Parents, imunisasi dilakulan sebagai upaya agar si Kecil terhindar dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri. Lantas, bagaimana jika anak terlambat imunisasi atau imunisasi tidak lengkap?
Yuk, baca penjelasan lengkapnya di artikel berikut ini!
Artikel Terkait: 17 Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi pada Anak, Cek! Kenapa Imunisasi Penting?Imunisasi sangat penting karena bertujuan untuk membentuk perlindungan atau antibodi tubuh terhadap virus ataupun bakteri spesifik yang terkandung dalam vaksin.
Sehingga, ketika virus atau bakteri masuk, tubuh sudah mengenali bentuk dan karakternya dan membuat perlindungan.
Selain melindungi si Kecil, imunisasi juga melindungi keluarga dan orang-orang di sekeliling hingga dapat mencapai herd immunity (kekebalan kelompok).
Apa Dampak Jika Imunisasi Anak Terlambat atau Tidak Lengkap?Dampak jika imunisasi anak terlambat atau tidak lengkap adalah si Kecil jadi tidak terlindungi dari penyakit sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi.
Berikut adalah dampak jika terlambat imunisasi atau imunisasi tidak lengkap:
1. Anak Lebih Mudah Terserang Penyakit Menular BerbahayaTanpa imunisasi lengkap, tubuh anak tidak memiliki “bekal” antibodi spesifik untuk melawan kuman penyebab penyakit seperti hepatitis B, TBC, polio, difteri, pertusis, tetanus, pneumonia, hingga campak.
Akibatnya, ketika terpapar orang sakit atau lingkungan yang terkontaminasi, tubuh anak tidak siap melawan sehingga lebih mudah jatuh sakit dan gejalanya cenderung lebih berat dibanding anak yang sudah imunisasi.
2. Risiko Komplikasi BeratBeberapa penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi dapat menimbulkan komplikasi serius. Misalnya, kelumpuhan akibat polio, kerusakan otak dan gangguan saraf akibat meningitis, hingga kebutaan setelah infeksi campak berat.
Komplikasi ini terjadi karena kuman dibiarkan berkembang tanpa perlawanan yang cukup kuat dari sistem imun, sehingga merusak organ penting seperti paru, otak, saraf, atau mata dan meninggalkan kecacatan seumur hidup.
3. Gangguan Tumbuh Kembang dan Penurunan Kualitas HidupInfeksi berat berulang (misalnya TBC, pneumonia, meningitis, atau diare berat) dapat mengganggu penyerapan nutrisi, merusak saraf, dan menghambat fungsi otak, sehingga anak berisiko mengalami keterlambatan tumbuh kembang dan kesulitan belajar.
Melansir laman Dinkes Jakarta, dalam jangka panjang, anak yang mengalami cacat fisik atau gangguan mental akibat komplikasi penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan vaksin akan memiliki kualitas hidup yang menurun dan butuh pendampingan jangka panjang.
5. Risiko Tinggi Terkena Campak dan Menularkannya ke Orang LainCampak adalah salah satu penyakit yang sangat menular dan termasuk dalam kelompok penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), sehingga anak tanpa vaksin campak/campak-rubella sangat rentan tertular saat ada kasus di lingkungan.
Selain demam tinggi dan ruam, campak bisa menyebabkan komplikasi seperti diare berat, pneumonia, radang otak, dan malnutrisi, serta dapat menular ke bayi, lansia, atau orang dengan imun lemah sehingga memicu kejadian luar biasa (KLB) di masyarakat.
Artikel Terkait: Imunisasi Campak: Manfaat, Harga dan Efek Samping Pada Anak Bagaimana Cara Mengejar Jika Terlambat Imunisasi?Penting sekali agar orang tua dapat juga berdiskusi dengan tenaga medis yang seharusnya menjadwalkan imunisasi kejar (catch up) dengan benar dan efektif. Adapun cara mengejar imunisasi anak yang terlambat, yaitu:
1. Imunisasi Berdasarkan Kelompok UsiaParents diharap dapat membaca jadwal imunisasi anak sehingga tidak terlewat atau tertinggal.
Orang tua pun juga dapat mencoret apa saja vaksinasi yang sudah diberikan, sehingga dapat terlihat vaksinasi apa yang belum.
Perlu diperhatikan beberapa vaksin yang pemberiannya harus diulang supaya tidak terlewat.
2. Imunisasi Berdasarkan Jenis VaksinBeralih ke Imunisasi berdasarkan jenis vaksin dibuat lebih merinci agar orang tua tahu batas minimal usia pemberian vaksinasi tersebut dan jumlah dosis yang seharusnya diberikan.
Anak yang tertinggal vaksinasinya, jika sudah melewati batas minimal usia pemberian vaksin tersebut, boleh dikejar (catch up) sesegera mungkin agar proteksi maksimal.
