Anak SD Akhiri Hidup di NTT, Natalius Pigai Salahkan RT hingga Camat yang Tak Peka Kondisi Warga

disway.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID - Tragedi pilu yang menimpa seorang siswa sekolah dasar di Ngada, NTT, memantik reaksi keras dari Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai.

Bukannya menunjuk jauh ke pusat, Pigai justru melemparkan kritik tajam ke arah birokrasi akar rumput dan sikap apatis masyarakat lokal yang dinilai menjadi penyebab utama kegagalan deteksi dini kemiskinan ekstrem.

BACA JUGA:Kasus Siswa SD Bunuh Diri di NTT Jadi Sorotan Tegas MenHAM, Kinerja Pemda Dipertanyakan: Mereka Masa Bodoh

BACA JUGA:Ketua DPD RI Soroti Persoalan Sanitasi Hingga Masalah Sampah dalam Kebijakan Tata Kelola Pemerintah Desa

Pigai membedah data anggaran yang menurutnya sudah lebih dari cukup untuk mengentaskan persoalan mendasar di daerah.

Ia menyoroti anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) dan bantuan pendidikan yang angkanya mencapai Rp25 triliun untuk Papua dan sekitar Rp8 triliun untuk NTT.

​"Negara itu diwakili Presiden. Ketika setengah anggaran APBN digelontorkan ke daerah, Presiden sudah melakukan pembangunan pendidikan yang serius. Yang salah itu implementasi di tingkat kepala daerah," ujar Pigai saat konferensi pers, Kamis 5 Februari 2026.

"Oleh karena itulah, yang kesalahannya adalah implementasi di tingkat Kepala Daerah. Pelaksanaan di lapangan. Jadi, apa yang terjadi di Ngada, itu merupakan sesuatu yang tidak boleh terjadi. Sesuatu yang tidak boleh terjadi," sambungnya.

BACA JUGA:Anies Ajak Foto Intel Korem, Kodam Diponegoro Langsung Klarifikasi

BACA JUGA:Juda Agung Tegaskan Penunjukan Jadi Wamenkeu Bukan Mendadak

Pigai mengungkap borok pelayanan publik yang seringkali lebih mementingkan selembar kertas KTP daripada nyawa manusia.

Fenomena ini, menurutnya, sering menimpa warga kategori Desil 1 atau mereka yang masuk dalam kelompok kemiskinan ekstrem.

​Ia menceritakan pola yang kerap ditemui: seorang warga miskin dari Kabupaten A berpindah ke Kabupaten B untuk bertahan hidup.

Namun, saat membutuhkan uluran tangan pemerintah, mereka justru dipingpong karena status domisili.

BACA JUGA:Jadi Official Tire Partner IIMS 2026, Bridgestone Indonesia Rayakan 50 Tahun di Industri Otomotif Nasional

  • 1
  • 2
  • »

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Juda Agung Resmi Jadi Wamenkeu Penggganti Thomas Djiwandono
• 7 jam laludisway.id
thumb
52 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Kota Serang Kantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Persis Solo Sial 3 Kali Musim Ini! Striker Baru Eks Timnas Brasil U-23 Dilarang Main oleh PSSI, Kok Bisa?
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Hukuman Keras untuk Suporter Inter Milan setelah Lempar Petasan ke Emil Audero
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Karhutla di Parigi Moutong Meluas hingga 128 Hektare
• 1 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.