Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Bisnis-27 dibuka melemah seiring dengan koreksi indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Jumat (6/2/2026).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks hasil kerja sama Bursa dengan harian Bisnis Indonesia ini turun 1,80% ke 529,16 hingga pukul 09.02 WIB. Tercatat, hanya 1 saham menguat dan 26 saham terkoreksi.
Saham dengan penurunan paling dalam ditempati oleh PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) yang terkoreksi 5,16% menuju level Rp5.975 per saham. Posisi tersebut diikuti saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang turun 4,76% menjadi Rp2.000.
Sementara itu, saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) melemah 4,17% ke Rp230, dan saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) membukukan penurunan sebesar 3,06% menuju level Rp1.745 per saham.
Adapun, satu-satunya saham yang mencetak kenaikan adalah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang meningkat 0,61% ke Rp3.310.
IHSG sendiri melemah 2,37% ke 7.912,20 hingga pukul 09.02 WIB. Hari ini, indeks komposit dibuka pada level 7.945,04 dan sempat ke posisi 7.945,43.
Indeks komposit diprediksi akan bergerak mendatar atau sideways pada perdagangan akhir pekan ini. Sentimen dari kebijakan suku bunga The Fed dan koreksi bursa Asia membayangi rilis data pertumbuhan ekonomi domestik.
Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan memproyeksikan bahwa IHSG akan bergerak pada rentang pivot 8.100 dengan batas resistansi di 8.200 dan dukungan atau support di level 8.000.
Pada perdagangan sebelumnya, Kamis (5/2/2026), IHSG ditutup melemah 0,53% ke level 8.103,88. Meski sempat menyentuh zona hijau, indeks akhirnya terseret sentimen negatif regional dan volatilitas harga komoditas.
Valdy memaparkan pelemahan indeks di bursa Asia, dipimpin oleh indeks Kospi (Korea Selatan) akibat koreksi saham produsen cip. Di sisi lain, harga emas global kembali jatuh di bawah level US$5.000 per troy ounce.
Koreksi komoditas ini dipicu oleh sikap hawkish Gubernur The Fed, Lisa Cook, yang menyatakan belum mendukung penurunan suku bunga tambahan demi memprioritaskan pengendalian inflasi.
"Komentar tersebut, dikombinasikan dengan pencalonan Kevin Warsh sebagai Chairman The Fed berikutnya, menyebabkan investor memprediksi laju pemangkasan suku bunga akan lebih lambat dari perkiraan semula," ujar Valdy.
Di tengah tekanan global, data makroekonomi domestik menunjukkan performa solid. Ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,39% year on year (YoY) pada kuartal IV/2025, melampaui estimasi konsensus sebesar 5,01% YoY.
Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,11% YoY. Angka ini lebih baik dibanding pencapaian 2024 yang sebesar 5,03% YoY, meski masih sedikit di bawah target pemerintah sebesar 5,2% YoY.
Secara teknikal, Valdy mencatat indikator Stochastic RSI menunjukkan adanya sinyal pembalikan di area jenuh jual. Meskipun IHSG masih bertahan di atas garis MA200, posisi penutupan terakhir berada di bawah MA5.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



