Moodys Pangkas Outlook Indonesia, Simak Dampaknya ke Lantai Bursa

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Lembaga pemeringkat Moody's menurunkan keyakinan mereka akan arah ekonomi Indonesia ke depan (outlook) menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Namun, Moody's tetap mempertahankan rating Indonesia di level layak investasi alias Baa2. Hal tersebut disampaikan Moody's dalam pengumuman kemarin (5/2/2026).

Moody's menilai perubahan outlook didasari pada penurunan tingkat prediktabilitas dalam perumusan kebijakan, yang berisiko melemahkan efektivitas kebijakan dalam mengindikasikan pelemahan tata kelola.

"Jika berlanjut, tren ini dapat menggerus kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama terbangun, yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi yang solid serta stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan," dikutip dari pengumuman Moody's.

Lembaga internasional itu menjelaskan memahami rencana pemerintah meningkatkan pertumbuhan ekonomi untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi, juga ingin meningkatkan standar hidup melalui peningkatan belanja sosial. Hal itu dilakukan dengan tetap menjaga kepatuhan terhadap kerangka kebijakan moneter dan fiskal.

Namun demikian, turunnya prediktabilitas dan koherensi proses perumusan kebijakan dalam setahun terakhir, disertai komunikasi kebijakan yang kurang efektif, telah meningkatkan risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia di mata investor.

"Hal ini tercermin dari meningkatnya volatilitas di pasar saham dan valuta asing. Perkembangan tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan skor Indonesia dalam Worldwide Governance Indicators untuk efektivitas pemerintah dan kualitas regulasi. Jika berlanjut, melemahnya kohesi dan kredibilitas kebijakan dapat mengindikasikan kekuatan institusional yang lebih rendah dari penilaian saat ini, serta melemahkan kekuatan ekonomi dan fiskal melalui berkurangnya daya tarik investasi dan meningkatnya biaya pinjaman," tertulis dalam pengumuman Moody's.

Baca Juga

  • Moody's Ubah Outlook Rating Kredit RI jadi Negatif, Menko Airlangga: APBN Tahun ini Agak Beda
  • Goldman Sachs Turunkan Peringkat Saham Indonesia Usai Peringatan MSCI
  • Kapitalisasi Aset Kripto Bitcoin Cs Susut Rp2.857 Triliun dalam Sepekan, Peran Emas Digital Diragukan

Moody’s menegaskan bahwa peringkat kredit Indonesia tidak berubah. Penegasan peringkat tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia yang didukung oleh kekuatan struktural, seperti kekayaan sumber daya alam dan demografi yang menguntungkan. Moody’s juga menilai kebijakan fiskal dan moneter Indonesia tetap pruden sehingga menopang stabilitas makroekonomi.

"Terlepas dari munculnya sejumlah risiko, penegasan ini juga ditopang oleh kebijakan fiskal dan moneter yang pruden, yang telah menghasilkan stabilitas makroekonomi. Terjaganya kredibilitas kebijakan, dan dengan demikian stabilitas makroekonomi, tetap menjadi asumsi dasar utama yang menopang peringkat Baa2," tulis Moody’s.

Mahaka Media Tbk. - TradingView

Respons Pemerintah, BI, dan Pasar

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai penurunan outlook menjadi sinyal peringatan bagi pelaku pasar, meski status investment grade masih terjaga.

"Meski demikian, peringatan dari Moody’s tidak bisa dianggap enteng. Jika ke depan terjadi penurunan peringkat kredit yang nyata, disertai memburuknya kualitas regulasi, lemahnya perlindungan investor, serta meningkatnya ketidakpastian kebijakan, maka persepsi global terhadap pasar Indonesia bisa tertekan lebih dalam. Pada titik inilah risiko terhadap posisi Indonesia di mata investor global akan meningkat secara struktural," ujarnya.

Ia memperkirakan tekanan pasar bersifat selektif dan koreksi IHSG lebih mencerminkan fase konsolidasi. "Dalam jangka pendek, IHSG memang rentan mengalami koreksi. Secara teknikal, indeks berpotensi menguji area psikologis 8.000 yang menjadi level krusial. Apabila level ini ditembus, ruang penurunan terbuka menuju area support berikutnya di kisaran 7.888. Sementara dari sisi atas, resistance IHSG berada di area 8.200, yang akan menjadi tantangan kuat selama sentimen global dan domestik belum sepenuhnya pulih. Namun koreksi ini lebih tepat dibaca sebagai fase konsolidasi yang sehat, bukan awal dari tren bearish struktural," katanya.

Di sisi lain, pemerintah menilai penurunan outlook tersebut dipengaruhi belum sepenuhnya dipahaminya kebijakan anggaran dan pendekatan investasi baru di era pemerintahan Prabowo-Gibran, termasuk pembentukan superholding BUMN Danantara.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan perubahan skema belanja dan investasi menjadi pembeda utama dengan periode sebelumnya. Menurut dia, Danantara berperan sebagai motor investasi, sementara APBN lebih difokuskan untuk program prioritas sosial.

"Jadi ini yang harus kami beri penjelasan, karena sebetulnya dengan Danantara, kami [pemerintah] sebetulnya meng-unlock dan melakukan reform terhadap state-owned enterprise [BUMN] yang [sebelumnya] selalu mereka minta untuk bisa dipisahkan," kata Airlangga.

Ia menegaskan pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal. "Jadi pemerintah optimis, makro tetap kami jaga, budget deficit tetap kurang dari 3% dan tingkat utang di bawah 40%," ujarnya.

Bank Indonesia juga menyatakan penyesuaian outlook tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.

"Penyesuaian outlook diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo.

Perry menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid dengan pertumbuhan 2025 sebesar 5,1%, inflasi terkendali di 2,92%, stabilitas sistem keuangan terjaga, serta cadangan devisa akhir 2025 mencapai US$156,5 miliar.

"Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian global yang meningkat," demikian dikutip dari pernyataan BI.

Sedangkan Kementerian Keuangan menyatakan Moody’s tetap mengakui ketahanan ekonomi Indonesia sebagai pilar utama profil kredit. Moody’s juga menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan stabil di kisaran 5% dengan defisit fiskal di bawah 3% PDB.

"Moody’s memahami Pemerintah Indonesia sedang berupaya melakukan akselerasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Hal ini penting sebagai prasyarat menjadi negara maju," kata Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Deni Surjantoro.

Kemenkeu menegaskan pemerintah terus menjaga stabilitas dan mengelola risiko kebijakan di tengah perubahan struktural. Hingga saat ini, hanya Moody’s yang merevisi outlook Indonesia menjadi negatif, sementara lembaga pemeringkat lain masih mempertahankan outlook stabil.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prabowo Bakal Lantik Pejabat Baru Sore Ini, Wamenkeu Baru Pengganti Thomas Djiwandono?
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Foto: Hari ke-13 Longsor Cisarua, Total 94 Kantong Jenazah Dievakuasi
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Program Quick Win Presiden, 16 RSUD Terpencil Rampung Februari 2026
• 17 jam lalutvrinews.com
thumb
Izin Operasional Dicabut, Bandung Zoo Disegel dan Dijaga 24 Jam oleh Satpol PP
• 16 jam lalupantau.com
thumb
Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Jepang di Piala Asia Futsal 2026
• 21 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.