Indeks bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Kamis (5/2) seiring meningkatnya sikap hati-hati investor terhadap risiko, terutama di sektor teknologi dan aset kripto seperti bitcoin.
Dow Jones Industrial Average turun sekitar 592,58 poin atau 1,20% dan ditutup di level 48.908,72. Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi 1,23% ke posisi 6.798,40 sehingga masuk zona negatif sejak awal tahun. Nasdaq Composite juga merosot 1,59% dan berakhir di 22.540,59.
Pada titik terendah sesi perdagangan, Dow Jones sempat jatuh hampir 700 poin atau sekitar 1,4%, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq masing-masing sempat turun sekitar 1,5% dan 1,9%.
Alphabet menjadi perusahaan terakhir dari kelompok “Magnificent Seven” yang merilis laporan kinerja keuangan. Perusahaan itu memproyeksikan belanja untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) akan melonjak signifikan yang memicu kekhawatiran sebagian investor.
Raksasa teknologi itu memperkirakan pengeluaran modal dapat mencapai US$ 185 miliar pada 2026, sehingga sahamnya turun sekitar 0,5%. Meski demikian, saham Broadcom justru naik hampir 1% setelah kabar tersebut. Hal itu memberikan sentimen positif terbatas bagi sektor AI di tengah upaya pasar memilah perusahaan yang berpotensi diuntungkan.
Direktur investasi Modern Wealth Management, Stephen Tuckwood, menilai pengumuman tambahan belanja modal oleh sejumlah perusahaan justru sebagai sinyal positif bagi kesehatan pasar secara keseluruhan.
“Karena pasar saat ini lebih selektif daripada sekadar euforia irasional,” kata Stephen Tuckwood, dikutip dari CNBC, Jumat (6/2).
Selain Alphabet, saham Qualcomm juga anjlok lebih dari 8% setelah perusahaan merilis proyeksi yang berada di bawah ekspektasi pasar karena dipicu dampak kelangkaan memori global terhadap kinerjanya.
Di pasar kripto, aksi jual besar masih berlanjut. Harga bitcoin merosot ke bawah US$ 64.000 setelah sebelumnya sempat menembus US$ 70.000.
Sementara itu, di sektor logam mulia, tekanan kembali terjadi pada perak. Harga logam tersebut menghentikan penguatan dua hari dan turun hingga 16%, setelah sebelumnya sempat jatuh hampir 30% pada perdagangan Jumat lalu.
Sentimen pasar juga terbebani oleh kekhawatiran terhadap kondisi pasar tenaga kerja AS. Firma outplacement Challenger, Gray & Christmas melaporkan perusahaan-perusahaan di AS mengumumkan 108.435 pemutusan hubungan kerja sepanjang Januari. Angka tertinggi untuk periode Januari sejak krisis keuangan global.
Selain itu, klaim pengangguran awal untuk pekan yang berakhir 31 Januari meningkat melampaui perkiraan. Sementara jumlah lowongan kerja pada Desember turun ke posisi terendah sejak September 2020.
Perkembangan ini terjadi menjelang rilis laporan ketenagakerjaan Januari dari Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) pekan depan, yang sebelumnya tertunda akibat penutupan sebagian pemerintah AS yang berakhir pada Selasa.
Tuckwood mengatakan, pasar tampaknya mulai keluar dari periode relatif stabil tanpa banyak perekrutan maupun pemutusan hubungan kerja yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Ia mengatakan,, laporan ketenagakerjaan BLS mendatang kemungkinan akan menegaskan kondisi tersebut. Data mulai menunjukkan peningkatan pemutusan hubungan kerja dan PHK sebagai sinyal pelemahan tren pasar tenaga kerja.
“Jika hal itu terbukti benar, Federal Reserve akan melakukan pemotongan suku bunga pada akhir setidaknya salah satu dari pertemuan Maret atau April 2026,” ucapnya.
Wall Street baru saja melalui sesi perdagangan yang bergejolak. Apalagi aksi jual besar pada saham perangkat lunak dan cip menyeret indeks S&P 500.
Saham-saham di sektor tersebut tertekan tajam akibat kekhawatiran tentang potensi gangguan AI terhadap industri. Investor jufa beramai-ramai mengalihkan dana dari saham teknologi ke segmen pasar lain yang dinilai lebih menarik dari sisi valuasi.



