Tidak semua orang yang terlihat percaya diri benar-benar kuat. Ada sebagian yang tampak tinggi hanya karena berdiri di atas kerendahan orang lain.
Dalam lingkaran pertemanan, sosok seperti ini mudah dikenali: paling vokal, paling merasa tahu, dan paling cepat meremehkan. Mereka bukan tumbuh melalui proses belajar, melainkan melalui kebiasaan menjatuhkan.
Merendahkan orang lain sering disalahartikan sebagai kecerdasan. Padahal, orang yang benar-benar cerdas tidak sibuk membuktikan diri dengan cara meremehkan. Ia paham bahwa pengetahuan tidak membuat seseorang lebih tinggi dari yang lain, tetapi lebih bertanggung jawab dalam bersikap.
Sebaliknya, mereka yang gemar menyepelekan orang lain biasanya sedang menutupi ketakutan terbesar: takut terlihat bodoh, takut kalah, dan takut tidak diakui.
Dalam pertemanan, sikap seperti ini pelan-pelan menciptakan luka. Candaan yang merendahkan, komentar yang meremehkan, dan sikap sok paling benar bisa menghancurkan rasa percaya diri seseorang.
Yang disakiti sering kali memilih diam; bukan karena lemah, melainkan karena lelah menghadapi ego yang tidak mau belajar. Ironisnya, pelaku kerap merasa tidak bersalah, bahkan bangga dengan “kejujuran” yang ia sebut sebagai keberanian.
Lebih berbahaya lagi ketika sikap merendahkan dibungkus dengan topeng kepintaran dan kepedulian palsu. Di depan terlihat mendukung, tetapi di belakang justru menghakimi. Kritik tidak disampaikan untuk membangun, tetapi untuk menunjukkan superioritas. Inilah bentuk kemunafikan yang paling halus karena hadir dalam wajah pertemanan.
Lingkungan seperti ini tidak sehat. Ia mematikan ruang diskusi, membunuh keberanian berbicara, dan mengubah pertemanan menjadi arena pembuktian ego. Padahal, pertemanan sejati seharusnya menjadi tempat bertumbuh bersama, bukan saling menjatuhkan demi merasa unggul.
Namun, menghadapi orang yang merasa tinggi dengan cara merendahkan juga memberi pelajaran penting. Kita belajar bahwa tidak semua orang pantas diberi ruang dalam hidup kita. Menjaga jarak bukan bentuk kekalahan, melainkan tanda kedewasaan. Kita tidak harus membalas dengan kebencian; cukup dengan tetap bertumbuh tanpa ikut tenggelam dalam sikap yang sama.
Pada akhirnya, waktu akan memperlihatkan perbedaan yang nyata. Mereka—yang meninggikan diri dengan merendahkan orang lain—akan kelelahan menjaga topengnya sendiri, sementara mereka yang memilih rendah hati akan terus berkembang karena belajar tanpa perlu menjatuhkan.
Sebab, yang benar-benar tinggi tidak perlu merendahkan siapa pun untuk terlihat hebat.




