jpnn.com - Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menyampaikan analisis soal insiden tragis seorang siswa SD berusia sepuluh tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakhiri hidupnya karena tak mampu atau tidak bisa memiliki buku dan pena seharga Rp 10.000.
Melalui keterangan tertulis, Reza mengatakan sudah menulis tentang bunuh diri anak-anak sejak 23 tahun lalu, salah satunya melalui tulisan "Ajari Ayah ya, Nak" terbitan Serambi tahun 2014.
BACA JUGA: Prabowo Beri Perhatian Khusus pada Kasus Siswa Bunuh Diri di NTT
Kalau mau buka mata, kata Reza, anak-anak yang kesulitan membeli alat tulis adalah fenomena 'biasa'. Lebih parah, banyak yang bahkan sampai tidak bisa bersekolah.
"Lebih parah lagi, banyak yang tidak bisa makan. Tetapi mereka tidak bunuh diri. Jadi, kalau mau buka hati, sesungguhnya bukan masalah anak tidak bisa beli alat tulis yang membuat geger," kata Reza, Kamis (5/2/2026).
BACA JUGA: Pejabat Kemenkeu yang Ditangkap KPK Baru Dilantik Purbaya 28 Januari
Menurut sarjana psikologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, peristiwa menyedihkan sekaligus menakutkan ini sebaiknya diperhatikan oleh Presiden Prabowo Subianto dengan secermat mungkin.
"Sebab, ini kontras dengan gembar-gembor salah kaprah Presiden bahwa Indonesia merupakan negara yang penduduknya paling bahagia sedunia," tutur Reza.
BACA JUGA: Tangkap Hakim di Depok, KPK Sita Uang Ratusan Juta
Tentu, kata Reza, kesedihan (ketidakgembiraan) harus dilihat sebagai spektrum. Bukan biner atau hitam putih. Jadi, ada skala mulai dari yang agak sedih sampai yang paling sedih.
"Pada tingkatan kesedihan terparah, terjadilah keputusasaan yang hanya bisa 'diobati' pelaku dengan mengakhiri hidupnya sendiri," tutur penyandang gelar MCrim dari University of Melbourne Australia itu.
Reza menuturkan bahwa warga yang kesedihannya berada pada level di bawah itu pasti banyak sekali. Namun, apakah kita memperhatikan populasi yang sesungguhnya amat sangat banyak itu? Pasti tidak.
"Kita sudah mati rasa terhadap penderitaan yang baru 'sebatas' itu. Kita hanya terperanjat ketika merespons kesengsaraan terekstrem, seperti yang terjadi pada anak NTT itu," ungkapnya.
Dia kemudian menyodorkan dua simpulan yang boleh dipilih untuk memotret kemalangan berujung tragedi pada bocah NTT itu.
Pertama, bunuh diri merupakan ujung akhir dari duka nestapa yang terus bereskalasi dari waktu ke waktu (kronis). Karena kronis, maka semestinya kematian bisa dicegat jika kita cukup awas mengamati perubahan tabiat anak. Mulai dari pemunculan pemikiran tentang bunuh diri, dan seterusnya. Pusat masalah mereka berada di afeksi atau rasa kasih sayang.
"Kalau simpulan itu yang kita iyakan, maka bisa dibayangkan betapa tingginya risiko anak-anak Indonesia bunuh diri. Mereka yang tidak kunjung bersekolah, mereka yang lapar berkepanjangan, mereka yang penyakitnya semakin parah, bisa dipahami sebagai anak-anak yang terus bergerak menuju titik pembuatan keputusan terekstrem seperti anak NTT tadi," kata Reza.
Simpulan kedua, bunuh diri lebih sebagai wujud depresi reaktif. Mirip depresi, tetapi pemunculannya sekonyong-konyong. Jadi, langsung terbitnya keputusan untuk bunuh diri lebih disebabkan oleh keterbatasan wawasan seseorang untuk menemukan solusi-solusi konstruktif atas persoalan yang saat itu tengah dia hadapi.
Persoalannya -anggaplah- tidak terlalu berat. Tetapi pengetahuannya akan opsi-opsi jalan keluar masih terlalu minim. Jadi, menurut Reza, pokok masalahnya ada pada kognisi.
"Apa pun itu, betapa pilunya kita menangkap warna altruistis pada peristiwa bunuh diri murid SD di NTT itu. Dia mengakhiri hidupnya sendiri guna mengurangi beban hidup orang yang ia sayangi," ungkapnya.
Seketika Reza terbayang suara cempreng Iwan Fals, "Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu. Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu. Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu. Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal."
"Kontras dengan sosok semisal Fufufafa. Andai Fufufafa mau akui betapa beratnya beban yang terpaksa kita tanggung akibat keberadaannya, lalu dia pamit baik-baik, saya bakal cari lagu Iwan Fals yang lebih gembira," kata Reza.(fat/jpnn)
Jangan Lewatkan Video Terbaru:
Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5494727/original/042522600_1770313882-WhatsApp_Image_2026-02-05_at_21.30.09.jpeg)

