Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah segera menyiapkan paket stimulus ekonomi untuk memacu aktivitas belanja masyarakat saat menyambut libur Idulfitri 2026. Stimulus itu diharapkan bisa mendorong pertumbuhan lebih tinggi dari tahun 2025 lalu.
Sekadar informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2025 sebesar 5,39% (YoY). Pertumbuhan ini merupakan pertumbuhan pada kuartal IV tertinggi sejak pascapandemi. Namun, sepanjang tahun ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% (YoY).
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa kinerja pertumbuhan ekonomi 2025, khususnya pada akhir tahun lalu, menunjukkan efektivitas stimulus yang digelontorkan pemerintah. Pemerintah pun akan menggelontorkan stimulus serupa pada kuartal I/2026 untuk menjaga momentum libur Natal dan Tahun Baru.
"Jadi program yang digelontorkan pemerintah itu membuahkan hasil di kuartal keempat. Nah, dengan hal tersebut maka pemerintah juga mendorong di kuartal pertama [2026]," terang Airlangga kepada wartawan di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Airlangga menyebut stimulus yang akan disiapkan serupa dengan yang digelontorkan pada Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, misalnya, diskon tiket transportasi, bantuan sosial serta kebijakan program work from anywhere (WFA).
Menko Perekonomian sejak 2019 itu mengatakan pemerintah bakal fokus memanfaatkan momentum mobilitas masyarakat guna memacu pertumbuhan ekonomi. Rencananya, stimulus akan diumumkan jelang masuk Ramadan.
Baca Juga
- Laju Pertumbuhan Ekonomi Bawa Katalis Positif ke Pasar Obligasi
- Purbaya Beberkan Siasat Genjot Ekonomi RI Tumbuh 6% pada 2026
- Bank Indonesia: Penurunan Outlook oleh Moody's Bukan Pelemahan Fundamental Ekonomi RI
"Karena di bulan Desember mobilitas itu mendorong konsumsi dan ini suatu hal yang bisa kami tarik pelajaran dari sana,".
Apabila dibandingkan dengan 2024, terang Airlangga, pertumbuhan ekonomi 2025 banyak didorong oleh peran pemerintah. Selain stimulus-stimulus yang sebelumnya disebutkan, pemerintah turut membebaskan sejumlah pajak guna memberi keleluasaan ke pemerintah.
Contohnya, insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) untuk sektor properti, transportasi (untuk pesawat), serta pembebasan pajak penghasilan (PPh) dengan gaji di bawah Rp10 juta.
"Jadi banyak kami memberikan stimulus jadi tentu itu yang membedakan dibandingkan tahun lalu," tuturnya.
Mantan Menteri Perindustrian itu juga melihat adanya pertumbuhan tinggi dari lapangan usaha industri manufaktur turut mendorong pertumbuhan ekonomi 2025. Berdasarkan data BPS, industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar terhadap ekonomi dari sisi lapangan usaha.
Apabila digabung dengan sektor perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan, share sektor-sektor tersebut ke perekonomian 2025 mencapai 63,92% terhadap PDB.
Namun demikia, BPS mencatat pertumbuhan tertinggi lapangan usaha terjadi pada jasa perusahaan sebesar 9,10% dan transportasi sekaligus perdagangan 8,78%.
"Hal ini antara lain disebabkan peningkatan aktivitas rekreasi peningkatan agen perjalanan dan penyelenggaraan event nasional dan internasional di Indonesia, dan meningkatnya jumlah penumpang di berbagai moda transportasi," tutur Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti.





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5406822/original/077580300_1762607243-Persis_Vs_PSIM.jpg)