Deretan Respons Berbagai Pihak Atas Peristiwa Siswa SD di Ngada NTT Diduga Nekat Akhiri Hidup

kompas.tv
5 jam lalu
Cover Berita
Ilustrasi anak dalam kondisi psikologis tidak baik. Seorang siswa sekolah dasar (SD) di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku dan pena. Ini sederet respons berbagai pihak atas kejadian ini. (Sumber: Envato/bialasiewicz)

NGADA, KOMPAS.TV - Seorang siswa sekolah dasar (SD) di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku dan pena. 

Lantas, bagaimana respons berbagai pihak? 

Berikut KompasTV rangkum respons berbagai pihak atas tragedi di Ngada ini, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah pusat, psikolog anak, sampai pengamat pendidikan. 

Bupati Ngada 

Bupati Ngada Raymundus Bena mengatakan peristiwa seorang siswa SD di daerahnya diduga bunuh diri merupakan masalah yang kompleks, menurutnya tidak semerta-merta hanya karena tidak bisa membeli buku dan pena. 

"Pertama itu masalah mungkin (terkait) ekonomi, yang kedua sosial juga mungkin," katanya dalam program Sapa Indonesia Malam KompasTV, Rabu (4/2/2026). 

Namun, kata dia, faktor lain yang melatarbelakangi kejadian ini masih didalami. 

Menurut keterangannya, mendiang merupakan anak kelima sekaligus bungsu. Bena mengatakan bapak dari anak ini merantau ke Kalimantan. 

Ia mengatakan bapak anak ini tinggal di kabupaten lain. Kemudian setelah merantau, istrinya atau ibu dari anak tersebut kembali ke Kabupaten Ngada. 

Kata Bena, ibu tersebut masih terdaftar di kabupaten sebelah secara administrasi sehingga kemudian ada hambatan dalam penyaluran bantuan ekonomi ke keluarga tersebut. 

Secara kepribadian, Bena menyebut mendiang kesehariannya riang dan berprestasi di sekolah. 

Dengan adanya kejadian ini, Bena menyatakan pihaknya akan memastikan kembali seluruh kepala sekolah dan para kepala desa berkomitmen agar kejadian serupa tidak terulang. 

Baca Juga: Gubernur NTT dan Pengamat Buka Suara soal Siswa SD Diduga Bunuh Diri karena Tak Bisa Beli Alat Tulis

Gubernur NTT 

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan tragedi siswa SD diduga bunuh diri di Ngada merupakan kegagalan banyak faktor. 

"Memang dari masalah kejadian ini, (dugaan) bunuh diri ini, memang kami akan banyak harus memperbaiki diri karena ini menurut saya adalah kegagalan banyak faktor di NTT," katanya dalam program Kompas Petang KompasTV, Rabu (4/2).

Ia menuturkan, khususnya ada kegagalan pada Pemerintah Kabupaten Ngada terkait mekanisme pemerintahan, pranata sosial, keagamaan, dan adat yang tidak bisa menjangkau keluarga anak tersebut sehingga tragedi ini bisa terjadi. 

"Tentu ini memukul kami secara bersama dan nanti kami akan segera untuk melakukan berbagai langkah untuk ini tidak boleh terjadi lagi di waktu-waktu ke depan di tempat mana pun," tuturnya.

Emanuel mengungkapkan bahwa kondisi keluarga anak tersebut kurang mampu secara ekonomi. 

"Sejauh yang saya dapatkan informasi dari berbagai sumber yang sudah saya konfirmasi, memang keluarga almarhum masuk kategori yang memang keluarga yang dibantu banyak oleh program pemerintah dan faktor ekonomi tentu menjadi penyebab utama di situ," ungkapnya. 

Menurut Emanuel, di NTT memang banyak keluarga yang mengalami kondisi ekonomi sulit.

Kata dia, keluarga dengan kondisi seperti itu tersebar di banyak tempat se-NTT, yang mana salah satunya adalah keluarga siswa yang diduga mengakhiri hidup tersebut. 

"Tentu ada banyak faktor yang menyertai kasus ini, tapi memang yang mengemuka kemudian adalah karena faktor anak ini, ketika meminta untuk bisa diberikan alat untuk pendidikannya, pena dan buku tulis, kemudian tidak bisa dilakukan oleh ibunya," ucapnya.

Emanuel menyebut bahwa faktor lain yang menyertai kejadian ini masih didalami pihak kepolisian. 

Ia juga mengungkap keluarga anak tersebut sempat melakukan pergeseran kependudukan yang kemudian menyebabkan akses bantuan ekonomi pada keluarganya tidak maksimal.

"Dulu keluarga ini tinggal di Nangaroro, Kabupaten Nagekeo. Kemudian pindah ke Kecamatan Jerebuu di Kabupaten Ngada," ungkapnya. 

"Memang persoalan administrasi yang saya dapatkan informasi itu administrasi kependudukannya belum sempat diperbaiki dan ini memang memengaruhi dukungan dari pemerintah terkait dengan program-program untuk keluarga masyarakat yang memang masih dianggap belum mampu, seperti yang dialami oleh keluarga korban." 

Emanuel menyatakan, pihaknya akan berupaya melakukan tindak lanjut agar masalah administrasi seperti itu bisa dipermudah ke depannya. 

