Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga pemeringkat Moody’s Ratings menurunkan outlook peringkat Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Namun, Moody's mempertahankan rating Indonesia di level Baa2.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengatakan pihaknya akan melihat dampaknya esok hari.
“Ya Moody's baru mengumumkan sore tadi ya. Kami lihat dampaknya besok market akan merespons tentunya ya,” ucapnya seusai Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2024 di Jakarta, Kamis (5/2/2024).
Menurutnya, hari ini ada dua hal yang dirilis bersamaan. Pertama rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) dan bersamaan dengan lembaga pemeringkat Moody’s Ratings.
“Jadi agak mix ini, besok nih agak mix ya. Kita lihat saja besok,” sebutnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Hubungan Masyarakat Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Kuseryansyah hanya berharap lembaga pemeringkat itu bisa kembali memberikan rating yang baik.
Baca Juga
- Bank Indonesia: Penurunan Outlook oleh Moody's Bukan Pelemahan Fundamental Ekonomi RI
- Moody's Pangkas Outlook Indonesia jadi Negatif, Begini Respons Pemerintah
- Moody's Pangkas Outlook Indonesia dari Stable jadi Negatif
Dirinya yakin bahwa pemerintah akan melakukan hal yang terbaik untuk mengklarifikasi ataupun memverifikasi itu. Dia menyebut, rating ini bisa berdampak jangka panjang kepada industri pindar.
“Kalau dampak ke industri pindar ya kalau dalam jangka panjang bisa, tapi kami meyakini dampaknya ya tidak bisa tidak langsung ya, bisa tidak langsung dan kita berharap ya pemerintah akan melakukan effort terbaik untuk itu,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Moody's menilai bahwa perubahan outlook didasari pada penurunan tingkat prediktabilitas dalam perumusan kebijakan, yang berisiko melemahkan efektivitas kebijakan dalam mengindikasikan pelemahan tata kelola.
"Jika berlanjut, tren ini dapat menggerus kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama terbangun, yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi yang solid serta stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan," dikutip dari pengumuman Moody's pada Kamis (5/2/2026).
Dalam pengumumannya, Moody's menjelaskan bahwa pemerintah bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi, juga ingin meningkatkan standar hidup melalui peningkatan belanja sosial. Hal itu dilakukan dengan tetap menjaga kepatuhan terhadap kerangka kebijakan moneter dan fiskal.
Namun demikian, turunnya prediktabilitas dan koherensi proses perumusan kebijakan dalam setahun terakhir, disertai komunikasi kebijakan yang kurang efektif, telah meningkatkan risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia di mata investor.




