Pemprov DKI Jakarta mencatat keberhasilan keluar dari fase stagnansi pertumbuhan ekonomi di bawah 5 persen pada kuartal III 2025.
Pada kuartal IV 2025, pertumbuhan ekonomi Jakarta melonjak menjadi 5,71%, melampaui rata-rata nasional. Pertumbuhan itu didorong oleh kebijakan insentif pemerintah di sektor jasa seperti akomodasi, makan minum, serta transportasi.
“Yang paling menggembirakan adalah di kuartal keempat kita bisa tumbuh 5,71 persen,” kata Pramono usai agenda High Level Meeting (HLM) Provinsi DKI Jakarta menjelang Ramadan dan HBKN Idul Fitri 1447 H di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Jumat (6/2).
Ia menjelaskan, lonjakan pertumbuhan tidak terlepas dari berbagai kegiatan ekonomi yang digencarkan Pemprov DKI dalam menyambut Natal dan Tahun Baru, yang berdampak langsung pada peningkatan konsumsi masyarakat.
“Karena kegiatan yang kita lakukan dalam rangka menyambut Natal dan Tahun Baru secara signifikan mempengaruhi pola masyarakat di dalam membelanjakan uangnya,” ujarnya.
Pramono mengungkap, dampak kebijakan tersebut tercermin dari nilai transaksi yang mencapai Rp 15,25 triliun dalam satu momentum kegiatan bersama pelaku usaha.
“Dilaporkan bahwa transaksi yang dilakukan terjadi itu Rp 15,25 triliun. Sehingga secara signifikan memberikan kontribusi untuk pertumbuhan Jakarta yang di triwulan ketiga mengalami pertumbuhan mendekati 5 persen dan ini jauh di atas 5 persen,” ucapnya.
Secara keseluruhan, kontribusi ekonomi Jakarta terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada 2025 kembali menguat.
“Di tahun 2025 kontribusi GDP Jakarta kembali mencapai 16,61 persen terhadap GDP nasional,” kata Pramono.
Ia menambahkan, sektor-sektor yang menunjukkan pertumbuhan paling positif sepanjang 2025 adalah sektor yang secara langsung mendapat insentif dari pemerintah daerah.
“Hal-hal yang tumbuh baik di Jakarta selama 2025 adalah hal yang berkaitan dengan penyediaan akomodasi dan makan minum yang berkali-kali kami berikan insentif, pembebasan, dan sebagainya,” ujarnya.
Menurut Pramono, kebijakan insentif tersebut justru mempercepat laju pertumbuhan sektor terkait.
“Ketika diberikan ternyata pertumbuhannya malah menjadi lebih baik,” katanya.
Selain itu, sektor transportasi dan pergudangan serta jasa lainnya juga menjadi penopang utama pemulihan ekonomi Jakarta. Kepala Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta Iwan Setiawan menilai, lonjakan pertumbuhan ini menjadi momentum penting bagi perekonomian Jakarta.
“DKI Jakarta tumbuh jauh lebih baik di atas 5,71 persen dibanding dengan Q3 dan ini merupakan suatu momentum yang sangat baik,” ujar Iwan.
Ia menyebut, Jakarta berhasil keluar dari tekanan pertumbuhan rendah pada kuartal sebelumnya.
“Boleh dikatakan di Q3 itu tumbuh di bawah 5 persen, sekarang bisa melompat 5,71 persen,” katanya.
Iwan menegaskan, capaian tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi Jakarta serta solidnya kolaborasi TPID.
“Ini menunjukkan bahwa perekonomian kita, DKI Jakarta khususnya, resilient dan bisa tumbuh berkelanjutan,” ucapnya.
Ke depan, Pemprov DKI bersama TPID menargetkan pertumbuhan yang berkelanjutan dengan inflasi tetap terkendali.
“Target pemerintah DKI Jakarta di tahun 2026 tetap menargetkan inflasinya lebih rendah daripada yang dipatok oleh pemerintah pusat yaitu 2,5 persen plus-minus 1 persen,” tutur Pramono.




