CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kinerja sektor jasa keuangan (SJK) nasional masih berada pada jalur positif dan berpotensi berlanjut hingga tahun 2026.
Optimisme tersebut disampaikan dalam kesempatan Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026 di Jakarta, Kamis (4/2). Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica menyatakan keyakinannya terhadap keberlanjutan tren pertumbuhan dengan tetap mencermati tantangan dan peluang yang ada, serta efektivitas kebijakan yang diambil.
Dalam outlook 2026, kredit perbankan diproyeksikan tumbuh sebesar 10–12 persen, didorong oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang diperkirakan berada di kisaran 7–9 persen. Sementara itu, aset program asuransi diperkirakan tumbuh 5–7 persen.
Pertumbuhan juga diproyeksikan terjadi pada subsektor dana pensiun, dengan aset program dana pensiun diperkirakan meningkat 10–12 persen. Adapun aset program penjaminan diperkirakan tumbuh lebih tinggi, yakni 14–16 persen.
Di sektor pembiayaan, piutang perusahaan pembiayaan diproyeksikan tumbuh 6–8 persen. Dari pasar modal, OJK menargetkan penghimpunan dana mencapai Rp250 triliun sepanjang 2026.
Seiring percepatan digitalisasi, total permintaan skor kredit melalui Innovative Credit Scoring diperkirakan mencapai 200 juta permintaan. Nilai transaksi yang disetujui oleh mitra aggregator juga diproyeksikan tumbuh hingga Rp27 triliun. Selain itu, jumlah konsumen aset keuangan digital dan aset kripto (AKD-AK) ditargetkan meningkat 26 persen.
OJK menegaskan akan melakukan review outlook secara berkala agar tetap selaras dengan perkembangan ekonomi nasional. Sinergi kebijakan dengan pemerintah, otoritas moneter, industri jasa keuangan, pelaku usaha, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya dinilai krusial untuk mengoptimalkan peran SJK dalam mendukung perekonomian nasional.
Berdasarkan Laporan Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang digelar pada 28 Januari 2026, stabilitas sektor jasa keuangan dinilai tetap terjaga meski dihadapkan pada dinamika ekonomi global dan domestik.
Lembaga multinasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2026 masih stagnan dan berada di bawah rata-rata historis. Aktivitas perdagangan dan permintaan global menunjukkan pergerakan terbatas, di tengah meningkatnya risiko geopolitik akibat eskalasi ketegangan di Iran. Meski demikian, kebijakan moneter global diperkirakan tetap bersifat akomodatif.
Di Amerika Serikat, perekonomian masih tumbuh solid dengan tekanan inflasi yang mulai mereda. Tingkat pengangguran menurun, meskipun pertumbuhan lapangan kerja melambat. Ke depan, The Fed diperkirakan mempertahankan Fed Fund Rate (FFR) setidaknya hingga Juni 2026.
Di kawasan Asia, perekonomian Tiongkok tumbuh 5,0 persen secara tahunan, sejalan dengan target pemerintah dan ditopang surplus neraca perdagangan yang terus mencetak rekor. Sementara itu, tekanan di pasar obligasi Jepang meningkat, khususnya pada tenor jangka panjang, seiring dominasi kepemilikan asing pada Japanese Government Bond (JGB) yang meningkatkan risiko rambatan global.
Dari sisi domestik, kinerja ekonomi Indonesia terpantau solid. Inflasi headline (CPI) meningkat ke 3,55 persen yoy, dengan inflasi inti naik menjadi 2,45 persen yoy. Indeks Keyakinan Konsumen masih berada di zona optimis, sementara penjualan mobil dan sepeda motor mencatatkan kenaikan signifikan menjelang berakhirnya insentif kendaraan listrik.
Di sisi penawaran, PMI Manufaktur tercatat semakin ekspansif. Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan IV mencapai 5,39 persen, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 5,11 persen, memperkuat optimisme terhadap ketahanan sektor jasa keuangan ke depan.



