JAKARTA, DISWAY.ID - Waketum PSI, Ronald Aristone Sinaga atau Bro Ron, menegaskan pihaknya telah mengantungi bukti bantuan siswa asal Ngada, NTT, yang diduga diselewengkan.
Bro Ron menegaskan bahwa timnya telah turun langsung ke rumah YBS (10) dan menemukan sejumlah bukti awal.
Hal ini sekaligus membantah klaim Kemendikdasmen yang menyebut siswa yang memilih mengakhiri hidup itu soal bantuan PIP yang diterima korban.
"Soal Siswa NTT, apa yang di press release oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah itu berbeda dengan apa yang saya temukan," kata Bro Ron saat ditemui Disway.id di sela acara IIMS, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 5 Januari 2026.
Bro Ron enggan membeberkan bukti awal itu lebih lanjut. Ia akan memaparkan temuannya melalui rilis resmi bersama Tim Advokasinya yang akan berkunjung ke NTT.
"Nanti temuan saya itu saya akan rilis segera setelah saya ke NTT. Tapi yang pasti, saya sudah ada temuan Oh, temuannya apa? Nanti saya bilang, jangan sekarang Intinya, press release-nya Kementerian Pendidikan Itu tidak akurat tidak akurat 100%," paparnya.
Bro Ron juga menegaskan bahwa pihaknya telah mengerahkan kader PSI ke Ngada untuk mendampingi keluarga YBS. Tim yang dikirim juga akan menginvestigasi sekaligus mengklarifikasi bantuan sosial pemerintah yang diklaim pejabat setempat telah disalurkan.
"Untuk bentuk pendampingan keluarga yang bersambung kan dari PSI semuanya. Kita punya kader Ngada, kemarin saya perintahkan tim saya untuk melakukan penyelidikan. Saya sudah arahkan, tanya ini, tanya ini, tanya ini tanya itu dari hasil pertanyaan-pertanyaan itu dapat jawaban, ya memang mengagetkan dan sebenarnya bikin emosi sih," pungkasnya.
"Tapi nanti aja saya Saya update-nya lagi Ke publik, setelah saya di sana nanti karena saya pengen mendengar sendiri Saya ada rekamannya, tapi saya pengen mendengar sendiri," tutupnya.
Kegagalan SistemSebelumnya, Seorang siswa sekolah dasar (SD) bunuh diri yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi tragedi paling memilukan awal tahun 2026 ini.
Korban diketahui memilih mengakhiri hidup di halaman belakang rumah gubuknya itu, lantaran tak sanggup membeli buku dan pena senilai Rp10.000.
Insiden ini menjadi pengingat sekaligus pukulan telak bagi sistem pendidikan nasional di Indonesia.
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menilai peristiwa ini membuktikan lemahnya perlindungan hak pendidikan anak di Tanah Air. Khususnya minimnya keterlibatan negara.
Hetifah menegaskan, kasus tersebut tidak bisa dipandang sebagai insiden pribadi semata, melainkan cermin kegagalan sistemik dalam menjamin akses pendidikan yang layak, terutama bagi anak dari keluarga miskin.
“Tidak boleh ada satu pun anak Indonesia kehilangan masa depan hanya karena kemiskinan. Buku dan pena adalah kebutuhan paling elementer. Ketika itu pun tak terjangkau, yang gagal bukan anaknya, tapi sistem kita,” kata Hetifah.
- 1
- 2
- »




