Bitcoin (BTC) melanjutkan pelemahannya pada Kamis (5/2). Hal ini menyusul gelombang sentimen negatif yang menyelimuti pasar kripto.
Dikutip dari Coinmarketcap, harga bitcoin merosot hingga ke US$66.000. Capaian itu memperpanjang tren penurunan sejak akhir pekan lalu.
Baca Juga: Ditopang Sejumlah Faktor, Bitcoin (BTC) Disebut Akan Kalahkan Emas Hanya Dalam Sepuluh Tahun
Indeks Fear and Greed turun ke 11. Angka tersebut merupakan terendah sepanjang tahun ini, yang menandakan kondisi extreme fear atau ketakutan ekstrem dalam kalangan investor.
“Bitcoin telah kembali ke area yang sebelumnya menjadi resistensi kuat dari Maret - Oktober 2024. Ini menjelaskan munculnya minat dari pemburu harga murah,” kata Analis Pasar FxPro, Alex Kuptsikevich.
Namun, ia mengingatkan bahwa pola historis menunjukkan risiko penurunan lanjutan.
“Jika melihat fase siklus pasar yang serupa, aksi jual besar tiga tahun lalu berakhir dengan konsolidasi harga selama sekitar satu bulan, sebelum diikuti penurunan yang lebih dalam,” ungkap Kuptsikevich.
Adapun tekanan jual juga diperparah oleh likuidasi di pasar derivatif dan posisi leverage yang tinggi. Hal itu memperbesar pergerakan turun dan menekan harga secara keseluruhan.
Di sisi lain, faktor makroekonomi dan sentimen global, termasuk sikap risk-off investor akibat ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan suku bunga, turut menurunkan minat terhadap aset berisiko seperti kripto.
Baca Juga: Berujung Jatuh, Order Book Menjadi 'Biang Kerok' Harga Bitcoin (BTC) Tak Reli Macam Emas
Di pasar tradisional, volatilitas harga minyak masih tinggi seiring kekhawatiran potensi eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Lonjakan harga minyak berpotensi memicu tekanan inflasi global, yang dapat semakin menyulitkan prospek pemulihan pasar kripto dalam waktu dekat.





