Ada Apa di Balik Angka Pertumbuhan Ekonomi 2025?

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Bagaimana profil pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025?
  2. Apa saja kontributornya?
  3. Apa kata Menteri Keuangan?
  4. Apa komentar para ekonom?
  5. Apa catatan pentingnya?
1. Bagaimana profil pertumbuhan ekonomi nasional 2025?

Perekonomian Indonesia tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025, lebih rendah dari target 5,2 persen. Badan Pusat Statistik mengklaim, pertumbuhan aktivitas manufaktur, konsumsi domestik, dan dorongan fiskal menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025.

Produk domestik bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku (ADHB) pada 2025 mencapai Rp 23.821,1 triliun. Dengan basis penghitungan ini, pertumbuhan PDB atau pertumbuhan ekonomi secara tahunan mencapai 5,11 persen.

Ini lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi 2024 sebesar 5,03 persen. Namun ini lebih rendah dari target sebesar 5,2 persen.

Pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan PDB suatu wilayah, dalam hal ini negara. PDB merupakan akumulasi nilai dari konsumsi rumah tangga, investasi, belanja pemerintah, serta ekspor barang dan jasa dikurangi nilai impor.

Konsumsi rumah tangga menjadi basis pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini, mengingat jumlah penduduknya yang besar. Dengan demikian, jika daya beli masyarakat lemah, performa pertumbuhan ekonominya langsung terpengaruh karena performa investasi dan perdagangan belum maksimal.

Baca JugaBerapa Angka Pertumbuhan Ekonomi Nasional 2025?
2. Apa saja kontributornya?

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, dalam konferensi pers pertumbuhan ekonomi 2025 daring di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Kamis (5/2/2026), menjelaskan, sepanjang 2025 terdapat lima lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap perekonomian nasional. Kelima sektor tersebut adalah industri pengolahan atau manufaktur, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan.

Di luar sektor utama tersebut, sejumlah lapangan usaha juga mencatatkan pertumbuhan tinggi. Salah satunya adalah sektor jasa lainnya yang ditopang oleh meningkatnya aktivitas rekreasi, seiring dengan kenaikan jumlah wisatawan Nusantara maupun mancanegara.

”Industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 1,07 persen. Di sisi lain, pertanian memberikan sumber pertumbuhan yang relatif besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Amalia.

Pertumbuhan industri pengolahan terutama didorong oleh permintaan domestik dan permintaan luar negeri yang tetap kuat. Industri makanan dan minuman tumbuh 6,39 persen sepanjang 2025.

Kinerja industri makanan dan minuman tersebut didukung oleh peningkatan produksi beras, minyak kelapa sawit (CPO), dan turunannya, serta terjaganya kapasitas produksi di subsektor pangan.

Sementara itu, industri logam dasar mencatatkan pertumbuhan paling tinggi, yakni 15,71 persen. Pertumbuhan ini sejalan dengan tingginya permintaan ekspor, terutama untuk komoditas besi, baja, dan logam mulia.

”Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional juga tumbuh solid sebesar 8,35 persen. Peningkatan ini ditopang oleh permintaan domestik terhadap bahan kimia dasar serta produk farmasi, khususnya pada segmen obat dan produk kesehatan,” tutur Winny.

Baca JugaDitopang Geliat Manufaktur, Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh 5,11 Persen
3. Apa kata Menteri Keuangan?

Menurut Purbaya, capaian pada triwulan IV tersebut merupakan yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir untuk periode akhir tahun. Perkembangan ini dinilainya sebagai modal awal karena sebagian mesin ekonomi belum sepenuhnya berjalan optimal sepanjang 2025.

”Ini jadi sinyal positif (untuk pertumbuhan ekonomi 2026). Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi lumayan, tumbuh 5,11 persen. Yang penting, arah ekonomi sudah membalik,” ujar Purbaya di kawasan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Kamis (5/2/2026).

Dengan asumsi tersebut, pemerintah menargetkan akselerasi pertumbuhan pada 2026 mendekati 6 persen. Untuk mengejar target itu, Kementerian Keuangan akan mendorong percepatan realisasi belanja negara sejak awal tahun.

”Saya akan lebih banyak jalan-jalan ke kementerian dan lembaga supaya belanja mereka lebih tepat sasaran. Tidak ada efisiensi, yang ada saya ’gebuk-gebuk’ supaya belanja lebih cepat di triwulan pertama dan kedua,” katanya.

Baca JugaPertumbuhan Ekonomi Indonesia Belum Lepas dari Jebakan 5 Persen
4. Apa komentar para ekonom?

