FAJAR, JAKARTA-Pengalaman hidup Presiden Prabowo Subianto dinilai menjadi fondasi penting dalam membentuk kepemimpinan yang penuh kehati-hatian. Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti, menegaskan bahwa kepemimpinan Prabowo lahir dari proses panjang, bukan dari ruang kosong.
“Pak Prabowo dibentuk oleh kehidupan yang keras dan penuh perubahan. Ketegasan beliau bukan untuk menekan, melainkan agar negara tidak berjalan dalam kebimbangan,” ujar Azis kepada jaw apos (grup FAJAR), Kamis (5/2).
Sejak kecil, Prabowo mengikuti jejak ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo—seorang ekonom dan pemikir yang hidupnya kerap bersinggungan dengan kekuasaan. Dari sana, ia belajar membaca keadaan, mengambil sikap, dan memahami bahwa kebenaran sering kali tidak populer, namun tetap harus diperjuangkan.
Dari sang ibu, Dora Marie Sigar, Prabowo mewarisi nilai kejujuran, keberanian, dan keterbukaan. Sikap lugas yang kerap ditunjukkannya di ruang publik, menurut Azis, bukan pencitraan, melainkan karakter asli.
Kesadaran tentang tanggung jawab publik juga tumbuh dari kisah keluarga besar, termasuk sang kakek, Margono Djojohadikusumo. “Pak Prabowo memahami bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hadiah,” tegas Azis.
Pilihan Prabowo masuk dunia militer menjadi kelanjutan logis dari pencarian kejelasan hidup. Di sana ia ditempa disiplin, tanggung jawab, dan keberanian mengambil keputusan. Naluri kepemimpinannya terbentuk dari pengalaman memikul konsekuensi atas setiap langkah.
Memasuki dunia politik, Prabowo menyadari bahwa ketegasan harus berjalan seiring dialog dan legitimasi publik. “Memimpin negara demokratis tidak bisa hanya dengan perintah, tetapi juga dengan mendengar,” kata Azis.
Ia menutup dengan penegasan: kepemimpinan Presiden Prabowo bukan hasil instan kekuasaan, melainkan buah dari perjalanan panjang menghadapi perubahan, risiko, dan keputusan sulit. (jpg/*)




