Ketika Urban Legend dan Cerita Horor Bergentayangan di Media Sosial

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Masih ingat urban legend yang terkenal waktu kita kecil? Seperti legenda tentang anak kecil yang akan diculik hantu jika belum pulang ke rumah saat Maghrib, hingga kisah tentang sosok fenomenal bernama “Mister Gepeng”.

Jika kita ingat kembali, rasanya mungkin cerita-cerita tersebut tidak masuk di logika, tapi kita juga harus ingat bahwa urban legend bukan hanya sekadar cerita hantu untuk menakuti anak-anak.

Urban legend, menurut pandangan sosiologi, dikenal sebagai "arsip ketakutan kolektif", yaitu sebuah cara bagaimana masyarakat mengomunikasikan batas moral dan teritorial melalui narasi supranatural.

Di era kini, urban legend dan cerita hantu sebenarnya masih sering kita konsumsi melalui media sosial. Ya, mereka bukan lagi lahir dari tanah yang lembap di bawah pohon beringin, melainkan lahir dari jemari di balik layar ponsel. Dan sekarang, kita sedang menyaksikan transisi besar dari era "Katanya" menuju era "Teror Algoritma".

Dahulu, jauh sebelum era teknologi berkembang pesat seperti sekarang, urban legend berfungsi sebagai alat komunikasi lokal yang sangat kuat. Cerita tentang Kolor Ijo atau Suster Ngesot menyebar melalui mulut ke mulut (word of mouth) dan pesan yang dibawa biasanya berfungsi sebagai kontrol sosial.

Cerita hantu di jembatan atau gedung tua sebenarnya adalah cara warga mengomunikasikan "ruang terlarang", atau cerita hantu yang menculik anak-anak sebenarnya menjadi senjata orang tua untuk membuat sang anak patuh.

Bentuk komunikasi ini kuat karena terjadi di ruang fisik, seperti di dalam rumah, di sekolah, atau ketika kita bermain atau saat menginap di rumah teman. Kedekatan fisik antara pencerita dan pendengar inilah yang menciptakan sebuah ikatan dan atmosfir yang tulus, menjadikan urban legend sebagai perekat sosial yang menyatukan masyarakat di suatu wilayah melalui rasa takut yang sama.

Ketika zaman sudah masuk ke era digital, hantu tidak lagi butuh tempat fisik. Mereka bermutasi menjadi Creepypasta. Tokoh seperti Slender Man atau The Backrooms tidak lahir dari sejarah sebuah tempat di dunia nyata, tetapi dari kolaborasi para pencerita di internet yang menciptakan sebuah komunikasi antarbudaya menjadi tidak berbatas. Seseorang di Jakarta bisa gemetaran karena legenda urban yang diciptakan remaja di Amerika, begitu pun sebaliknya.

Cerita legenda urban dan sosok mistis tidak selalu sama di setiap wilayah, tergantung bagaimana budaya, kebiasaan, dan kepercayaan masyarakat di wilayah tersebut. Cerita di sebuah wilayah belum tentu didengar atau bisa dipercaya oleh masyarakat di wilayah lain. Berbeda halnya dengan urban legend digital yang tidak lagi terhalang secara geografis, tetapi terikat pada algoritma di dunia maya.

Sekarang, kita bisa melihat bagaimana cerita horor menyebar lewat thread di X, video pendek TikTok, atau podcast di YouTube. Jika dahulu urban legend adalah sebuah "bisikan", sekarang ia adalah sebuah "aset digital" yang haus akan engagement.

Kita ambil contoh dari beberapa fenomena urban legend yang marak di Indonesia. Pertama, tentang kisah Hantu Jeruk Purut yang konon katanya muncul di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

Urban legend yang dulu sempat ramai pada era 90an hingga 2000an di mana teknologi belum berkembang seperti saat ini. Kabarnya, dulu pernah muncul sosok hantu tanpa kepala yang memakai baju, seperti Pastur sambil membawa kepalanya sendiri. Kisahnya menyebar dari mulut ke mulut dan banyak yang percaya bahwa jika ingin melihat hantu tersebut, datanglah dengan jumlah orang yang ganjil ke TPU Jeruk Purut pada malam jumat.

Hal inilah yang banyak membawa rasa penasaran masyarakat yang mengunjungi tempat tersebut. Dalam Hantu Jeruk Purut, teror berkembang spasial dan pesan yang disampaikan adalah penghormatan terhadap tempat keramat, sehingga orang-orang merasa perlu datang langsung ke lokasi untuk "uji nyali". Secara kekuatan cerita, intimasinya dibangun melalui bau tanah dan udara dingin makam secara nyata.

