaga jumlah senjata nuklir.
Nah, pakta-pakta itu saling bersambung sejak tahun 1990-an sampai hari ini. Berikut urutannya, dikutip dari situs lembaga pengamat nuklir internasional Nuclear Threat Initiative.
START ISTART I berlaku efektif pada 5 Desember 1994. Karena Soviet sudah bubar, maka diadakan penyesuaian untuk mengikat negara-negara pecahannya.
Negara yang terlibat adalah Rusia, Belarus, Kazakhstan dan Ukraina. Di negara-negara ini, Soviet dulu menempatkan nuklir-nuklirnya. Mereka akhirnya mengadopsi perjanjian ini sebagai entitas realitas politik baru di Lisboa, pada Mei 1992. Dalam penyesuaian ini, hanya Rusia yang diberi status sebagai Negara Nuklir. 3 negara lainnya, berkewajiban memusnahkan senjata nuklir yang mereka punya
START I punya durasi 15 tahun. Lalu, 7 tahun setelah berlaku efektif negara harus mengurangi senjata nuklirnya, dan pada 8 tahun sisanya, harus menjaga jumlah yang sudah dikurangi tersebut.
Pakta ini menetapkan batas, AS-Rusia hanya boleh memiliki 1.600 kendaraan pembawa nuklir dan 6.000 hulu ledak nuklir. Sebagai catatan, AS-Rusia punya 10 ribu 12 ribu pada 1991.
Lalu, perjanjian juga menetapkan AS-Rusia hanya boleh punya 4.900 hulu ledak untuk rudal balistik.
START IISebetulnya, START I akan berlaku sampai 2009. Pada 1997, ada tambahan untuk START I, pada perjanjian ini ada tambahan terkait Senjata Anti Misil Balistik (ABM), yang harus diratifikasi oleh Parlemen Rusia Duma agar berlaku efektif.
Tapi, pada 14 Juni 2002, Rusia mundur dari perjanjian ini karena AS enggan meratifikasi perjanjian terkait ABM.
Pada START II, baik AS-Rusia harus mengurangi senjata nuklir strategis mereka sebanyak 3.800-4.250 hulu ledak, 2.160 hulu ledak di rudal balistik yang dibawa kapal selam (SLBM), dan tidak lebih dari 650 hulu ledak untuk rudal balistik antar benua (ICBM).
SORTKarena Rusia mundur dari pakta START II, maka AS-Rusia kembali mengadakan pertemuan di St. Petersburg pada 24-26 Mei 2002.
Pakta ini ditandatangani oleh Presiden George W. Bush dan Presiden Vladimir Putin, dan berlaku efektif 1 Juni 2003 sampai 31 Desember 2012.
Pakta ini berisi bahwa para pihak tidak boleh punya hulu ledak nuklir, lebih dari 1.700-2.200.
New STARTSebelum Pakta SORT berakhir, Presiden AS Barack Obama dan Presiden Dmitry Medvedev menandatangani pakta New START, pada 8 April 2010 di Praha.
Pakta ini tegas mengatur para pihak untuk tidak boleh menggelar lebih dari 1.550 hulu ledak nuklir strategisnya. Termasuk jumlah peluncur, ICBM, dan SLBM.
Lalu, para pihak tak boleh melebihi jumlah 700 pesawat pengebom berat yang mampu membawa nuklir.
Ada Apa Setelah START?Perlu diakui, meski tak dipatuhi secara penuh dan tegas, namun perjanjian ini mengurangi jumlah senjata nuklir strategis secara signifikan dalam 30 tahun terakhir.
Data yang dihimpun Federation of American Scientists, masih ada 12.000 senjata nuklir yang ada di dunia.
Senjata ini ada di bawah kepemilikan AS 3.700 nuklir, Rusia 4.300 nuklir, China 600 nuklir, Prancis 290 nuklir, Inggris 225 nuklir, India 180 nuklir, Pakistan 170 nuklir, Israel 90 nuklir dan Korea Utara 50 nuklir.
Dari jumlah tersebut, AS-Rusia masih memiliki 86 persen senjata nuklir yang ada di dunia.
Sebetulnya, sebelum New START berakhir, Putin telah mencoba bicara dengan Presiden Donald Trump untuk memperpanjang pakta ini selama setahun. Tapi, ia tidak ditanggapi.
AS sendiri hanya mau melanjutkan pakta ini jika China terlibat.
"Presiden sudah jelas menyampaikan, untuk mengontrol persaingan senjata di abad ke-21, sepertinya tidak mungkin jika tidak melibatkan China, sebab mereka memproduksi senjata dengan cepat," kata Menlu AS, Marco Rubio, dilansir AFP.
Sementara China merasa belum waktunya mereka masuk dalam perjanjian serupa. Mereka berdalih, selama ini mereka selalu bertanggung jawab terkait perkembangan senjata nuklirnya.
"Kapabilitas senjata nuklir China masih jauh berbeda skalanya dengan AS dan Rusia, dan tidak akan berpartisipasi dalam negosiasi pelucutan senjata nuklir sampai saat ini," kata Jubir Kemlu China, Lin Jian.




