Jakarta, ERANASIONAL.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa beras dan rokok masih menjadi faktor utama yang membentuk Garis Kemiskinan (GK) di Indonesia. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa Garis Kemiskinan pada September 2025 tercatat sebesar Rp641.443 per kapita per bulan, mengalami kenaikan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Angka tersebut meningkat 5,30 persen dibandingkan Maret 2025 dan naik 7,76 persen dibandingkan September 2024. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan minimum yang harus dipenuhi masyarakat agar tidak dikategorikan miskin.
“Garis Kemiskinan adalah nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan dan bukan makanan yang harus dipenuhi seseorang dalam satu bulan,” ujar Amalia dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Ia menegaskan bahwa penduduk miskin didefinisikan sebagai mereka yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan tersebut.
BPS membagi komponen Garis Kemiskinan menjadi dua, yakni Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM). Dari hasil perhitungan, peranan komoditas makanan masih jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan bukan makanan.
Pada September 2025, kontribusi GKM terhadap GK tercatat sebesar 73,81 persen di wilayah perkotaan dan bahkan lebih tinggi di perdesaan sebesar 76,11 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan pangan masih menjadi beban utama pengeluaran masyarakat berpendapatan rendah.
“Komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar terhadap Garis Kemiskinan, baik di perkotaan maupun perdesaan, pada umumnya hampir sama,” kata Amalia.
Beras masih menempati posisi teratas sebagai komoditas penyumbang terbesar Garis Kemiskinan. Di wilayah perkotaan, kontribusi beras mencapai 21,10 persen, sementara di perdesaan bahkan lebih tinggi, yakni 24,62 persen.
Menariknya, rokok kretek filter menjadi penyumbang terbesar kedua. Di perkotaan, rokok menyumbang 10,41 persen terhadap GK, sementara di perdesaan sebesar 9,11 persen.
Temuan ini kembali menegaskan bahwa konsumsi rokok masih menjadi bagian signifikan dari pola pengeluaran masyarakat miskin, meskipun bukan kebutuhan pokok.
Selain beras dan rokok, sejumlah komoditas pangan lain juga memberi kontribusi cukup besar terhadap GK. Di antaranya telur ayam ras sebesar 4,48 persen di perkotaan dan 3,71 persen di perdesaan, daging ayam ras sebesar 4,35 persen di perkotaan dan 3,42 persen di perdesaan, kopi bubuk dan kopi instan sachet sekitar 2,39 persen, serta mi instan sekitar 2,35 persen di perkotaan dan 2,04 persen di perdesaan.
Sementara itu, untuk komoditas bukan makanan, pengeluaran terbesar berasal dari sektor perumahan. Kontribusinya mencapai 9,00 persen di perkotaan dan 9,08 persen di perdesaan.
Selain perumahan, komoditas nonmakanan lain yang cukup signifikan adalah bensin dengan kontribusi sekitar 2,88 persen di perkotaan dan 2,90 persen di perdesaan, serta listrik sebesar 2,65 persen di perkotaan dan 1,64 persen di perdesaan.
BPS juga mencatat bahwa Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin pada September 2025 secara rata-rata mencapai Rp3.053.698 per bulan. Angka ini meningkat 6,21 persen dibandingkan Maret 2025 yang tercatat sebesar Rp2.875.235 per bulan.
Menurut Amalia, indikator ini menggambarkan besarnya pengeluaran minimum yang harus dipenuhi sebuah rumah tangga agar tidak dikategorikan miskin.
Di tengah kenaikan Garis Kemiskinan, BPS mencatat kabar positif berupa penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin. Pada September 2025, persentase penduduk miskin tercatat sebesar 8,25 persen, turun 0,22 persen poin dibandingkan Maret 2025 dan menurun 0,32 persen poin dibandingkan September 2024.
Secara absolut, jumlah penduduk miskin tercatat 23,36 juta orang, berkurang 0,49 juta orang dibandingkan Maret 2025 dan turun 0,70 juta orang dibandingkan September 2024.
Amalia menjelaskan bahwa penurunan tingkat kemiskinan tidak terlepas dari kondisi ekonomi makro yang relatif stabil. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2025 tercatat 5,04 persen secara tahunan (year on year).
Selain itu, pengeluaran konsumsi rumah tangga pada kuartal III 2025 mencapai Rp1.786,7 triliun, meningkat 2,62 persen dibandingkan kuartal I 2025 dan naik 4,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi ketenagakerjaan, selama Agustus 2024 hingga Agustus 2025 tercatat penyerapan tenaga kerja sebanyak 1,90 juta orang. Jumlah penduduk yang bekerja di sektor formal mencapai 61,84 juta orang atau 42,20 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
BPS juga mencatat peningkatan signifikan di sektor pertanian. Luas panen padi pada September 2025 mencapai 1,13 juta hektare, naik hampir 49 persen dibandingkan Februari 2025.
Produksi padi untuk konsumsi pangan penduduk mencapai 5,97 juta ton gabah kering giling (GKG), meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Sementara itu, realisasi penyaluran bantuan sosial hingga akhir September 2025 mencapai Rp112,7 triliun atau 75,5 persen dari target APBN, turut berperan dalam menjaga daya beli kelompok rentan.