Kemudian, kita bandingkan dengan kisah tentang KKN di Desa Penari yang ceritanya viral di dunia maya di mana cerita ini lahir dari sebuah utas (thread) di platform twitter, sehingga komunikasi terjadi melalui partisipasi massal netizen yang melakukan investigasi di Google Maps hingga menebak identitas tokoh.

Di sini kita bisa melihat bagaimana pergeseran sebuah emosi, dari yang dahulu "Takut karena Melihat" hingga menjadi "Takut karena Membayangkan Bersama". Di era digital, bukan lagi lokasi fisik yang dianggap penting, melainkan seberapa viral narasi tersebut di dunia maya.

Dalam penyebaran legenda urban, generasi digital tidak hanya mampu menghapus jarak dan waktu, tetapi juga mampu menciptakan sebuah subgenre baru, yaitu Analog Horor yang populer di tahun 2000an.

Subgenre Analog Horor memanfaatkan estetika media lawas—seperti VHS, kaset, atau siaran televisi kuno—untuk menciptakan teror psikologis yang dikemas, seperti rekaman yang hilang atau ditemukan dengan kualitas visual rendah dan audio terdistorsi dengan narasi yang ambigu, yang bertujuan untuk menimbulkan kegelisahan dan ketakutan, bukan hanya melalui jumpscare. Salah satu contoh produk Analog Horor adalah serial YouTube yang berjudul “Local58”.

Tak hanya itu, era digital juga turut melahirkan format cerita baru. Melalui jaringan internet, legenda urban mampu mengonstruksi ketakutan masa lalu melalui visualisasi gambar dan video, cerita yang dikemas dengan gaya bahasa kasual melalui sebuah utas, hingga gaya storytelling melalui sebuah podcast.

Kita sadar bahwa teknologi bukan lagi sekadar alat, melainkan juga sebuah objek ketakutan. Dahulu, kita takut pada lokasi keramat atau hantu di pohon beringin. Namun sekarang, kita memiliki ketakutan pada hantu yang bersembunyi di balik layar ponsel, sesuatu yang berada sangat dekat dengan wajah kita setiap hari.

Urban legend juga telah mengalami perluasan tema: yang dahulu hanya bermain di genre mistis, sekarang berkembang dan bersinggungan dengan tema "Hoaks" dan "Teori Konspirasi". Pesan yang disampaikan sering kali digunakan untuk memanipulasi opini publik dan menjadi sebuah teror informasi.

Dalam grup WhatsApp, kita sering kali menerima pesan berantai tentang penculikan anak, kabar tentang pembunuhan keluarga, hingga pesan yang berisi isu akan terjadinya bencana, yang tentunya menjadi sebuah pemantik yang memicu ketakutan masyarakat. Urban legend telah berubah fungsi: dari "dongeng sebelum tidur" menjadi "alat teror informasi" yang menyerang lewat notifikasi.

Jika kita masih ingat, cerita legenda urban dahulu diceritakan perlahan dengan bercampur emosi, sehingga intimasi sebuah cerita terbangun secara alami. Komunikasi yang terjadi—dengan melibatkan empati dan kepercayaan—terbangun dengan relatif cepat karena pencerita dan pendengar memiliki sebuah relasi serta mengenal satu sama lain.

Namun di era digital saat ini, rasa takut diringkas menjadi sebuah jumpscare; tidak ada waktu untuk kita merenungi cerita. Kita disajikan langsung dengan suguhan audio visual yang bernuansa mistis dan narasi yang dikemas sedemikian rupa, sehingga intimasi sebuah cerita dibangun secara masif dan instan.

Kini, kita sadar bahwa cerita legenda urban dan kisah mistis telah berevolus. Dulu, sosok hantu identik dengan lokasi keramat ataupun pohon angker, tapi kini telah berpindah ke media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa manusia akan selalu mencari cara untuk mengomunikasikan ketakutannya.

Urban legend lama memberi kita akar pada tempat dan komunitas, sementara urban legend digital memberi kita cermin atas kecemasan kita terhadap teknologi.

Di dunia yang semakin terang oleh layar ponsel, kita tetap butuh "kegelapan" untuk mengingatkan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Hantu-hantu itu tidak hilang, mereka hanya mengganti tempat dari lokasi angker ke dalam notifikasi ponsel kita.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Korban Gempa Pacitan di Bantul Jadi Belasan, Sampai Ada yang Patah Tulang
• 6 jam lalumerahputih.com
thumb
Juda Agung: Penunjukan sebagai wamenkeu tak mendadak
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Ramalan Zodiak Capricorn Bulan Februari 2026
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Irjen Agus Perkuat Silaturahmi dengan Komunitas Ojol di Kota Batu
• 3 jam lalujpnn.com
thumb
KPK Tetapkan Mulyono Purwo Wijoyo Tersangka Korupsi Restitusi Pajak KPP Madya Banjarmasin
• 18 jam lalumerahputih.com
Berhasil disimpan.