"Jadi kita juga nampaknya dari peristiwa ini nanti kami tentu koordinasi dengan Pak Menteri Sosial dan semua kementerian/lembaga terkait, hal-hal demikian kita coba mempermudah juga soal-soal administrasi semacam ini," jelasnya.

Baca Juga: Siswa SD Diduga Bunuh Diri, DPR: Tamparan Keras Dunia Pendidikan, Selidiki Hingga Tuntas!

Kemendikdasmen 

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan akan memberikan pendampingan dan dukungan pada keluarga siswa SD yang diduga bunuh diri di Ngada. 

"Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah bersama perangkat daerah terkait untuk melakukan pendampingan kepada keluarga," ujar Wakil Mendikdasmen, Atip Latipulhayat dalam keterangan tertulis yang diterima KompasTV, Rabu (4/2/2026).

Ia menyatakan Kemendikdasmen juga akan mendukung pendidikan anggota keluarga lain. 

"Termasuk menyiapkan dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya," katanya. 

Menurut keterangannya, siswa yang diduga bunuh diri tersebut tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP). 

Atip menyatakan dana PIP telah disalurkan sesuai mekanisme yang berlaku. Namun, kata dia, pemenuhan hak dan perlindungan anak, khususnya dari keluarga rentan, tidak dapat berhenti pada dukungan finansial semata.

Menurutnya, pemenuhan hak dan perlindungan anak dari keluarga rentan juga harus mencakup pendampingan psikososial, perhatian moral, dan lingkungan tumbuh kembang yang suportif.

Atip menyatakan Kemendikdasmen memandang peristiwa ini sebagai kejadian yang sangat serius dan mengingatkan bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks. 

"Kondisi emosional anak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait sehingga memerlukan perhatian dan dukungan berkelanjutan dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara," ungkapnya. 

Atip juga menekankan peristiwa ini menjadi pengingat bagi semua pihak akan pentingnya menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan suportif bagi tumbuh kembang anak. 

Ia menyebut satuan pendidikan bersama orang tua dan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun komunikasi terbuka, agar setiap anak merasa aman untuk mengekspresikan kerentanan mereka. 

Atip juga menyampaikan duka cita mendalam pihak Kemendikdasmen atas kejadian ini. 

"Peristiwa ini menjadi keprihatinan bersama dan kami menyampaikan empati kepada keluarga, teman, guru, serta seluruh warga sekolah yang terdampak," katanya. 

Ia mengajak semua pihak menyikapi informasi secara bijak serta menghindari penyebaran spekulasi yang berpotensi menambah beban psikologis bagi keluarga korban dan komunitas sekolah. 

"Kemendikdasmen menegaskan pentingnya dukungan bersama dari sekolah, keluarga, masyarakat, media, serta pemerintah pusat dan daerah dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan suportif bagi anak, sebagai bagian dari upaya pencegahan peristiwa serupa di masa mendatang," pungkasnya. 

Baca Juga: Anak Bunuh Diri karena Tak Mampu Beli Buku-Pena, Gubernur NTT: Kegagalan Banyak Faktor

Mensos 

Menteri Sosial atau Mensos Saifullah Yusuf menyatakan peristiwa ini harus menjadi atensi bersama semua pihak. 

"Tentu kita prihatin dulu ya, turut berduka. Yang kedua, tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, ya tentu bersama pemerintah daerah," katanya, Selasa (3/2/2026).

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Gus Ipul itu menekankan pentingnya pendampingan dan penguatan data terhadap keluarga yang terbilang tidak mampu.

"Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita, ya kita harapkan tidak ada yang tidak terdata," ucapnya, seperti dilaporkan Jurnalis KompasTV, Alfa.

Menurut Gus Ipul, penguatan data penting untuk menjangkau seluruh keluarga di Indonesia, termasuk keluarga-keluarga yang berada di kategori miskin ekstrem dan kategori miskin.

Ia pun kembali menyampaikan peristiwa meninggalnya anak SD diduga bunuh diri di NTT tersebut harus menjadi perhatian bersama.

"Ini hal yang sangat penting saya kira kembali kepada data, bagaimana data ini kita saksikan sebaik mungkin sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi dan memerlukan pemberdayaan," ujarnya.

Baca Juga: Soal Siswa di NTT Diduga Bunuh Diri, Istana Sebut Jadi Atensi Presiden Prabowo

Istana 

Presiden Prabowo Subianto memberikan atensi khusus terhadap peristiwa siswa SD yang diduga mengakhiri hidupnya di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Gading-Persada

1
2
Show All

Sumber : Kompas TV

Tag
  • siswa bunuh diri
  • siswa sd bunuh diri
  • ngada
  • ntt
  • anak bunuh diri
Selengkapnya


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Terungkap! Ini Alasan Bandung Zoo Disegel usai Izin Dicabut Kemenhut
• 20 jam lalurctiplus.com
thumb
Bareskrim Bongkar Peredaran Obat Aborsi Ilegal di Bogor, Modus Paket Berisi Obat Lambung
• 21 jam lalukompas.com
thumb
KPK Duga Kepala KPP Madya Banjarmasin Rangkap Jabatan Jadi Komisaris di Beberapa Perusahaan
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
MUI Akan Bentuk Muslim Disaster Rescue untuk Tanggulangi Bencana, Gandeng Polri
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Operasi Keselamatan 2026, Polres Minsel Sasar Knalpot Brong dan Kendaraan Tanpa Plat
• 12 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.