“Kesulitan yang sering dihadapi oleh orang tua adalah merek vaksin. Begitu banyak dan bervariasi merek vaksin yang beredar di Indonesia. Bila sudah menggunakan 1 merek diawal, diharapkan kedepannya, terutama untuk jenis vaksinasi yang pemberiannya harus diulang, menggunakan merek yang sama. Mengapa? Karena setiap merek vaksin memiliki komponen yang unik walaupun melindungi jenis penyakit yang sama.,” jelas dr. Linda Levina Dharmawan, Chief Medical Officer Imuni, kepada theAsianparent.
“Menurut literatur, tidak masalah menggunakan vaksin yang berbeda-beda merek pada vaksin yang harus diulang, karena lebih baik menggunakan merek yang berbeda daripada terlambat mendapatkan perlindungan dari vaksinasi.”
“Biasanya terjadi ketika stok vaksin di salah satu fasilitas kesehatan sedang habis. Jadi, tidak masalah menggunakan merek vaksin yang berbeda, namun diusahakan merek yang sama ya,” tambahnya.
Adapun beberapa jenis vaksin untuk anak usia 0-18 tahun, yaitu:
Hepatitis B BCG DTP Hib Polio MR Influenza Campak/Rubella (MMR) Hepatitis A Varicella Japanese Encephalitis (JE) Tifoid PCV Rotavirus“Tidak perlu khawatir mengenai efek samping. Efek samping pasca vaksinasi tidak terjadi pada semua anak. Tergantung respon imun masing-masing anak. Bukan berarti juga anak yang tidak muncul efek samping maka vaksin tidak bekerja. Efek samping pasca vaksinasi mudah diatasi, cepat menghilang dan tidak berbahaya,” terang dr. Linda.
Parents bisa baca juga artikel berikut untuk tahu jadwal imunisasi lengkap dari IDAI terbaru:
Jadwal Imunisasi Bayi Usia 0-24 Bulan Sesuai Arahan Terbaru IDAI
Tips Agar Tidak Lupa atau Terlambat VaksinTak jarang jika Parents sering terlambat melakukan imunisasi anak karena lupa. Untuk itu, ada beberapa tips yang dapat dilakukan para orang tua agar anak tidak lagi terlambat imunisasi antara lain:
1. Ingat Tanggal Lahir AnakTanggal lahir anak penting sekali untuk diingat. Beberapa penyedia layanan kesehatan mungkin akan menanyakan tanggal lahir anak untuk merekomendasikan imunisasi apa yang akan diberikan dan imunisasi selanjutnya.
2. Catat di Buku ImunisasiSetiap Parents harus memiliki buku imunisasi anak. Setidaknya, buku kesehatan ibu dan anak (KIA) untuk mencatat kondisi kesehatan hingga jadwal imunisasi anak.
Dalam buku tersebut, orangtua dapat mengetahui jenis imunisasi apa saja yang sudah dan belum dilakukan, kapan jadwal imunisasi berikutnya, dan catatan-catatan terkait lainnya.
3. Catat di PonselJika buku imunisasi atau buku KIA terkadang sering terselip dan lupa meletakkan di mana, Parents dapat mencatatnya di ponsel.
4. Pasang Alarm PengingatJika semua catatan masih sering terlupakan, Parents diharap mengatur kalender di ponsel kapan imunisasi selanjutnya.
Dengan demikian, tidak ada lagi keterlambatan untuk imunisasi.
Artikel Terkait: Pilih Imunisasi di Puskesmas atau Rumah Sakit? Ini Perbedaannya, Bun!Semoga informasi di atas dapat bermanfaat ya, Parents!
Jika ada imunisasi anak yang terlambat, segera hubungi tempat pelayanan kesehatan untuk melengkapinya.
***
Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. (2022). Anak tidak ikut imunisasi? Ini dampaknya.
https://dinkes.jakarta.go.id/berita/read/anak-tidak-ikut-imunisasi-ini-dampaknya
Nutriclub. (2025). 10 dampak nyata jika anak tidak imunisasi.
https://www.nutriclub.co.id/artikel/imunitas/1-tahun/dampak-tidak-imunisasi
HaloSehat. (2023). Ketahui 7 dampak negatif jika bayi tidak diimunisasi.
https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/imunisasi/akibat-tidak-imunisasi/
Good Doctor. (2022). Imunisasi anak tidak lengkap: Apa dampaknya bagi kesehatan?
https://www.gooddoctor.co.id/parenting/kesehatan-anak/imunisasi-anak-tidak-lengkap-apa-dampaknya-bagi-kesehatan/
Kementerian Kesehatan RI. (2025). Seputar imunisasi.
https://ayosehat.kemkes.go.id/1000-hari-pertama-kehidupan/seputar-imunisasi
Jadwal Vaksinasi Bayi Lengkap Terbaru Menurut Anjuran IDAI
Bolehkah Bayi Diberi Imunisasi Lebih Cepat dari Jadwal? Ini Penjelasan Dokter
Vaksin PCV untuk Bayi dan Anak: Dosis dan Jadwal Terbaru




