JAKARTA, KOMPAS.com - Tiga bulan pasca-kasus ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, motif pelaku terungkap.
Anak berkonflik dengan hukum (ABH) yang menjadi tersangka dalam kasus ini mengaku aksinya dilatarbelakangi rasa sakit hati yang dipendam sejak lama.
Sakit hati
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, mengatakan, tersangka merasa tidak diterima oleh lingkungan sekolahnya, bahkan sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).
Tersangka mengaku sering dikucilkan oleh teman-temannya sehingga ia sakit hati.
“Berdasarkan keterangan Anak, motif yang disampaikan adalah rasa sakit hati terhadap lingkungan sekolah, khususnya perlakuan dari sejumlah teman yang dinilai sering mengucilkan,” jelas Budi saat dikonfirmasi, Kamis (5/2/2026).
Baca juga: Motif Ledakan SMAN 72 Jakarta Terungkap, Pelaku Mengaku Sakit Hati karena Dikucilkan
Menurut Budi, tersangka merasa diejek dan direndahkan karena penampilan dan kecenderungannya bergaul dengan teman-teman perempuan.
Rasa sakit hati dan tertekan yang dipupuk lama inilah yang memicu tersangka melakukan perbuatannya.
“Dan situasi serupa berlanjut saat SMA. Atas dasar itu, Anak mengaku kemudian memutuskan untuk melakukan aksi pemboman di sekolah,” kata Budi.
Penyidikan rampung
Polisi pun telah merampungkan penyidikan kasus ini.
Budi mengungkap, kondisi tersangka yang semula dirawat akibat terkena ledakan kini sudah pulih. Tersangka saat ini berada di rumah aman.
Polisi juga telah memeriksa ibunda tersangka yang bekerja di luar negeri.
“Ibu dari ABH telah diperiksa melalui Zoom meeting. Dan kondisi ABH baik dan masih berada di rumah aman,” sebut Budi.
Baca juga: Polisi Limpahkan Berkas Perkara Ledakan SMAN 72 Jakarta ke Kejaksaan
Dengan selesainya pemeriksaan terhadap pelaku, saksi, ahli, hingga barang bukti, penyidik melimpahkan berkas perkara kasus ini kepada kejaksaan untuk diperiksa kelengkapannya.
Kini penyidik tinggal menunggu persetujuan dari pihak kejaksaan untuk melanjutkan perkara ke meja hijau.