Dalam laporan tertulisnya, ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menyebut pertumbuhan ekonomi 2025 mengalami fluktuasi musiman. Berkaca dari 2025, ia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 masih sangat bergantung pada tiga pilar utama, yakni konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi.

Sementara itu, kontribusi sektor eksternal relatif terbatas. Ini disebabkan oleh meningkatnya impor barang modal dan bahan baku seiring menguatnya aktivitas domestik meski neraca perdagangan 2025 masih mencatatkan surplus sebesar 41,05 miliar dolar AS.

Ekonom Bank Permata, Faisal Rachman, menilai, perbaikan permintaan domestik dan konsumsi rumah tangga di akhir 2025 menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi 2025, seiring dengan gencarnya stimulus fiskal dan bantuan sosial pemerintah.

”Sebagian besar indikator awal, termasuk Indeks Keyakinan Konsumen, penjualan ritel, penjualan kendaraan, serta impor barang konsumsi, menunjukkan perbaikan yang merata,” ujarnya.

Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence, Sunarsip berpendapat, berpendapat, pertumbuhan 5 persen saat ini masih berada di bawah lintasan menuju target 8 persen. Untuk itu, diperlukan percepatan ekonomi pada 2026. ”Konsumsi rumah tangga kita masih di bawah 5 persen. Kuncinya ada pada penciptaan lapangan kerja,” katanya.

Pemulihan daya beli kelas menengah diyakini Sunarsip hanya dapat dicapai melalui penciptaan pekerjaan berkualitas, yang pada akhirnya kembali bergantung pada pertumbuhan sektor manufaktur bernilai tambah tinggi.

Baca JugaBelanja Pemerintah Tersendat, Ganggu Proyeksi Pertumbuhan

5. Apa catatan pentingnya?

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai, kinerja ekspor membantu menopang pertumbuhan. Namun, investasi belum menunjukkan penguatan yang konsisten. Melemahnya investasi pada paruh kedua 2025 menjadi sinyal rapuhnya kualitas pertumbuhan.

Secara sektoral, sektor jasa berbasis konsumsi domestik masih menjadi penyangga utama. Sementara sektor pertambangan tertahan oleh normalisasi harga komoditas global, dan industri pengolahan menghadapi tekanan lemahnya investasi serta ketidakpastian permintaan eksternal.

Kondisi itu menegaskan persoalan struktural ekonomi Indonesia. Meski investasi tetap tumbuh, kontribusinya terhadap pertumbuhan produk domestik bruto relatif datar dan belum mampu melampaui peran konsumsi rumah tangga.

Masalah utama terletak pada komposisi dan kualitas investasi. Realisasi investasi masih terkonsentrasi pada sektor pertambangan, pengolahan sumber daya alam tahap awal, serta konstruksi dan infrastruktur fisik. Sektor-sektor ini penting sebagai fondasi ekonomi, tetapi memiliki efek pengganda produktivitas yang terbatas.

Sementara itu, investasi pada manufaktur teknologi menengah–tinggi, industri berbasis riset dan inovasi, serta ekosistem ekspor bernilai tambah masih relatif tertinggal. Akibatnya, setiap kenaikan investasi tidak otomatis menghasilkan lonjakan output atau produktivitas nasional.

Industri manufaktur sendiri masih tumbuh, tetapi lajunya belum melampaui pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Pangsa manufaktur terhadap PDB juga cenderung stagnan dalam satu dekade terakhir, menandakan belum terjadi pendalaman industri.

Sebagian besar aktivitas manufaktur Indonesia masih didominasi pengolahan dasar, perakitan, dan industri padat karya berteknologi rendah. Struktur ini membuat pertumbuhan ekonomi lebih bersifat input-driven (berbasis masukan), bukan productivity-driven (berbasis produktivitas).

Baca JugaPotret Kerentanan di Balik Capaian Ciamik Sektor Pertanian

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tanda Hubungan Akan Segera Berakhir Menurut Para Psikolog
• 1 jam lalubeautynesia.id
thumb
Bos PT Bluray Kabur saat OTT, KPK Ajukan Cekal ke Luar Negeri
• 5 jam laluokezone.com
thumb
Belum Capai Kesepakatan Sama Untar, Ibu Keisya Levronka: Aku Gak Cari Keuntungan
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Harga Emas Antam Hari Ini Anjlok Rp100 Ribu, Jadi Rp2.856.000 per Gram
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
KJRI-BP3MI Kepri dampingi pemulangan 43 PMI deportasi kelompok rentan
• 17 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.