Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan piutang pembiayaan perusahaan multifinance pada 2026 tumbuh 6%—8% year-on-year (YoY).
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK Agusman membeberkan optimistis itu didorong oleh terbitnya POJK 35/2025 atau deregulasi yang menyederhanakan dan menyesuaikan beberapa ketentuan.
“Kita kan memberikan beberapa paket deregulasi kemarin, dengan POJK kita yang baru itu. Jadi seperti misalnya uang muka, DP untuk pembelian kendaraan bermotor, mobil, kita buat lebih gampang, lebih mudah diakses oleh masyarakat. Kemudian juga untuk UMKM dan seterusnya, jadi seperti itu background-nya,” ucapnya kala ditemui seusai Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2024 di Jakarta, Kamis (5/2/2024).
Lebih lanjut, dia turut mengungkapkan tantangan yang akan dihadapi industri pembiayaan pada 2026. Sebab itu, dia menilai kesempatan deregulasi seperti itu lebih baik dimanfaatkan.
“[Tantangannya] tentu saja mencari proyek-proyek yang lebih sesuai ya dengan kebutuhan masyarakat,” ucapnya.
Sementara itu, Pejabat Sementara (Pjs.) Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi merincikan piutang pembiayaan perusahaan multifinance sepanjang 2025 mencapai Rp506,5 triliun. Angka itu tumbuh 0,61% YoY.
Baca Juga
- Strategi Multifinance Genjot Kredit Kendaraan Bermotor kala Permintaan Lesu
- OJK Rilis Aturan Baru, Multifinance Boleh Tawarkan DP 0% Kendaraan dengan Syarat
- Pembiayaan Mobil Baru di Industri Multifinance Lesu, Ini Penyebabnya
Sebab demikian, dia menyampaikan bahwa OJK optimistis jasa keuangan tetap tumbuh secara berkelanjutan pada 2026.
Di lain sisi, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno berpendapat bahwa asosiasi para pelaku industri multifinance memasang sikap hati-hati untuk 2026. Proyeksi kinerja 2025 setahun penuh belum bisa dipastikan sebelum melihat perkembangan kinerja Desember 2025.
Menurutnya, jika melihat proyeksi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) hingga asosiasi alat berat, kinerja 2026 diperkirakan sama dengan yang dijual pada 2025.
“Artinya flat kan, nah kalau mereka flat kita gimana mau tumbuh? Belum lagi kalau kita sangat hati-hati, yang saya khawatirkan kita jadi agak berat untuk bertumbuh. Tahun ini [2025] aja mungkin kita akan tutup di kisaran 1%, kemarin per September 1,07% kan,” katanya seusai acara apresiasi APPI di Jakarta, Rabu (3/12/2025).





